INFO HIDUP SEHAT

Rabu, 03 Juli 2013

PENGARUH TERAPI BRAIN GYM SEBGAI UPAYA DEMENSIA PADA LANSIA



PENGARUH TERAPI BRAIN GYM SEBGAI UPAYA DEMENSIA PADA LANSIA
 

BAB 1. PENDAHULUAN
1.       Latar Belakang
Pertambahan jumlah lansia Indonesia, dalam kurun waktu tahun 1990 - 2025, tergolong tercepat di dunia (Kompas, 25 Maret 2002:10). Meningkatnya jumlah lansia akan membutuhkan perawatan yang serius karena secara alamiah lansia itu mengalami penurunan baik dari segi fisik, biologi maupun mentalnya (Nugroho, 2004). Demensia merupakan salah satu penyakit atau gangguan penurunan kemampuan daya ingat & intelektual akibat penuaan, lebih dikenal dengan kepikunan. Seseorang dengan demensia akan mengalami gangguan kognitif sehingga dia cenderung mengalami gangguan dalam berpikir & bekerja. Hal tersebut menyebabkan penurunan kualitas hidup seseorang, terutama lansia yang cenderung mengalami demensia. Oleh karena itu, demensia memerlukan penanganan yang serius karena menyangkut kualitas hidup lansia. Sebelumnya telah diterapkan terapi antara lain: pembatasan diet, kontrol hipertensi, olahraga serta psikofarmakologi sebagai pencegahan maupun penatalaksanaan demensia(Caine & Lyness, 2000). Pemanfaatan terapi Brain gym bisa dijadikan solusi terapi komplementer pada pencegahan demensia pada lansia disamping penatalaksanaan demensia yang ada. Brain gym ini bisa dilakukan oleh semua kalangan, mudah dilakukan dimana & kapan saja serta tanpa biaya. Namun, sampai saat ini pengaruh terapi Brain gym pada pencegahan demensia masih belum dijelaskan.
Indonesia adalah termasuk negara yang memasuki era penduduk berstruktur lanjut usia (aging structured population) karena jumlah penduduk yang berusia 60 tahun ke atas sekitar 7,18%. Jumlah penduduk lansia pada tahun 2006 sebesar kurang lebih 19 juta dengan usia harapan hidup 66,2 tahun, pada tahun 2010 diperkirakan sebesar 23,9 juta (9,77%) dengan usia harapan hidupnya 67,4 tahun, dan pada tahun 2020 diperkirakan sebesar 28,8 juta (11,34%) dengan usia harapan hidup 71,1 tahun. (Menkokesra, 2008). Berdasarkan sejumlah hasil penelitian diperoleh data bahwa dimensia seringkali terjadi pada usia lanjut yang telah berumur kurang lebih 60 tahun. Sampai saat ini diperkirakan +/- 30 juta penduduk dunia mengalami Demensia dengan berbagai sebab (Oelly Mardi Santoso, 2002).
Demensia merupakan kondisi gangguan fungsi intelektual & kemampuan ingatan. Demensia dianggap sebagai penyakit penuaan, banyak anggapan masyarakat bahwa lansia itu cenderung akan pikun dan terjadi gangguan dalam berpikir sehingga tidak bisa berproduktivitas lagi. Kondisi ini tentu saja menarik untuk dikaji dalam kaitannya dengan masalah demensia. Betapa besar beban yang harus ditanggung oleh negara atau keluarga jika masalah demensia tidak disikapi secara tepat dan serius, sehubungan dengan dampak yang ditimbulkannya. Mengingat bahwa masalah demensia merupakan masalah masa depan menyangkut kualitas hidup seseorang yang mau tidak mau akan dihadapi dan memerlukan pendekatan holistik karena umumnya lanjut usia (lansia) mengalami gangguan berbagai fungsi organ dan mental.
Masalah demensia atau gangguan intelektual dan daya ingat  pada lansia                                                                                                                                                                                                                    tentunya perlu segera diatasi. Salah satu cara atau metode untuk mengatasi demensia adalah penggunan terapi brain gym atau lebih dikenal dengan senam otak. Brain gym merupakan sejumlah gerakan sederhana yang dapat menyeimbangkan setiap bagian – bagian otak dan merupakan metode  atau program pelatihan untuk melatih otak kanan & kiri sehingga dapat melatih otak & sel saraf yang berkontribusi pada intelegensi dan memori seseorang. Awalnya brain gym banyak digunakan sebagai metode pelatihan pada anak untuk meningkatkan daya ingat dalam belajar. Hal tersebut berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh salah satu mahasiswi UIN mengenai “Efektivitas Brain Gym Dalam Meningkatkan Daya Ingat Siswa di TK & Playgroup Kreatif Primagama Malang”. Namun metode Brain gym ini bisa dilakukan oleh segala umur yaitu anak – anak , lansia, dewasa maupun remaja. Brain gym atau olahraga otak sama pentingnya seperti olahraga tubuh, tidak hanya tubuh yang butuh latihan tetapi otak juga memerlukan latihan untuk menjaga kualitas kesehatan otak yaitu salah satunya mencegah adanya gangguan dalam intelegensi dan daya ingat. Dengan demikian, terapi Brain gym tentu bisa meningkatkan kualitas kesehatan lansia sehingga kualitas hidup lansia pun juga akan meningkat.

2.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah dalam Karya Tulis kami adalah “Bagaimana pengaruh terapi brain gym dalam mencegah demensia pada lansia?”.

1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Menjelaskan pengaruh terapi Brain Gym sebagai upaya mencegah demensia pada lansia.

1.3.2 Tujuan Khusus
1. Menjelaskan terapi alternative brain gym sebagai upaya pencegahan demensia pada lansia.
2. Menjelaskan pengaruh terapi brain gym dalam pencegahan demensia pada lansia.

1.4 Manfaat Penulisan
1. 4.1 Manfaat Teoritis
Sebagai wacana bagi masyarakat maupun dunia keperawatan mengenai pemanfaatan terapi Brain gym sebagai upaya pencegahan demensia atau kepikunan pada lansia.

1.4.2 Manfaat Praktik
Manfaat bagi tenaga kesehatan : Dapat menambah khasanah pengetahuan mengenai terapi Brain gym dalam pencegahan demensia pada lansia.
Manfaat bagi keluarga & masyarakat : Mengetahui bahwa terapi brain gym yang digunakan untuk mencegah demensia pada lansia.
Manfaat bagi lansia : Memanfaatkan terapi Brain gym sebagai upaya pencegahan demensia. Mengetahui dan dapat melakukan gerakan-gerakan Brain gym dengan benar.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
1.         Konsep Lansia
2.1.1 Pengertian Lansia
Lansia bukan suatu penyakit, namun merupakan tahap lanjut dari suatu proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan stress lingkungan (Pudjiasti & Utomo, 2003). Walaupun bukan merupan suatu penyakit, tetapi kondisi ini dapat menimbulkan masalah yang dapat mempengaruhi kehidupan lansia.

2.1.2 Batasan Usia Lansia
Banyak pendapat mengenai batasan umur pada lansia. Berikut salah satu pendapat mengenai batasan usia lansia menurut WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), yaitu : 1) Middle Age / usia pertengahan   : 45-49 tahun, 2) Elderly Age / usia lanjut : 60-74 tahun, 3) Old Age / usia lanjut tua: 72-90 tahun, 4) Very Old /  usia sangat tua: 90 tahun.

2.1.3 Perubahan-Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia
Perubahan yang terjadi pada lansia antara lain perubahan-perubahan pada fisik, mental dan psikososial (Nugroho,2000). Padas sel terjadi penurunan jumlah dan ukurannya lebih besar, mekanisme perbaikan sel terganggu, berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intrasel, jumlah sel otak menurun dan otak menjadi atrofis beratnya berkurang 5-10%. Pada sistem persyarafan terjadi pengecilan syaraf panca indera sehingga mengakibatkan berkurangnya fungsi panca indera. Selain itu terjadi penurunan fungsi juga pada system tubuh yang lain.




2.2.5 Penyakit yang sering dijumpai pada lansia
Macam-macam penyakit yang sering dijumpai pada lansia menurut “The National Old People’s Welfare Council”, terdapat dua belas gangguan umum pada lansia meliputi: 1) Depresi mental, 2) Gangguan pendengaran, 3) Bronkitis kronis, 4) Gangguan pada tungkai Gangguan pada koksa atau sendi panggul, 5) Anemia, 6) Demensia, 7) Gangguan penglihatan, 8) Ansietas, 7) Dekompensasi kordis, 8) Diabetes Melitus, osteomalasia dan hipotiroidisme, 9) Gangguan pada defekasi.

1.         Konsep Demensia
2.2.1 Pengertian Demensia
Menurut WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) dan Asosiasi Psikogeriatrik Amerika, Demensia adalah kehilangan kemampuan intelektual, termasuk daya ingat yang cukup parah sehingga mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan yang diakibatkan dari gangguan di otak.

2.2.2 Penyebab Demensia
   Menurut Harianti (2008: 9), berdasarkan persepsi yang berkembang di masyarakat, dengan bertambahnya usia, seseorang akan bertambah menjadi pelupa atau demensia, tidak kreatif dan tidak bisa bekerja lagi. Hal ini tentu saja tidak benar. Demensia sebenarnya bukan karena faktor usia orang menjadi pikun. Beberapa faktor penyebab demensia antara lain sering mengonsumsi jenis obat tertentu, penyakit, gizi yang kurang baik dan memercayai anggapan yang beredar bahwa usia yang menua akan membuat seseorang menjadi pelupa atau demensia.
Ahli saraf dari Jepang, Dr Nozomi Okamoto dalam penelitian terbarunya mengungkap bahwa kondisi kesehatan gusi yang merupakan penyebab gigi tanggal berhubungan erat dengan risiko kepikunan. Ia menyimpulkan hal itu setelah meneliti 6.000 lansia berusai 65 tahun ke atas. Infeksi yang terjadi di gusi dapat menyebabkan senyawa tertentu yang memicu radang yang bisa terbawa oleh aliran darah menuju tempat lain termasuk otak, kemudian menyebabkan radang di jaringan tersebut. Radang yang terjadi di jaringan otak dapat menyebabkan kematian sel-sel saraf yang hampir seluruhnya berpusat di sana. Kerusakan pada saraf-saraf memori dan kognitif adalah penyebab utama terjadinya demensia pada orang dewasa maupun lansia.

1.               Angka kejadian Demensia pada lansia
Bertambahnya usia memang membawa akibat menurunnya kemampuan memori secara wajar dan dianggap tidak ada kaitannya dengan demensia. Berbagai penelitian menemukan angka kejadian demensia sebesar 35 persen pada usia di atas 65 tahun. Ada pula studi yang menemukan angka kejadian 39 persen pada usia 50-59 tahun, dan 85 persen pada usia di atas 80 tahun (Suara Merdeka, 30-06-2010).

2.2.4 Gejala Demensia
Gejala Demensia menurut American Academy Family Physicians (2001):
1.       Hilang ingatan baru-baru ini, tidak hanya sekedar lupa
2.       Lupa kata-kata atau tata bahasa yang tepat
3.       Perasaan berubah-ubah (moody), kepribadian mendadak berubah, atau mendadak tidak berminat untuk melakukan suatu aktivitas
4.       Tersesat atau tidak ingat jalan pulang ke rumah
5.       Tidak ingat cara mengerjakan tugas sehari-hari

2.               Pencegahan Demensia
Beberapa cara untuk mencegah pikun adalah: berolahraga fisik, makan makanan yang sehat untuk tubuh dan otak, selalu aktif berpikir dengan cara membaca, menulis, melukis atau kegiatan berpikir lainnya, tidur teratur dan cukup, melindungi otak dari ancaman cedera atau yang lainnya.

2.2.5 Penatalaksanaan Demensia
Dalam penanganan menurut A. Tjahyanto dan Surilena (2009), Tujuan utama penanganan demensia adalah agar penderita dapat mengoptimalkan kemampuan yang masih ada serta memperbaiki kualitas hidupnya,terapi farmakologis dan terapi non farmakologis yang diterapkan dapat menghambat progresivitas demensia . Terapi farmakologis berupa asetilkolinesterase inhibitor (AChE-inhibitor atau penghambat asetilkolinesterase), yang memperbaiki sistem kolinergik kerja otak melalui peningkatan konsentrasi ACh. Telah terbukti bahwa pasien demensia mengalami penurunan ACh (asetilkolin) di korteks otak secara progresif. Di balik kehebatan ACh-E inhibitor itu, tentunya terdapat pula kelemahan. Di samping, efek samping yang sering terjadi akibat mengkonsumsi obat seperti mual, muntah, diare, penurunan berat badan, dan ketidakmampuan menjaga keseimbangan tubuhnya, AChE-inhhibitor tidak dapat menghentikan progresivitas perburukan demensia di tingkat selular. Selain itu, AChE inhibitor tidak mampu memperbaiki degenerasi saraf kolinergik otak, yang terus berlangsung selama pasien mengalami demensia. Obat ini hanya mampu memperlambat di samping meningkatkan perangsangan motorik melalui peningkatan neurotransmitter ACh dalam darah. Hingga saat ini, terapi farmakologis telah dijelaskan di atas belum mampu memperbaiki NFTs dan SPs dalam sel otak demensia. Sedangkan terapi non-farmakologis. Tiga bentuk terapi non-farmakologis pasien-pasien demensia adalah: 1) managing the family, 2) managing the environment, 3) mananging the patient. Tujuan penatalaksaan non-farmakologis dimaksudkan untuk memperbaiki orientasi realitas pasien, memodifikasi perilaku, membantu keluarga dalam pembuatan program aktivitas harian.

2.         Konsep Terapi Brain Gym
2.3.1 Pengertian Terapi Brain Gym
Terapi Brain Gym adalah senam otak yang bertujuan untuk memicu otak agar tidak kehilangan daya intelektualnya dan awareness-nya. Senam otak adalah  senam ringan yang dilakukan dengan gerakan menyilang, agar terjadi harmonisasi dan optimalisasi kinerja otak kanan dan otak kiri. (Budhi, 2010). sedangkan Brain gym menurut Dennison (2008) adalah program pelatihan otak yang dikembangkan oleh Paul E. Dennison dan Gail E. Dennison sejak tahun 1970. Program ini awalnya dirancang untuk mengatasi gangguan belajar pada anak-anak dan orang dewasa.

2.3.2 Mekanisme Kerja Brain Gym
Brain gym dapat dilakukan oleh orang lanjut usia (lansia). Pada umumnya, lansia mengalami penurunan kemampuan otak dan tubuh. Penurunan inilah yang membuat lansia mudah sakit, tidak kreatif, tidak bisa bekerja lagi dan mundurnya fungsi intelektual berupa mudah lupa atau sampai pada kemunduran yang ditandai dengan kepikunan. Meski demikian, penurunan ini bisa diperbaiki dengan brain gym. Brain gym dapat mengaktifkan otak pada tiga dimensi, yakni lateralitas-komunikasi, pemfokusan-pemahaman dan pemusatan-pengaturan. Brain gym tidak saja akan memperlancar aliran darah dan oksigen ke otak, tetapi juga gerakan-gerakan yang bisa merangsang kerja dan berfungsinya otak secara optimal. Pada Brain gym akan didapatkan kebugaran otak yang ditandai dengan aliran darah menuju otak lancar atau pasokan Volume O2 maksima memadai. Volume O2 maksimal merupakan kemampuan pengambilan oksigen oleh jantung dan paru-paru, sehingga aliran darah ke semua jaringan tubuh termasuk otak lebih banyak dan mempengaruhi otak untuk bekerja maksimal. Dengan melakukan brain gym kualitas hidup lansia pun akan semakin meningkat (Ag Masykur & Fathani, 2008: 124).

2.3.3 Waktu yang Dibutuhkan dalam Brain Gym      
Brain gym juga sangat praktis, karena bisa dilakukan di mana saja, kapan saja oleh siapa saja khususnya lansia. Porsi latihan yang tepat adalah sekitar 10-15 menit, sebanyak 2-3 kali dalam sehari.


1.              Batasan Usia dalam Brain Gym
Brain gym tidak saja berguna untuk lansia, tetapi juga segala umur. (Ag Masykur & Fathani, 2008: 124).

2.3.5 Aturan dalam Brain Gym
Menurut Ag Masykur & Fathani (2008:132) sebelum lansia memulai brain gym, ia harus menjalani PACE. PACE adalah empat keadaan yang diperlukan, untuk dapat belajar dan berpikir dengan menggunakan seluruh otak. PACE merupakan singkatan dari positif, aktif, clear (jelas) dan energetis. Untuk menjalankan PACE ini, harus memulainya dengan energetis (minum air), clear (melakukan pijat saklar otak), aktif (melakukan gerakan silang), positif (melakukan kiat rileks) dan dilanjutkan dengan gerakan-gerakan senam yang lain.

2.2.5 Macam-macam Gerakan Brain Gym
Denisson (2008:1) mengatakan bahwa otak dibagi ke dalam 3 ( tiga ) fungsi yakni
1.     Dimensi Lateralis
a.     Gerakan Silang (Cross Crawl)
Cara melakukan gerakan : Menggerakkan tangan kanan bersamaan dengan kaki kiri dan kaki kiri dengan tangan kanan. Bergerak ke depan, ke samping, ke belakang, atau jalan di tempat. Untuk menyeberang garis tengah sebaiknya tangan menyentuh lutut yang berlawanan. Fungsinya : Meningkatkan koordinasi kiri/kanan, memperbaiki pernafasan dan stamina, memperbaiki koordinasi dan kesadaran tentang ruang dan gerak, dan memperbaiki pendengaran dan penglihatan.
b.     Delapan Tidur (Lazy 8)
Cara melakukan gerakan : Gerakan dengan membuat angka delapan tidur di udara, tangan mengepal dan jari jempol ke atas, dimulai dengan menggerakkan kepalan ke sebelah kiri atas dan membentuk angka delapan tidur. Diikuti dengan gerakan mata melihat ke ujung jari jempol. Buatlah angka 8 tidur 3 kali setiap tangan dan dilanjutkan 3 kali dengan kedua tangan. Fungsinya : melepaskan ketegangan mata, tengkuk, dan bahu pada waktu memusatkan perhatian dan meningkatkan kedalaman persepsi, meningkatkan pemusatan, keseimbangan dan koordinasi.
c.     Coretan Ganda (Double doodle)
Cara melakukan gerakan : Menggambar dengan kedua tangan pada saat yang sama, ke dalam, ke luar, ke atas dan ke bawah. Coretan ganda dalam bentuk nyata seperti : lingkaran, segitiga, bintang, hati, dan sebagainya. Lakukan dengan kedua tangan.
Fungsinya : kesadaran akan kiri dan kanan, memperbaiki penglihatan perifer, kesadaran akan tubuh, koordinasi, serta keterampilan khusus tangan dan mata, memperbaiki kemampuan olahraga dan keterampilan gerakan.

2.     Dimensi Pemfokusan
a.     Burung Hantu (The Owl)
Cara melakukan gerakan : Urutlah otot bahu kiri dan kanan. Tarik napas saat kepala berada di posisi tengah, kemudian embuskan napas ke samping atau ke otot yang tegang sambil relaks. Ulangi gerakan dengan tangan kiri.
Fungsinya : melepaskan ketegangan tengkuk dan bahu yang timbul karena stress, menyeimbangkan otot leher dan tengkuk (Mengurangi sikap tubuh yang terlalu condong ke depan), dan menegakkan kepala (Membantu mengurangi kebiasaan memiringkan kepala atau bersandar pada siku).
b.     Mengaktifkan Tangan (The Active Arm)
Cara melakukan gerakan : luruskan satu tangan ke atas, tangan yang lain ke samping kuping memegang tangan yang ke atas. Buang napas pelan, sementara otot-otot diaktifkan dengan mendorong tangan keempat jurusan (depan, belakang, dalam dan luar), sementara tangan yang satu menahan dorongan tersebut. Fungsinya : peningkatan fokus dan konsentrasi tanpa fokus berlebihan, pernafasan lebih lancar dan sikap lebih santai, dan peningkatan energi pada tangan dan jari
c.     Lambaian Kaki (The Footflex)
Cara melakukan gerakan : cengkeram tempat-tempat yang terasa sakit di pergelangan kaki, betis dan belakang lutut, satu persatu, sambil pelan-pelan kaki dilambaikan atau digerakkan ke atas dan ke bawah. Fungsinya : sikap tubuh yang lebih tegak dan relaks, lutut tidak kaku lagi,dan kemampuan berkomunikasi dan memberi respon meningkat.
d.     Luncuran Gravitasi (The Gravitational glider)
Cara melakukan gerakan :Duduk di kursi dan silangkan kaki. Tundukkan badan dengan tangan ke depan bawah, buang nafas waktu turun dan ambil nafas waktu naik. Ulangi 3 x, kemudian ganti kaki. Fungsinya : merelaksasikan daerah pinggang, pinggul dan sekitarnya, tubuh atas dan bawah bergerak sebagai satu kesatuan.
e.     Pasang kuda-Kuda (Grounder)
Cara melakukan gerakan : Mulai dengan kaki terbuka. Arahkan kaki kanan ke kanan, dan kaki kiri tetap lurus ke depan. Tekuk lutut kanan sambil buang napas, lalu ambil napas waktu lutut kanan diluruskan kembali. Pinggul ditarik ke atas. Gerakan ini untuk menguatkan otot pinggul (bisa dirasakan di kaki yang lurus) dan membantu kestabilan punggung. Ulangi 3x, kemudian ganti dengan kaki kiri. Fungsinya : keseimbangan dan kestabilan lebih besar, konsentrasi dan perhatian meningkat, dan sikap lebih mantap dan relaks.

3.     Dimensi Pemusatan
a.    Air (Water)
Air merupakan pembawa energi listrik yang sangat baik. Dua per tiga tubuh manusia terdiri dari air. Air dapat mengaktifkan otak untuk hubungan elektro kimiawi yang efisien antara otak dan sistem saraf, menyimpan dan menggunakan kembali informasi secara efisien. Minum air yang cukup sangat bermanfaat sebelum menghadapi test atau kegiatan lain yang menimbulkan stress. Kebutuhan air adalah kira-kira 2 % dari berat badan per hari. Fungsinya : konsentrasi meningkat (mengurangi kelelahan mental), melepaskan stres, meningkatkan konsentrasi dan keterampilan sosial, kemampuan bergerak dan berpartisipasi meningkat, koordinasi mental dan fisik meningkat (Mengurangi berbagai kesulitan yang berhubungan dengan perubahan neurologis).
b.    Sakelar Otak (Brain Buttons)
Cara melakukan gerakan :Sakelar otak (jaringan lunak di bawah tulang selangka di kiri dan kanan tulang dada), dipijat dengan satu tangan, sementara tangan yang lain memegang pusar. Fungsinya: keseimbangan tubuh kanan dan kiri, tingkat energi lebih baik, memperbaiki kerjasama kedua mata (bisa meringankan stres visual, juling atau panoangan yang terus-menerus), dan otot tengkuk dan bahu lebih relaks.
c.    Tombol Bumi (Earth Buttons)
Cara melakukan gerakan : Letakkan dua jari dibawah bibir dan tangan yang lain  di pusar dengan jari menunjuk ke ba-wah.Ikutilah dengan mata satu garis dari lantai ke loteng dan kembali sambil bernapas dalam-dalam. Napaskan energi ke atas, ke tengah-tengah badan. Fungsinya : kesiagaan mental (Mengurangi kelelahan mental), kepala tegak (tidak membungkuk), dan pasang kuda-kuda dan koordinasi seluruh tubuh.
d.    Tombol imbang (Balance Buttons)
Cara melakukan gerakan : Sentuhkan 2 jari ke belakang telinga, di lekukan tulang bawah tengkorak dan letakkan tangan satunya di pusar. Kepala sebaiknya lurus ke depan, sambil nafas dengan baik selama 1 menit. Kemudian sentuh belakang kuping yang lain. Fungsinya : perasaan enak dan nyaman, mata, telinga dan kepala lebih tegak lurus pada bahu, dan mengurangi fokus berlebihan pada sikap tubuh
e.    Tombol Angkasa (Space Buttons)
Cara melakukan gerakan : Letakkan 2 jari di atas bibir dan tangan lain pada tulang ekor selama 1 menit, nafaskan energi ke arah atas tulang punggung. Fungsinya : kemampuan untuk relaks, kemampuan untuk duduk dengan nyaman, lamanya perhatian meningkat.
f.     Pasang Telinga (The Tinking Cap)
Cara melakukan gerakan: Pijit daun telinga pelan-pelan, dari atas sampai ke bawah 3x sampai dengan 5x.
 Fungsinya : energi dan nafas lebih baik, otot wajah, lidah dan rahang relaks, fokus perhatian meningkat, dankeseimbangan lebih baik.
g.    Kait relaks (Hook-Ups)
Cara melakukan gerakan : Pertama, letakkan kaki kiri di atas kaki kanan, dan tangan kiri di atas tangan kanan dengan posisi jempol ke bawa, jari-jari kedua tangan saling menggenggam, kemudian tarik kedua tangan ke arah pusat dan terus ke depan dada. Tutuplah mata dan pada saat menarik napas lidah ditempelkan di langit-langit mulut dan dilepaskan lagi pada saat menghembuskan napas. Tahap kedua, buka silangan kaki, dan ujung-ujung jari kedua tangan saling bersentuhan secara halus, di dada atau dipangkuan, sambil bernapas dalam 1 menit lagi. Fungsinya : keseimbangan dan koordinasi meningkat, perasaan nyaman terhadap lingkungan sekitar (Mengurangi kepekaan yang berlebihan), dan pernafasan lebih dalam.
h.    Titik Positif (Positive Point)
Cara melakukan gerakan: Sentuhlah titik positif dengan kedua ujung jari tangan selama 30 detik sampai dengan 30 menit. Fungsinya : mengaktifkan bagian depan otak guna menyeimbangkan stres yang berhubungan dengan ingatan tertentu, situasi, orang, tempat dan ketrampilan, menghilangkan refleks.

1.              Kelebihan Terapi Brain Gym
Banyak kelebihan dari terapi Brain gym, beberapa antara lain : Memungkinkan belajar dan bekerja tanpa stress, dapat dipakai dalam waktu singkat (kurang dari 5 menit), tidak memerlukan bahan atau tempat khusus, dapat dipakai dalam semua situasi, meningkatkan kepercayaan diri, menunjukkan hasil dengan segera.

Tabel 2.1 Gambar Gerakan Dimensi Lateralis

Gerakan Silang
Gerakan 8 Tidur (Lazy 8)
Coretan Ganda

Tabel 2.2 Gambar Gerakan Dimensi Pemfokusan
Burung Hantu
Mengaktifkan Tangan (The Active Arm)
Lambaian kaki
(The Footlex)
Luncuran kaki
Pasang Kuda - kuda

Tabel 2.3 Gambar  Gerakan Dimensi Pemusatan
Air (Water)
Sakelar otak
Tombol bumi
Tombol Imbang
Tombol angkasa
Pasang telinga
Kait relaks
Titik positif
BAB 3
METODE PENULISAN
1.         Jenis Penulisan
Dengan memperhatikan tujuan penulisan, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif. Penulisan ini dilakukan dengan tujuan untuk memaparkan dan menjelaskan sejumlah masalah yang terkait dengan mengeksplorasi teori serta data kepustakaan.

2.         Fokus Penulisan
Menurut Lexy J Moleong (1993:297), fokus penulisan adalah penetapan masalah yang menjadi pusat perhatian penulisan. Melalui penetapan fokus penulisan akan dapat membatasi studi agar terkonsentrasi. Adapun fokus dalam penulisan ini adalah : Pemanfaatan terapi Brain gym sebagai upaya pencegahan demensia atau kepikunan pada lansia.

1.         Sumber Data
Sumber data penulisan karya tulis ini adalah data sekunder yang bersumber dari jurnal, literatur buku, situs internet, dan dokumen lain yang releven dengan obyek penulisan yang bersangkutan.

2.         Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan ini adalah dokumentasi. Teknik dokumentasi merupakan suatu teknik pengumpulan data dari dokumen, literature, arsip termasuk internet sesuai dengan masalah yang diteliti.

3.         Analisa Data
Data yang diperoleh dianalisis dengan analisa data sekunder. Data - data yang sudah dikumpulkan kemudian diseleksi dan diklasifikasikan menurut fokus penulisan. Selanjutnya data diolah dengan melakukan penggalian teori, pemikiran dan penafsiran.
BAB 4
PEMBAHASAN
Proses menua adalah proses alamiah yang akan dialami oleh semua makhluk hidup. Fenomena menua juga terjadi pada sel – sel otak karena usia yang makin bertambah maka membuat sel-sel otak juga mulai menua. Pada usia lanjut usia, bagian otak yang rusak bisa mencapai 5-10 persen pertahun (Jumraini ,2010). Akibatnya. Proses proses berpikir menjadi lamban, sulit berkonsentrasi dan kemampuan daya ingat menurun. Banyak anggapan bahwaorang yang telah lanjut usia akan menjadi pikun atau mudah lupa, sulit berkonsentrasi, tidak kreatif lagi & tidak bisa bekerja.
Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Daya ingatan, pemikiran, tingkah laku dan emosi mengalami gangguan bila mengalami demensia. Gangguan memori merupakan gejala awal yang mencolok pada demensia. Demensia sebenarnya dapat terjadi pada semua usia dan latar belakang pendididikan maupun budaya, tergantung penyebabnya. Demensia sebenarnya merupakan penyakit akibat penuaan, karena sekitar 5% dari seseorang yang mencapai usia 65 tahun mengalami demensia. Masalah demensia tentunya perlu dikaji, dicegah & ditatalaksanai segera karena terkait masalah masa depan pada seseorang. Meskipun demensia dianggap sebagai penyakit penuaan, namun sebisa mungkin demensia bisa dicegah sedini mungkin. Demensia terkait dengan gangguan ingatan & itelektual yang melibatkan otak & sel-sel saraf. Otak yang mengatur proses ingatan manusia. Otak mengatur stimulus – stimulus ingatan yang berasal dari luar tubuh manusia. Informasi tersebut berjalan melalui saraf-saraf yang terdapat pada tubuh manusia. Saraf-saraf tersebut mengirim informasi ke otak. Otak menjadi pusat belajar sehingga belahan otak harus “diseimbangkan” dan dilatih secara optimal.
Cara untuk mengoptimalkan fungsi otak dalam hal ini alternatif solusi yang ditawarkan adalah konsep senam otak (brain gym). Brain gym merupakan metode atau pelatihan untuk menstimulasi otak kanan & kiri dengan melakukan serangkaian gerakan sederhana.  Senam otak sebenarnya dapat dilakukan oleh segala umur baik lansia, dewasa, remaja maupun anak-anak. Selain itu juga bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Berikut akan kami jelaskan mengenai pengaruh terapi Brain gym sebagai upaya pencegahan demensia pada lansia.

4.1 Mekanisme Terapi Brain gym                                  
Pada lansia, demensia menyebabkan penurunan kemampuan otak terutama ingatan. Meskipun demikian, penurunan tersebut bisa diperbaiki dengan senam otak (Brain gym). Gerakan brain gym tidak saja akan memperlancar aliran darah dan oksigen ke otak, tetapi juga merangsang kedua belahan otak. Selain itu, bisa membantu menyeimbangkan kedua belahan otak untuk bekerja, mempertajam konsentrasi, bahkan meningkatkan kreatifitas & percaya diri. Otak merupakan organ vital pada manusia yang sering digunakan, oleh karena itu perlu direlaksasi dengan menyuplai oksigen  ke otak dengan dilakukannya gerakan senam otak.
Senam otak dapat mengaktifkan otak pada tiga dimensi yakni lateralis-komunikasi, pemfokusan-pemahaman dan pemusatan-pengaturan. Banyak manfaat yang bisa diperoleh dengan melakukan gerakan Brain gym. Gerakan – gerakan ringan melalui olah tangan & kaki dapatmemberikan rangsangan atau stimulus pada otak. Gerakan yang menghasilkan stimulus itulah yang dapat meningkatkan kognitif (konsentrasi, memori, persepsi, kreativitas & pemecahan masalah), meningkatkan keseimbangan antara emosi dan logika, mengoptimalkan fungsi pancaindera. Selain itu, senam otak juga meningkatkan daya ingat & pengulangan kembali, meningkatkan ketajaman pendengaran & peningkatan kualitas memori. Dengan melakukan senam otak, kepikunan atau demensia yang sering menyerang pada lansia akan bisa dicegah secara dini. Dengan demikian, kualitas  hidup lansia akan semakin meningkat.








BAB 5
PENUTUP
5.1  Kesimpulan
            Lansia bukan suatu penyakit, namun merupakan tahap lanjut dari suatu proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan stress lingkungan (Pudjiasti & Utomo, 2003). Salah satu masalah yang dapat mempengaruhi kualitas hidup lansia adalah demensia yang lebih dikenal dengan kepikunan. Untuk mencegah demensia pada lansia  tersebut, solusi yang dapat ditawarkan adalah dengan melakukan brain gym. Brain gym bisa dilakukan kapan pun, dimana pun  dan gerakan brain gym sederhana dan mudah untuk dilakukan. Macam-macam gerakan brain gym adalah 1) dimensi lateralis (gerakan silang, 8 tidur (lazy 8),  coretan ganda, 2) dimensi pemfokusan ( burung hantu, mengaktifkan tangan, lambaian kaki ), 3) dimensi pemusatan ( Air (water), sakelar otak, tombol imbang, tombol angkasa, pasang telinga, kait relaks.
Brain gym berpengaruh terhadap pencegahan demensia pada lansia karena gerakan brain gym tidak saja akan memperlancar aliran darah dan oksigen ke otak, tetapi juga merangsang kedua belahan otak. Selain itu, bisa membantu menyeimbangkan kedua belahan otak untuk bekerja, mempertajam konsentrasi, bahkan meningkatkan kreatifitas & percaya diri para lansia. Dengan demikian, brain gym akan meningkatkan kualitas hidup pada lansia.

5.2  Saran
1.  Lansia
Untuk mencegah demensia bisa dilakukan dengan mengaplikasikan brain gym. Gerakan-gerakan brain gym yang diberikan hendaknya disesuaikan dengan kemampuan lansia dan saat melakukan brain gym lansia tidak dalam keadaan terpaksa.
2.  Panti Wredha
            Sebaiknya pihak panti wredha mengaplikasikan brain gym kepada para lansia sebagai kegiatan yang dapat diterapkan ke dalam jadwal kegiatan rutin dalam rangka meningkatkan kualitas hidup lansia khususnya mencegah demensia.
DAFTAR PUSTAKA
Author.2001.Sympton of Dementia. American Family Physician. http://www.aafp. org/afp/2001/0215/p717.html. (3 Mei 2011)
Ag Masykur & Fathani A.B. 2008. Mathematical Intellegince. Jogjakarta: Ar-ruz Media Group.
Dennison, Gail E. & Dennison, Paul E.. 2004. Brain gym (Senam Otak). Jakarta: Gramedia.
Harvey, Robinson & Rossor. 2003. The prevalence and causes of dementia in people under the age of 65 years. Journal Neurosurgery Psychiatry, 74: 1206-1209.
Mace, N. L. & Rabins, P. V. (2006). The 36-hour day: a family guide to caring for people with Alzheimer disease, other dementias, and memory loss in later life.4th Ed. Baltimore, USA: The Johns Hopkins University Press.
Markam, S. Latihan Vitalisasi Otak (Senam untuk Kebugaran Fisik Dan Otak). Jakarta:  Grasindo.
Nugroho. 2000.Keperawatan Gerontik.Edisi 2. Jakarta: EGC, hal.13, 19-28, 42-43.
Pudjiastuti & Utomo. 2003. Fisioterapi pada Lansia. Jakarta: EGC, hal 2-8
Santoso, H dan A. Ismail. 2009. Memahami Krisis Lanjut Usia. Jakarta: Gunung Mulia, hal.50.
Suara Merdeka. 30 Juni, 2010. Demensia Pada Lansia. Suara Merdeka.
Tjahyanto, A. dan Surilena .Januari, 2009. Penatalaksanaan non-farmakologis demensia. Majalah Kedokteran Damianus,Vol.8 No.1.
Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. 1998. Behavioral symptom of dementia.
New York: Springer Publishing Company.
Yatim, F. 2003. Pikun (Demensia), Penyakit Alzheimer, dan Sejenisnya: Bagaimana
Menghindarinya.Edisi 1. Jakarta: Pustaka Populer Obor.




DAFTAR RIWAYAT HIDUP
1.  BIODATA KETUA SERTA ANGGOTA KELOMPOK
Ketua
Nama Lengkap                                : Sartikasari Ningtyas
Tempat dan tanggal lahir                : Malang, 28 Pebruari 1990
Karya yang pernah dibuat               : KOBAL  (KONTRASEPSI HERBAL) EKSTRAK BUAH PARE  (Momordica charantia) SEBAGAI ALTERNATIF KONTRASEPSI AMAN
Tanda Tangan                                 :
               
Anggota
1.     Nama Lengkap                           : Putri Rahma Zuriza
Tempat dan tanggal lahir            : Blitar, 31 Juli 1990
NIM                                                  : 010810019B
Karya yang pernah dibuat          : -
Tanda Tangan                             :

2.     Nama Lengkap                     : Neny Dwi P.
Tempat dan tanggal lahir      : Surabaya, 4 Februari 1992
NIM                                      : 131011033   
Karya yang pernah dibuat    : -
Tanda Tangan                      :                                  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar diisi disini