Senin, 12 Maret 2012

KERANGKA DASAR KURIKULUM PENDIDIKAN PAUD




KERANGKA DASAR
KURIKULUM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Tim Pengembang:
Pusat Kurikulum

Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini
Direktorat Pembinaan TK dan SD

Universitas Negeri Jakarta

DERPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

2007

DAFTAR ISI

Bab I . Pendahuluan

A. Latar Belakang

B. Tujuan

C. Sasaran

D. Ruang Lingkup

Bab II . Landasan Pendidikan Anak Usia Dini

A. Landasan Yuridis

B. Landasan Filosofis

C. Landasan Keilmuan

Bab III . Hakikat Pendidikan Anak Usia Dini

A. Pengertian

B. Tujuan

C. Prinsip-prinsip

Bab IV. Standar Kompetensi Anak Usia Dini

A. Pengertian

B. Standar Kompetensi

Bab V. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini

A. Pengertian

B. Prinsip Pengembangan Kurikulum

C. Ruang Lingkup Kurikulum

D. Komponen Kurikulum

E. Pengembangan Kurikulum pada Satuan Pendidikan


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Memasuki milenium ke tiga Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk menyiapkan masyarakat menuju era baru, yaitu globalisasi yang menyentuh semua aspek kehidupan. Dalam era global ini seakan dunia tanpa jarak. Komunikasi dan transaksi ekonomi dari tingkat lokal hingga internasional dapat dilakukan sepanjang waktu. Demikian pula nanti ketika perdagangan bebas sudah diberlakukan, tentu persaingan dagang dan tenaga kerja bersifat multi bangsa. Pada saat itu hanya bangsa yang unggullah yang anak mampu bersaing.

Pendidikan merupakan modal dasar untuk menyiapkan insan yang berkualitas. Menurut Undang-undang Sisdiknas Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Menurut UNESCO pendidikan hendaknya dibangun dengan empat pilar, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together.

Pada hakikatnya belajar harus berlangsung sepanjang hayat. Untuk menciptakan generasi yang berkualitas, pendidikan harus dilakukan sejak usia dini dalam hal ini melalui Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yaitu pendidikan yang ditujukan bagi anak sejak lahir hingga usia 6 tahun. Sejak dipublikasikannya hasil-hasil riset mutakhir di bidang neuroscience dan psikologi maka fenomena pentingnya PAUD merupakan keniscayaan. PAUD menjadi sangat penting mengingat potensi kecerdasan dan dasar-dasar perilaku seseorang terbentuk pada rentang usia ini. Sedemikian pentingnya masa ini sehingga usia dini sering disebut the golden age (usia emas).

Dengan diberlakukannya UU No. 20 Tahun 2003 maka sistem pendidikan di Indonesia terdiri dari pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi yang keseluruhannya merupakan kesatuan yang sistemik. PAUD diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. PAUD dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal. PAUD pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat. PAUD pada jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat. PAUD pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

Dalam upaya pembinaan terhadap satuan-satuan PAUD tersebut, diperlukan adanya sebuah kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi anak usia dini yang berlaku secara nasional. Kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi adalah rambu-rambu yang dijadikan acuan dalam penyusunan kurikulum dan silabus (rencana pembelajaran) pada tingkat satuan pendidikan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan.

B. Tujuan

Tujuan kerangka dasar kurikulum pendidikan anak usia dini adalah kerangka dasar yang dijadikan sebagai acuan bagi lembaga pendidikan anak usia dini dalam mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan.

C. Sasaran

Sasaran kerangka dasar ini adalah lembaga-lembaga penyelenggara PAUD jalur pendidikan formal dan nonformal seperti Taman Kanak-Kanak, Raudatul Athfal, Kelompok Bermain,Taman Penitipan Anak, dan Satuan PAUD yang sejenis.


D. Ruang Lingkup Penulisan

Kerangka dasar ini terdiri dari bab I Pendahuluan, bab II Landasan Pendidikan Anak Usai dini, bab III. Hakikat Pendidikan Anak Usai Dini, bab IV Standar Kompetensi Anak Usia Dini, bab V Struktur Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini, bab VI Penilaian Kurikulum, dan bab. VII Penutup.


BAB II

LANDASAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

A. Landasan Yuridis

1. Dalam Amandemen UUD 1945 pasal 28 B ayat 2 dinyatakan bahwa ”Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”.

2. Dalam UU NO. 23 Tahun 2002 Pasal 9 Ayat 1 tentang Perlindungan Anak dinyatakan bahwa ”Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasarnya sesuai dengan minat dan bakatnya”.

3. Dalam UU NO. 20 TAHUN 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1, Pasal 1, Butir 14 dinyatakan bahwa ”Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”. Sedangkan pada pasal 28 tentang Pendidikan Anak Usia Dini dinyatakan bahwa ”(1) Pendidikan Anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar, (2) Pendidkan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidkan formal, non formal, dan/atau informal, (3) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal: TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat, (4) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan non formal: KB, TPA, atau bentuk lain yang sederajat, (5) Pendidikan usia dini jalur pendidikan informal: pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan, dan (6) Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.”

B. Landasan Filosofis

Pendidikan merupakan suatu upaya untuk memanusiakan manusia. Artinya melalui proses pendidikan diharapkan terlahir manusia-manusia yang baik. Standar manusia yang “baik” berbeda antar masyarakat, bangsa atau negara, karena perbedaan pandangan filsafah yang menjadi keyakinannya. Perbedaan filsafat yang dianut dari suatu bangsa akan membawa perbedaan dalam orientasi atau tujuan pendidikan.

Bangsa Indonesia yang menganut falsafah Pancasila berkeyakinan bahwa pembentukan manusia Pancasilais menjadi orientasi tujuan pendidikan yaitu menjadikan manusia indonesia seutuhnya.Bangsa Indonesia juga sangat menghargai perbedaan dan mencintai demokrasi yang terkandung dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang maknanya “berbeda tetapi satu.” Dari semboyan tersebut bangsa Indonesia juga sangat menjunjung tinggi hak-hak individu sebagai mahluk Tuhan yang tak bisa diabaikan oleh siapapun. Anak sebagai mahluk individu yang sangat berhak untuk mendaptkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Dengan pendidikan yang diberikan diharapkan anak dapat tumbuh sesuai dengan potensi yang dimilkinya, sehingga kelak dapat menjadi anak bangsa yang diharapkan. Melalui pendidikan yang dibangun atas dasar falsafah pancasila yang didasarkan pada semangat Bhineka Tunggal Ika diharapkan bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa yang tahu akan hak dan kewajibannya untuk bisa hidup berdampingan, tolong menolong dan saling menghargai dalam sebuah harmoni sebagai bangsa yang bermartabat.

Sehubungan dengan pandangan filosofis tersebut maka kurikulum sebagai alat dalam mencapai tujuan pendidikan, pengembangannya harus memperhatikan pandangan filosofis bangsa dalam proses pendidikan yang berlangsung.

Landasan Keilmuan

Landasan keilmuan yang mendasari pentingnya pendidikan anak usia dinii didasarkan kepada beberapa penemuan para ahli tentang tumbuh kembang anak. Pertumbuhan dan perkembangan anak tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan perkembangan struktur otak. Menurut Wittrock (Clark, 1983), ada tiga wilayah perkembangan otak yang semakin meningkat, yaitu pertumbuhan serabut dendrit, kompleksitas hubungan sinapsis, dan pembagian sel saraf. Peran ketiga wilayah otak tersebut sangat penting untuk pengembangan kapasitas berpikir manusia. Sejalan dengan itu Teyler mengemukakan bahwa pada saat lahir otak manusia berisi sekitar 100 milyar hingga 200 milyar sel saraf. Tiap sel saraf siap berkembang sampai taraf tertinggi dari kapasitas manusia jika mendapat stimulasi yang sesuai dari lingkungan.

Jean Piaget (1972) mengemukakan tentang bagaimana anak belajar:“ Anak belajar melalui interaksi dengan lingkungannya. Anak seharusnya mampu melakukan percobaan dan penelitian sendiri. Guru bisa menuntun anak-anak dengan menyediakan bahan-bahan yang tepat, tetapi yang terpenting agar anak dapat memahami sesuatu, ia harus membangun pengertian itu sendiri, dan ia harus menemukannya sendiri.” Sementara Lev Vigostsky meyakini bahwa : pengalaman interaksi sosial merupakan hal yang penting bagi perkembangan proses berpikir anak. Aktivitas mental yang tinggi pada anak dapat terbentuk melalui interaksi dengan orang lain. Pembelajaran akan menjadi pengalaman yang bermakna bagi anak jika ia dapat melakukan sesuatu atas lingkungannya. Howard Gardner menyatakan tentang kecerdasan jamak dalam perkembangan manusia terbagi menjadi: kecerdasan bodily kinestetik, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan naturalistik, kecerdasan logiko – matematik, kecerdasan visual – spasial, kecerdasan musik.

Dengan demikian perkembangan kemampuan berpikir manusia sangat berkaitan dengan struktur otak, sedangkan struktur otak itu sendiri dipengaruhi oleh stimulasi, kesehatan dan gizi yang diberikan oleh lingkungan sehingga peran pendidikan yang sesuai bagi anak usia dini sangat diperlukan.

BAB III

HAKIKAT PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

1. Pengertian

Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

2. Tujuan

Secara umum tujuan pendidikan anak usia dini adalah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

3. Prinsip-Prinsip Pendidikan Anak Usia Dini

Dalam melaksanakan Pendidikan anak usia dini hendaknya menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut :

a. Berorientasi pada Kebutuhan Anak

Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis, yaitu intelektual, bahasa, motorik, dan sosio emosional.

b. Belajar melalui bermain

Bermain merupakan saran belajar anak usia dini. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan, memanfaatkan, dan mengambil kesimpulan mengenai benda di sekitarnya.

c. Lingkungan yang kondusif

Lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa sehingga menarik dan menyenangkan dengan memperhatikan keamanan serta kenyamanan yang dapat mendukung kegiatan belajar melalui bermain.

d. Menggunakan pembelajaran terpadu

Pembelajaran pada anak usia dini harus menggunakan konsep pembelajaran terpadu yang dilakukan melalui tema. Tema yang dibangun harus menarik dan dapat membangkitkan minat anak dan bersifat kontekstual. Hal ini dimaksudkan agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas sehingga pembelajaran menjadi mudah dan bermakna bagi anak.

e. Mengembangkan berbagai kecakapan hidup

Mengembangkan keterampilan hidup dapat dilakukan melalui berbagai proses pembiasaan. Hal ini dimaksudkan agar anak belajar untuk menolong diri sendiri, mandiri dan bertanggungjawab serta memiliki disiplin diri.

f. Menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar

Media dan sumber pembelajaran dapat berasal dari lingkungan alam sekitar atau bahan-bahan yang sengaja disiapkan oleh pendidik /guru.

a. Dilaksanakan secara bertahap dan berulang –ulang

Pembelajaran bagi anak usia dini hendaknya dilakukan secara bertahap, dimulai dari konsep yang sederhana dan dekat dengan anak. Agar konsep dapat dikuasai dengan baik hendaknya guru menyajikan kegiatan–kegiatan yang berluang .

BAB IV

STANDAR KOMPETENSI ANAK USIA DINI

A. Pengertian

Standar kompetensi anak usia dini adalah standar kemampuan anak usia 0-6 tahun yang didasarkan pada perkembangan anak. Standar kompetensi ini digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan kurikulum anak usia dini.

B. Standar Kompetensi Anak Usia Dini

Standar kompetensi anak usia dini terdiri atas pengembangan aspek-aspek sebagai berikut:

Moral dan nilai-nilai agama
Sosial, emosional, dan kemandirian
Bahasa
Kognitif
Fisik/Motorik
Seni

BAB V

PENGEMBANGAN KURIKULUM

TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

A. Pengertian

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan belajar serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelengaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

B. Prinsip-prinsip Pengembangan

1. Bersifat komperhensif

Kurikulum harus menyediakan pengalaman belajar yang meningkatkan perkembangan anak secara menyeluruh dalam berbagai aspek perkembangan .

2. Dikembangkan atas dasar perkembangan secara bertahap.

Kurikulum harus menyediakan berbagai kegiatan dan interaksi yang tepat didasarkan pada usia dan tahapan perkembangan setiap anak. Program menyediakan berbagai sarana dan bahan untuk anak dengan berbagai kemampuan.

3. Melibatkan orang tua

Keterlibatan orang tua sebagai pendidik utama bagi anak. Oleh karena itu peran orang tua dalam pendidikan anak usia dini sangat penting dalam pelaksanaan pendidikan.

4. Melayani kebutuhan individu anak.

Kurikulum dapat mewadahi kemampuan, kebutuhan,minat setiap anak.

5. Merefleksikan kebutuhan dan nilai masyarakat

Kurikulum harus memperhatikan kebutuhan setiap anak sebagai anggota dari keluarga dan nilai-nilai budaya suatu masyarakat.

6. Mengembangkan standar kompetensi anak

Kurikulum yang dikembangkan harus dapat mengembangkan kompetensi anak. Standar Kompetensi seabagi acuan dalam menyiapkan lingkungan belajar anak.

7. Mewadahi layanan anak berkebutuhan khusus

Kurikulum yang dikembangkan hendaknya memperhatikan semua anak termasuk anak-anak yang berkebutuhan khususus.

8. Menjalin kemitraan dengan keluarga dan masyarakat

Kurikulum hendaknya dapat menunjukkan bagaimana membangun sinegi dengan keluarga dan masyarakat sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai

9.Memperhatikan kesehatan dan keselamatan anak

Kurikulum yang dibangun hendaknya memperhatikan aspek keamanan dan kesehatan anak saat anak berada disekolah

10.Menjabarkan prosedur pengelolaan Lembaga

Kurikulum hendaknya dapat menjabarkan dengan jelas prosedur manajemen /pengelolaan lembaga kepada masyarakat sebagai bentuk akuntabiitas.

11. Manajemen Sumber Daya Manusia

Kurikulum hendaknya dapat menggamabarkan proses manajemen pembinaan sumber daya manusia yang terlibat di lembaga

12.Penyediaan Sarana dan Prasarana.

Kurikulum dapat menggambarkan penyediaan srana dan prasaran yang dimiliki lembaga.

C. Komponen Kurikulum

a. Anak

Sasaran layanan pendidikan Anak usia dini adalah anak yang berada pada rentang usia 0 – 6 tahun. Pengelompokan anak didasarkan pada usia sebagai berikut :

1) 0 – 1 tahun

2) 1 – 2 tahun

3) 2- 3 tahun

4) 3 - 4 tahun

5) 4- 5 tahun

6) 5 - 6 tahun .

b. Pendidik

Kompetensi Pendidik anak usia dini memiliki kualifikasi akademik sekurang-kurangnya Diploma Empat (D-IV) atau Sarjana (S1) di bidang pendidikan anak usia dini, kependidikan lain, atau psikologi; dan memiliki sertifikasi profesi guru PAUD atau sekurang – kurangnya telah mendapat pelatihan pendidikan anak usia dini. Adapun rasio pendidik dan anak adalah

1) Usia 0 – 1 tahun rasio 1 : 3 anak

2) Usai 1 – 3 tahun rasio 1 : 6 anak

3) Usia 3 - 4 tahun rasio 1 : 8 anak

4) Usia 4 - 6 tahun rasio 1 : 10 /12 anak

c. Pembelajaran

Pembelajaran dilakukan melalui kegiatan bermain yang dipersiapkan oleh pendidik dengan menyiapkan materi ( content ), dan proses belajar. Materi belajar bagi anak usia dini dibagi dalam 2 kelompok usia.

Materi Usia lahir sampai 3 tahun meliputi:

1). Pengenalan diri sendiri ( Perkembangan konsep diri)

2). Pengenalan perasaan (Perkembangan emosi)

3). Pengenalan tentang Orang lain (Perkembangan Sosial)

4). Pengenalan berbagai gerak (perkembangan Fisik)

5). Mengembangkan komunikasi (Perkembangan bahasa)

6). Ketrampilan berfikir (Perkembangan kognitif)

Materi untuk anak usia 3 – 6 tahun meliputi :

1) Keaksaraan mencakup peningkatan kosa kata dan bahasa, kesadaran phonologi, wawasan pengetahuan, percakapan, memahami buku-buku, dan teks lainnya.

2) Konsep Matematika mencakup pengenalan angka-angka, pola-pola dan hubungan, geometri dan kesadaran ruang, pengukuran, pengumpulan data, pengorganisasian, dan mempresentasikannya.

3) Pengetahuan Alam lebih menekankan pada objek fisik, kehidupan, bumi dan lingkungan.

4) Pengetahuan Sosial mencakup hidup orang banyak, bekerja, berinteraksi dengan yang lain, membentuk, dan dibentuk oleh lingkungan. Komponen ini membahas karakteristik tempat hidup manusia, dan hubungannya antara tempat yang satu dengan yang lain, juga hubungannya dengan orang banyak. Anak-anak mempelajari tentang dunia dan pemetaannya, misalnya dalam rumah ada ruang tamu, ruang tidur, kamar mandi, dapur, ruang keluarga, ruang belajar; di luar rumah ada taman, garasi, dll. Setiap rumah memiliki tetangga dalam jarak dekat atau jauh.

5) Seni mencakup menari, musik, bermain peran, menggambar dan melukis. Menari, adalah mengekspresikan ide ke dalam gerakan tubuh dengan mendengarkan musik, dan menyampaikan perasaan. Musik, adalah mengkombinasikan instrumen untuk menciptakan melodi dan suara yang menyenagkan. Drama, adalah mengungkapkan cerita melalui aksi, dialog, atau keduanya. Seni juga mencakup melukis, menggambar, mengoleksi sesuatu, modeling, membentuk dengan tanah liat atau materi lain, menyusun bangunan, membuat boneka, mencap dengan stempel, dll.

6) Teknologi mencakup alat-alat dan penggunaan operasi dasar. Kesadaran Teknologi. Komponen ini membahas tentang alat-alat teknologi yang digunakan anak-anak di rumah, di sekolah, dan pekerjaan keluarga. Anak-anak dapat mengenal nama-nama alat dan mesin yang digunakan oleh manusia sehari-hari.

7) Ketrampilan Proses mencakup pengamatan dan eksplorasi; eksperimen, pemecahan masalah; dan koneksi, pengorganisasian, komunikasi, dan informasi yang mewakili.

Untuk mewadahi proses belajar bagi anak usa dini pendidik harus dapat melakukan penataan lingkungan main, menyediakan bahan–bahan main yang terpilih, membangun interaksi dengan anak dan membuat rencana kegiatan main untuk anak. Proses pembelajaran anak usia dini dilakukan melalui sentra atau area main. Sentra atau area tersebut bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi dari masing-masing satuan Pendidikan. Contoh sentra atau area bermain tersebut antara lain : Sentra Balok, Sentra Bermain Peran, Sentra Seni, Sentra Musik, Sentra Persiapan, Sentra agama, dan Sentra Memasak.

d. Penilaian (Assesmen)

Assesmen adalah proses pengumpulan data dan dokumentasi belajar dan perkembangan anak. Assesmen dilakukan melalui : observasi, konfrensi dengan para guru, survey, wawancara dengan orang tua, hasil kerja anak, dan unjuk kerja. Keseluruhan penilaian /assesmen dapat di buat dalam bentuk portofolio.

e. Pengelolaan Pembelajaran

1). Keterlibatan Anak

2). Layanan program

Lembaga Pendidikan anak usia dini dilaksnanakan sesuai satuan Pendidikan masing-masing. Jumlah hari dan jam layanan :

(a) Taman Penitipan Anak (TPA) dilaksanakan 3 – 5 hari dengan jam layanan minimal 6 jam. Minimal layanan dalam satu tahun 144 -160 hari atau 32 – 34 minggu.

(b) Kelompok Bermain (KB) setiap hari atau minimal 3 kali seminggu dengan jumlah jam minimal 3 jam. Minimal layanan dalam satu tahun 144 hari atau 32 - 34 minggu.

(c) Satuan PAUD Sejenis (SPS) minimal satu minggu sekali dengan jam layanan minimal 2 jam. Kekurangan jam layanan pada SPS dilengkapi dengan program pengasuhan yang dilakukan orang tua sehingga jumlah layanan keseluruhan setara dengan 144 hari dalam satu tahun.

(d) Taman Kanak-Kanak (TK) dilaksanakan minimal 5 hari setiap minggu dengan jam layanan minimal 2,5 jam. Layanan dalam satu tahun 160 hari atau 34 minggu.

Layanan pembelajaran pada masing-masing satuan pendidikan anak usia dini mengikuti kalender pendidikan daerah masing-masing.

f. Melibatkan Peranserta masyarakat

Pelaksanaan pendidikan anak usia dini hendaknya dapat melibatkan seluruh komponen masyarakat. Penyelenggaraan pendiikan anak usai dini dapat dilakukan oleh swasta dan pemerintah , yayasan maupun perorangan.

E. Satuan Pendidikan Anak Usia Dini.

Kerangka dasar Kurikulum digunakan pada pendidika anak usia dini jalur formal maupun jalur non formal yaitu : Taman Kanak-Kanak/ Raudhatul Athfal, Taman Penitipan Anak, Kelompok Bermain, dan Satuan PAUD Sejenis.

a. Taman Kanak adalah salah satu bentuk satuan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak usia empat tahun sampai enam tahun. Sasaran Pendidikan Taman Kanak-Kanak adalah anak usia 4 – 6 tahun, yang dibagi ke dalam dua kelompok belajar berdasarkan usia yaitu Kelompok A untuk anak usia 4 – 5 tahun dan Kelompok B untuk anak didik usia 5 – 6 tahun.

b. Kelompok Bermain adalah salah satu bentuk PAUD pada jalur pendidikan non formal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus program kesejahteraan bagi anak usia 2 sampai dengan 4 tahun. Sasaran KB adalah anak usia 2 – 4 tahun dan anak usia 4 – 6 tahun yang tidak dapat dilayani TK (setelah melalui pengkajian dan mendapat rekomendasi dari pihak yang berwenang).

c. Taman Penitipan Anak adalah layanan pendidikan yang dilaksanakan pemerintah dan masyarakat bagi anak usia lahir – 6 tahun yang orang tuanya bekerja. Peserta didik pada TPA adalah anak usia lahir – 6 tahun.

d. Satuan PAUD Sejenis (SPS) adalah layanan minimal merupakan layanan minimal yang hanya dilakukan 1-2 kali/minggu atau merupakan layanan PAUD yang diintegrasikan dengan program layanan lain. Peserta didik pada SPS adalah anak 2-4 tahun.

BAB VI

PENILAIAN KURIKULUM

Evaluasi / Penilaian adalah suatu analisis yang sistimatis untuk melihat efektifitas program yang diberikan dan pengaruh program tersebut terhadap anak. Penilaian kurikulum dilakukan secara berkala dan berkesinambungan oleh Pusat maupun Daerah. Penilaian kurikulum dimaksudkan untuk mngetahui sejauh mana kurikulum dilaksanakan dan kesesuainnya dengan kerangka dasar fungsi dan tujuan pendiikan nasional serta kesesuaian dengan tuntutan perkembangan yang terjadi di masyarakat. Hasil penilaian kurikulum digunakan untuk menyempurnakan pelaksanaan dan mengembangkan kurikulum selanjutnya.

PENGELOLAAN PAUD TERINTEGRASI POSYANDU DI POS PAUD TUNAS BANGSA

Oleh ERNAWATI

Abstrak

Proses pengelolaan Pos PAUD Tunas Bangsa dilakukan secara terorganisir sejak proses pendirian, teknis pembentukan, teknis penyelenggaraan, pelaksanaan kegiatan dan pelaksanaan evaluasi serta dalam pembinaan. Melalui pengelolaan yang terorganisir didapatkan hasil sesuai dengan harapan. Anak didik berkembang semakin kreatif, mandiri, dan berprestasi. Pendidik menjadi lebih kreatif, berprestasi dan memiliki pemahaman PAUD yang meningkat. Peningkatan juga terjadi pada program pembelajaran, sarana prasarana, proses pendanaan, serta pada kegiatan belajar. Pengelola dan pendidik memiliki peran yang sangat besar dalam pengelolaan Pos PAUD. Peran tersebut meliputi menyusun program pembelajaran, melaksanakan program pembelajaran, mengadministrasikan kegiatan lembaga, melakukan evaluasi perkembangan anak, dan melakukan koordinasi dengan berbagai lintas sektor.



Kata kunci : Pendidikan, Anak usia Dini, Pos PAUD

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia. Manusia tanpa pendidikan akan menjadi sesosok raga tanpa isi. Dalam agama juga ada hadist Nabi yang mengatakan “Tuntutlah ilmu mulai dari ayunan sampai keliang lahat”. Anggapan bahwa pendidikan baru bisa dimulai setelah usia sekolah dasar adalah tidak benar. Bahkan pendidikan yang dimulai pada usia Taman Kanak-kanak pun sebenarnya sudah terlambat.

Hasil penelitian di bidang neurologi oleh Osborn, White dan Bloom menyebutkan bahwa pada usia 4 tahun pertama separuh kapasitas kecerdasan manusia sudah terbentuk. Bila pada usia tersebut otak anak tidak mendapat rangsangan yang maksimal, maka potensi otak anak tidak akan berkembang. Pada usia 8 tahun 80% kapasitas kecerdasan manusia sudah terbentuk. Selanjutnya kapasitas kecerdasan anak tersebut akan mencapai 100% setelah berusia sekitar 18 tahun.

Usia lahir sampai dengan memasuki pendidikan dasar merupakan masa keemasan (golden age) sekaligus masa kritis dalam tahapan kehidupan manusia, yang akan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Masa ini merupakan masa yang tepat untuk meletakkan dasar-dasar pengembangan kemampuan fisik, bahasa , sosial emosional, konsep diri, seni, moral dan nilai-nilai agama. Sehingga upaya pengembangan seluruh potensi anak harus dimulai agar pertumbuhan dan perkembangan anak tercapai secara optimal.

Kesadaran akan pentingnya pendidikan anak usia dini telah mendorong pemerintah dalam hal ini Direktorat PAUD untuk memfasilitasi terbentuknya lembaga pendidikan anak usia dini yang dilaksanakan melalui kelompok bermain, taman penitipan anak, dan satuan paud sejenis. Hal ini secara resmi tertuang didalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang diperkuat dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No.58 tahun 2009 tentang standar pendidikan anak usia dini.

Penyelenggaraan PAUD berfungsi membina, menumbuhkan, dan mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Salah satu jalur terselenggaranya PAUD adalah jalur pendidikan nonformal. PAUD non formal memiliki peran yang sangat besar dalam membantu pemerintan meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan pendidikan. Untuk itu, pemerintah hendaknya memberikan perhatian baik terhadap sarana prasarana, pembinaan tenaga pendidik dan kependidikan, dan memberikan sosialisasi pada masyarakat tentang kepedulian terhadap PAUD.

Banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya PAUD. Hal ini sebagaimana terjadi di lingkungan sekitar kita dimana banyak masyarakat yang tidak menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan anak usia dini. Hal ini diperburuk dengan fakta bahwa jumlah lembaga anak usia dini masih sangat kurang.

Kondisi ini juga terjadi di Desa Tasikmadu. Berdasarkan data Posyandu Desa Tasikmadu tahun 2010, jumlah anak usia dini seluruhnya 633 anak, dan yang telah terlayani sebesar 193 anak sebagaimana tampak pada tabel berikut:

Tabel 1.1. Data jumlah Anak usia Dini Desa Tasikmadu

Usia


Jumlah Anak


Terlayani di PAUD Formal

0 - < 2 th

2 - < 4 th

4 - ≤ 6 th


139 anak

210 anak

284 anak


-

-

193 anak

Jumlah


633 anak


193 anak



Berdasarkan data tersebut, hanya sekitar 35% anak yang mendapat layanan pendidikan di desa Tasikmadu. Keadaan ini jelas sangat mengkhawatirkan mengingat masa ini merupakan masa keemasan sekaligus masa kritis dalam tahapan kehidupan manusia yang akan menentukan perkembangan anak selanjutnya.



KAJIAN TEORI

Pengelolaan Pendidikan

Sebagaimana telah ditetapkan dalam UUSPN Nomor 20 Tahun 2003 dan PP Nomor 19 Tahun 2005, dan lebih dijabarkan dalam Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 bahwa “setiap satuan pendidikan wajib memenuhi standar pengelolaan pendidikan yang berlaku secara nasional”, beberapa aspek standar pengelolaan sekolah yang harus dipenuhi adalah meliputi:

perencanaan program sekolah meliputi: rumusan visi sekolah, misi sekolah, tujuan sekolah, rencana kerja sekolah.
pelaksanaan rencana kerja, yaitu tersedianya pedoman sekolah berupa struktur organisisi sekolah, pelaksanaan kegiatan, bidang kesiswaan, bidang kurikulum dan kegiatan pembelajaran, bidang pendidik dan tenaga kependidikan, bidang sarana dan prasarana, bidang keuangan dan pembiayaan, budaya dan peran serta masyarakat dan kemitraan.
Pengawasan dan evaluasi meliputi program pengawasan, evaluasi diri, evaluasi dan pengembangan, evaluasi pendayagunaan pendidik dan tenaga kependidikan, dan akreditasi sekolah.
Kepemimpinan sekolah/madrasah yang melakukan kegiatan program pengawasan, evaluasi diri, evaluasi dan pengembangan, evaluasi pendayagunaan pendidik dan tenaga kependidikan, dan akreditasi sekolah.
Sistem informasi manajemen dengan berbasis komputer/internet. (http://agus.blogchandra.com/standar-pengelolaan-pendidikan)

Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)

Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), adalah suatu tempat pelayanan dalam wilayah kerja tertentu dengan kegiatan terpadu, yang bersifat dari, oleh dan untuk masyarakat secara terpadu dengan program-program dari instansi terkait untuk mencapai tujuan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera atau KKBS. Instansi tersebut melalui Departemen Kesehatan, BKKBN, Depdagri, PKK serta sector lainnya.

Posyandu mempunyai dua kegiatan pokok, yaitu penyuluhan dan pelayanan kesehatan. Kegiatan Posyandu mencakup 5 hal pokok, yaitu pendaftaran, penimbangan, pemberian makan tambahan, imunisasi, dan penyuluhan kesehatan

Posyandu merupakan kegiatan dari, oleh dan untuk masyarakat. Partisipasi masyarakat merupakan jantung program ini. Tujuan Posyandu adalah memberikan pengetahuan serta membentuk sikap masyarakat tentang masalah yang berkaitan dengan KB, kesehatan, P-4, serta usaha pendataan serta aspek pembangunan lainnya. Sasaran kegiatan Posyandu adalah anak-anak usia balita yang juga merupakan sasaran program PAUD.



Pos PAUD

Pos PAUD adalah bentuk layanan pendidikan anak usia dini yang penyelenggaraannya diintegrasikan dengan layanan Bina Keluarga Balita (BKB) dan Posyandu. Pos PAUD dibentuk atas kesepakatan masyarakat dan dikelola berdasarkan azas gotong rotong, kerelaan, dan kebersamaan. Didalam pelaksanaannya Pos PAUD senantiasa menggunakan prinsip kesederhanaan, murah, mudah dan bermutu.

Aspek-aspek dalam pengelolaan Pos PAUD meliputi:

1. Peserta didik

· Untuk anak usia 0-2 tahun stimulasi dilakukan oleh orangtua dengan dibimbing oleh kader. Kegiatan ini disebut pengasuhan bersama.

· Untuk anak usia 2-6 tahun stimulasi dilakukan oleh kader. Orangtua diminta menyaksikan. Mereka dikelompokkan menurut usia. Setiap kelompok dibimbing oleh seorang kader. Konsep sederhananya: “Bermain bersama anak”.

2. Pendidik

Pendidik Pos PAUD dapat disebut dengan Kader atau sebutan lain sesuai kebiasaan setempat. Seorang kader minimal lulusan SLTA atau sederajat, menyayangi anak kecil, dan memiliki waktu untuk melaksanakan tugasnya. Kader memiliki tugas dari penyiapan administrasi kelompok, menyiapkan rencana kegiatan anak, menyambut anak dan orang tua, dan memandu anak-anak dalam kegiatan pembukaan.

3. Pengelola

Seorang pengelola Pos PAUD dipilih dari masyarakat setempat. Pengelola Pos PAUD minimal terdiri dari ketua, sekretaris, dan bendahara. Pengelola boleh merangkap sebagai kader.

Metode pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran di Pos PAUD, diantaranya bermain, bercerita, bernyanyi, karya wisata, dan sentra.



Pengorganisasian Pos PAUD

Pengelolaan Pos PAUD merupakan tanggung jawab para kader PKK. Masing-masing pokja mempunyai peranan dalam proses pengelolaan Pos PAUD, khususnya pada pokja II dan pokja IV. Pokja II khusus menangani tentang pendidikan dan pokja IV tentang kesehatan anak.

Pengorganisasian Pos PAUD meliputi kegiatan perencananan, pelaksanaan dan evaluasi yang terdiri dari kegiatan teknis pembentukan Pos PAUD, teknis penyelenggaraan, pelaksanaan/proses kegiatan dan evaluasi serta pembinaan (Direktorat PAUD 2008).

PELAKSANAAN KEGIATAN

Berdasarkan data posyandu Desa Tasikmadu tahun 2010, jumlah anak usia 0 – 6 tahun pada tahun 2008 mencapai 633 anak. Sebagian besar yaitu sebanyak 440 anak belum mendapat layanan pendidikan. Anak-anak ini berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah dimana kesadaran orangtua tentang pendidikan masih rendah. Kondisi ini diperparah dengan kenyataan bahwa lembaga pendidikan anak usia dini yang ada hanya menerima siswa yang berusia 4 - 6 tahun.

Dari permasalahan tersebut diatas, pada tanggal 28 April 2008 Tim Penggerak PKK resmi mendirikan Pos PAUD Tunas Bangsa. Pos PAUD ini menempati sebuah tempat bekas lumbung desa dan bersebelahan dengan Polindes yang menjadi pusat pelayanan Posyandu Desa Tasikmadu. Penentuan lokasi merupakan hasil kesepakatan dengan perangkat desa.

Dalam proses pembentukannya, pengelola melakukan koordinasi dengan petugas lapangan, tokoh lingkungan dan pengurus Posyandu untuk bisa memberikan informasi kepada orang tua yang mempunyai anak usia 0-6 tahun tentang pentingnya layanan PAUD. Dan hasilnya didapat 44 anak usia 2-5 tahun ikut bergabung dalam Pos PAUD Tunas Bangsa Tasikmadu. Pengelola juga melakukan rekruitmen pendidik dengan kualifikasi latar belakang pendidikan minimal SLTA/ sederajat, berpengalaman sebagai pendidik, dan sayang kepada anak.

Sebagai acuan dalam melangkah, Pos PAUD Tunas Bangsa Desa Tasikmadu merumuskan visi lembaga yaitu mengantarkan anak – anak menjadi pribadi cerdas, kreatif, dan berakhlak mulia. Visi ini disusun dalam misi yang meliputi melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada anak, memberikan kegiatan pembelajaran yang membebaskan proses berkembangnya potensi anak sehingga anak semakin cerdas dan kreatif, melakukan pembimbingan dan pengasuhan yang terbaik agar anak mendapat pembelajaran yang terbaik dan berakhlak mulia, melaksanakan kerja sama dengan pihak lain seperti orangtua, dinas pendidikan, dinas kesehatan, Bapemas, Himpaudi serta lintas sektorat terkait lainnya, melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar anak usia dini memperoleh pembelajaran dan pengasuhan yang terbaik. Pos PAUD Tunas Bangsa memiliki tujuan yang meliputi :

Meningkatkan perluasan akses dan pemerataan memperoleh pelayanan Pendidikan Anak Usia Dini terutama yang belum siap memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut.
Memberi layanan secara keseluruhan bagi anak usia dini yang meliputi pelayanan pendidikan, kesehatan, gizi bagi anak usia dini serta keikutsertaan orang tua dalam proses tumbuh kembang anak,
Meningkatkan peran aktif masyarakat dalam membentuk anak usia dini yang cerdas, kreatif dan berakhlak mulia.

Pada proses pendirian, Pos PAUD Tunas Bangsa memilih Posyandu di pos I yang terletak didusun Prambatan RT.02/01 Desa Tasikmadu karena beberapa alasan yaitu jumlah anak yang banyak yaitu 146 anak, lokasi strategis karena bersebelahan dengan polindes, dan tersedia gedung milik desa.

Saat ini, Pos PAUD Tunas Bangsa memiliki gedung sendiri yang berasal dari alokasi dana PNPM mandiri. Gedung terbagi atas 2 ruang dan 1 kamar mandi. Masing - masing ruang berukuran 5 x 7 m2 dan disekat menjadi 2 ruang yang digunakan pembelajaran untuk dua kelompok usia. Sedangkan kamar mandinya berukuran 2 x 2 m2.

Pada awal kegiatan, pengelola melakukan identifikasi untuk mengetahui dukungan lingkungan. Pada kegiatan ini didapatkan data:

Terdapat anak usia 0-6 tahun yang belum terlayani PAUD sebanyak 440 anak
Adanya dukungan dari pengelola PKK desa dan adanya kesediaan 5 orang kader untuk terlibat aktif dalam kegiatan Pos PAUD.
Memperoleh dukungan dari orangtua, masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pamong desa
Mempunyai gedung sendiri yang layak untuk kegiatan pos PAUD.
Sumber pembiayaan dari iuran orang tua, donator.

Pada awal pembentukan, Pos Paud Tunas Bangsa mempunyai APE yang sangat terbatas. APE tersebut di dapat dari bantuan dinas kesehatan yaitu dari Puskesmas Desa Sumurgung Kec. Palang berupa 1 set APE dalam. Saat ini, tenaga pendidik berusaha melengkapi APE dengan membuat sendiri dari bahan-bahan bekas yang ada dilingkungan sekitar. Pos PAUD Tunas bangsa juga mendapat sumbangan APE luar dari masyarakat sekitar dan dari dana rintisan APBD II.

Anak didik di Pos PAUD Tunas Bangsa dikelompokkan berdasarkan usia. Jumlah anak seluruhnya 44 anak. kelompok usia 2-4 tahun terbagi atas 2 kelas, yaitu kelas gembira dan kelas ceria, sedangkan usia 4-5 tahun terbagi atas 2 kelas, yaitu kelas kreatif dan kelas smart. Data anak didik di Pos PAUD Tunas Bangsa tertera dalam tabel berikut:

Tabel 3.5. Jumlah peserta didik Pos PAUD Tunas Bangsa Desa Tasikmadu

Tahun ajaran 2009-2010

Usia


Laki - laki


Perempuan

2 - 3 th

3 - 4 th

4 - 5 th


4 anak

9 anak

10 anak


3 anak

6 anak

12 anak




22 anak


21 Anak



Pembiayaan di Pos Paud Tunas Bangsa berasal dari swadaya wali murid yang dilakukan setiap bulan dengan nominal Rp.13.000,- yang digunakan untuk pembelian ATK siswa dan pemberian makanan tambahan setiap hari Jum’at pada minggu ke 4. Pos PAUD Tunas Bangsa juga pernah mendapatkan dana rintisan dari APBD II pada Oktober tahun 2008 sebesar Rp. 5.000.000,- .

Program belajar di Pos PAUD Tunas Bangsa menggunakan kurikulum Menu Generic. Keseluruhan proses pembelajaran ditujukan untuk mengembangkan 6 aspek pengembangan yang meliputi nilai – nilai moral dan agama, fisik – motorik, bahasa, kognitif, social-emosional, dan seni. Penyusunan rencana kegiatan di Pos PAUD Tunas Bangsa dimaksudkan sebagai acuan dalam menentukan indikator kemampuan yang ingin dikembangkan, tema kegiatan, jenis main yang akan dilakukan, waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan.

Tabel 3.3: Kegiatan pembelajaran

HARI

WAKTU


SENIN , RABU, JUM’AT

KEGIATAN

07.30 – 07.45 WIB


Penyambutan Anak

07.45 – 08.00 WIB


Pembukaan sambutan pagi

08.00 – 08.30 WIB


Pijakan sebelum bermain

Doa sebelum belajar

Pembahasan tema

08.30 – 09.00 WIB


Istirahat makan bekal bersama

09.00 – 09.45 WIB


Pijakan saat bermain

Bermain sentra

09.45 – 10.00 WIB


Pijakan setelah bermain

Recalling

Do’a sesudah belajar



Penyusunan kegiatan pembelajaran bulanan dilakukan berdasarkan tema-tema. Pembahasan 1 tema membutuhkan waktu 3 – 4 minggu. Dalam pelaksanaan kegiatan, Pos PAUD Tunas Bangsa Desa Tasikmadu menggunakan 5 Sentra, yaitu sentra persiapan, sentra pembangunan, sentra ibadah, sentra seni dan kreatifitas, dan sentra main peran.

Evaluasi program di Pos PAUD Tunas Bangsa dilakukan terhadap seluruh komponen penyelenggaraan. Kegiatan evaluasi dilakukan secara berkesinambungan, namun belum terjadwal secara rutin. Evaluasi program dilakukan oleh pengelola bersama dengan pendidik. Proses evaluasi kegiatan dilakukan setiap hari selesai proses pembelajaran. Evaluasi dilakukan terhadap seluruh proses pembelajaran dan hal – hal yang mendukung proses tersebut. Hasil evaluasi digunakan untuk perbaikan dan pengayaan anak didik.

Evaluasi perkembangan peserta didik Pos PAUD Tunas Bangsa dilakukan setiap hari dan dilaporkan pada orang tua setiap 6 bulan sekali. Evaluasi dilakukan terhadap semua aspek perkembangan yang tertuang dalam menu generik. Hasil evaluasi di Pos PAUD Tunas Bangsa digunakan untuk perbaikan dan pengayaan anak didik. Selain hal tersebut, hasil evaluasi dapat digunakan sebagai bahan informasi bagi orang tua untuk memberikan stimulasi sesuai kebutuhan anak di rumah. Selain itu, Pos PAUD Tunas Bangsa juga memberikan laporan secara rutin kepada UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Palang melalui penilik PLS PAUD. Laporan ini disampaikan setiap bulan sekali berkaitan dengan kondisi peserta didik, dan pendidik.

Kegiatan pembinaan di Pos PAUD Tunas Bangsa dilakukan oleh unsur UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Palang, dalam hal ini PLS PAUD/Pos PAUD Kecamatan Palang. Pelaksanaannya dilakukan setiap bulan bersamaan dengan pertemuan Himpaudi Kecamatan Palang.

Pada awal proses pendirian, Pos Paud Tunas Bangsa Desa Tasikmadu sepenuhnya berada dalam pengelolaan PKK Desa Tasikmadu. Namun dalam perkembangannya, banyak sekali pihak yang ikut mendukung hingga keberadaan Pos PAUD Tunas bangsa dapat berkembang lebih optimal. Beberapa instansi yang memberikan dukungan pada Pos PAUD Tunas Bangsa adalah dari Bappeda, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Bapemas, TP PKK Kabupaten, Kesra, Pemerintah Desa, dan Masyarakat.

Pos PAUD Tunas Bangsa Tasikmadu telah terlaksana selama 2 tahun dan mengalami perkembangan pada komponen-komponen sebagai berikut :

1. Peserta didik

Anak-anak di Pos PAUD Tunas Bangsa menunjukkan perkembangan selama mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari kemandirian, kreatifitas, prestasi yaitu pada tahun 2009 Pos PAUD Tunas Bangsa mendapat predikat terfavorit dalam kontes mewarnai yang diadakan PG AR Rohmah Kecamatan Palang dalam rangka HUT RI. Penilaian ini didasarkan pada kreatifitas dan kemandirian anak dalam mewarnai. Prestasi lainnya adalah Pada tahun 2009 salah seorang anak didik Pos PAUD Tunas Bangsa mendapat predikat 10 terbaik dalam kontes mewarnai yang diadakan PG AR Rohmah Kecamatan Palang dalam rangka HUT RI.

2. Orangtua

Selain anak didik, orangtua di Pos PAUD Tunas Bangsa juga memiliki prestasi yaitu pada tahun 2010 wali murid Pos PAUD Tunas Bangsa memenangkan lomba dongeng wali murid dan anak pada HAN tingakat Kabupaten Tuban sebagai juara I dan juara harapan II pada HAN tingkat Propinsi Jawa Timur.

3. Kinerja pendidik (guru / kader / pamong)

Pendidik Pos PAUD Tunas Bangsa menunjukkan perkembangan sejak awal

terbentuknya lembaga. Hal ini dapat terlihat dari kreatifitas, pemahaman tentang PAUD, prestasi yang meliputi Juara II lomba mendongeng Pendidik se Kab. Tuban tahun 2010, dan Juara I Jambore PTK PNF tingkat Jawa Timur 2010

KESIMPULAN

Dalam penyelenggaraan pos PAUD, pengelola dituntut untuk menjalin koordinasi dan hubungan yang harmonis dengan berbagai pihak yaitu dinas pendidikan, Bapemas, Kesra, Dinas Kesehatan, Himpaudi, Masyarakat sekitar dan lembaga-lembaga lain yang terkait.

Program pendidikan usia dini tidak cukup hanya dengan pemberian stimulasi pendidikan tetapi juga harus memberikan layanan pendidikan kesehatan dan gizi. Selain itu lembaga kegiatan usia dini hendaknya juga mempunyai program parenting education sehingga penyelenggaraan pembelajaran disekolah selaras dengan di rumah. Untuk meningkatkan mutu layanan, Pos PAUD membutuhkan dukungan berupa dana, kegiatan peningkatan SDM misalnya pelatihan, workshop, seminar, magang, studi banding, serta lebih menggalakkan sosialisasi kemasyarakat tentang program PAUD.

Peran lintas sektoral terkait lainnya perlu ditingkatkan peran sertanya dalam memberikan daya dukung kepada penyelenggaraan program Pos PAUD. Perlunya koordinasi antara berbagai lintas sektor yang menangani anak usia dini sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak dapat berjalan secara optimal.



DAFTAR PUSTAKA

Team kreatif KB Cendekia (2003). PAUD , PENDEKATAN BCCT & MULTIPLE INTELLIGENCE, 2008 , Pustaka Pendidikan Yogyakarta.

Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (2008), PEDOMAN PENERAPAN PENDEKATAN “ BEYOND CENTERS AND CIRCLE TIME (BCCT), 2008.

Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidik Non Formal, (2007), STANDAR KOPETENSI PENGELOLA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (TPA,KB,SPS), 2007.

Seputar Bogor (2009). Pos Paud Solusi Pendidikan , (2009), 20 Mei 2010.

Mardiyanto Didi (2009). Guru Pos PAUD Butuh Sertifikasi, 30 Agutus 2009, Rumah Cerdas Kreatif, 20 Mei 2010.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 58 tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini

http://agus.blogchandra.com/standar-pengelolaan-pendidikan.

Optimalisasi layanan pendidikan nasional, Departemen Pendidikan Nasional Direktorat jenderal pendidikan Luar sekolah dan pemuda Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda Regional IV, 2005

Hakim, lukman, 2003, bermain, cerita dan bernyanyi, Surabaya, Konsorsium pendidikan Islam.

Direktorat PAUD 2008.

KONSEP DASAR PENDIDIKAN USIA DINI

Oleh :

Kuntjojo

Pengertian dan Karakteristik Anak Usia Dini

Dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU Nomor 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 Ayat 14).

Anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai usia 6 tahun. Usia ini merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 7). Usia dini merupakan usia di mana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Usia dini disebut sebagai usia emas (golden age). Makanan yang bergizi yang seimbang serta stimulasi yang intensif sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tersebut.

Ada berbagai kajian tentang hakikat anak usia dini, khususnya anak TK diantaranya oleh Bredecam dan Copple, Brener, serta Kellough (dalam Masitoh dkk., 2005: 1.12 – 1.13) sebagai berikut.

Anak bersifat unik.
Anak mengekspresikan perilakunya secara relatif spontan.
Anak bersifat aktif dan enerjik.
Anak itu egosentris.
Anak memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan antusias terhadap banyak hal.
Anak bersifat eksploratif dan berjiwa petualang.
Anak umumnya kaya dengan fantasi.
Anak masih mudah frustrasi.
Anak masih kurang pertimbangan dalam bertindak.
Anak memiliki daya perhatian yang pendek.
Masa anak merupakan masa belajar yang paling potensial.
Anak semakin menunjukkan minat terhadap teman.

Prinsip-prinsip Perkembangan Anak Usia Dini

Prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini berbeda dengan prinsip-prinsip perkembangan fase kanak-kanak akhir dan seterusnya. Adapun prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini menurut Bredekamp dan Coople (Siti Aisyah dkk., 2007 : 1.17 – 1.23) adalah sebagai berikut.

Perkembangan aspek fisik, sosial, emosional, dan kgnitif anak saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain.
Perkembangan fisik/motorik, emosi, social, bahasa, dan kgnitif anak terjadi dalam suatu urutan tertentu yang relative dapat diramalkan.
Perkembangan berlangsung dalam rentang yang bervariasi antar anak dan antar bidang pengembangan dari masing-masing fungsi.
Pengalaman awal anak memiliki pengaruh kumulatif dan tertunda terhadap perkembangan anak.
Perkembangan anak berlangsung ke arah yang makin kompleks, khusus, terorganisasi dan terinternalisasi.
Perkembangan dan cara belajar anak terjadi dan dipengaruhi oleh konteks social budaya yang majemuk.
Anak adalah pembelajar aktif, yang berusaha membangun pemahamannya tentang tentang lingkungan sekitar dari pengalaman fisik, social, dan pengetahuan yang diperolehnya.
Perkembangan dan belajar merupakan interaksi kematangan biologis dan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
Bermain merupakan sarana penting bagi perkembangan social, emosional, dan kognitif anak serta menggambarkan perkembangan anak.
Perkembangan akan mengalami percepatan bila anak berkesempatan untuk mempraktikkan berbagai keterampilan yang diperoleh dan mengalami tantangan setingkat lebih tinggi dari hal-hal yang telah dikuasainya.
Anak memiliki modalitas beragam (ada tipe visual, auditif, kinestetik, atau gabungan dari tipe-tipe itu) untuk mengetahui sesuatu sehingga dapat belajar hal yang berbeda pula dalam memperlihatkan hal-hal yang diketahuinya.
Kondisi terbaik anak untuk berkembang dan belajar adalam dalam komunitas yang menghargainya, memenuhi kebutuhan fisiknya, dan aman secara fisik dan fisiologis.

Pendidikan Anak Usia Dini

Jalur Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini

Dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU Nomor 20 Tahun 2003 (Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional) Bab I Pasal 1 Ayat 14).

Dalam pasal 28 ayat 3 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudathul Athfal, atau bentuk lain yang sederajat.

Satuan Pendidikan Anak Usia Dini

Satuan pendidikan anak usia dini merupakan institusi pendidikan anak usia dini yang memberikan layanan pendidikan bagi anak usia lahir sampai dengan 6 tahun. Di Indonesia ada beberapa lembaga pendidikan anak usia dini yang selama ini sudah dikenal oleh masyarakat luas, yaitu:

Taman Kanak-kanak (TK) atau Raudhatul Atfal (RA)

TK merupakan bentuk satuan pendidikan bagi anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan bagi anak usia 4 sampai 6 tahun, yang terbagi menjadi 2 kelompok : Kelompok A untuk anak usia 4 – 5 tahun dan Kelompok B untuk anak usia 5 – 6 tahun.

Kelompok Bermain (Play Group)

Kelompok bermain berupakan salah satu bentuk pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus program kesejahteraan bagi anak usia 2 sampai dengan 4 tahun (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 23)

Taman Penitipan Anak (TPA)

Taman penitipan anak merupakan salah satu bentuk pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan non formal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus pengasuhan dan kesejahteraan anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun. TPA adalah wahana pendidikan dan pembainaan kesejahteraan anak yang berfungsi sebagai pengganti keluarga untuk jangka waktu tertentu selama orang tuanya berhalangan atau tidak memiliki waktu yang cukup dalam mengasuh anaknya karena bekerja atau sebab lain (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 24).

Landasan Pendidikan Anak Usia Dini

Landasan Yuridis Pendidikan Anak Usia Dini

Dalam Amandemen UUD 1945 pasal 28 B ayat 2 dinyatakan bahwa ”Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”.

Dalam UU NO. 23 Tahun 2002 Pasal 9 Ayat 1 tentang Perlindungan Anak dinyatakan bahwa ”Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasarnya sesuai dengan minat dan bakatnya”.

Dalam UU NO. 20 TAHUN 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1, Pasal 1, Butir 14 dinyatakan bahwa ”Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”. Sedangkan pada pasal 28 tentang Pendidikan Anak Usia Dini dinyatakan bahwa ”(1) Pendidikan Anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar, (2) Pendidkan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidkan formal, non formal, dan/atau informal, (3) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal: TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat, (4) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan non formal: KB, TPA, atau bentuk lain yang sederajat, (5) Pendidikan usia dini jalur pendidikan informal: pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan, dan (6) Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.”

Landasan Filosofis Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan merupakan suatu upaya untuk memanusiakan manusia. Artinya melalui proses pendidikan diharapkan terlahir manusia-manusia yang baik. Standar manusia yang “baik” berbeda antar masyarakat, bangsa atau negara, karena perbedaan pandangan filsafah yang menjadi keyakinannya. Perbedaan filsafat yang dianut dari suatu bangsa akan membawa perbedaan dalam orientasi atau tujuan pendidikan.

Bangsa Indonesia yang menganut falsafah Pancasila berkeyakinan bahwa pembentukan manusia Pancasilais menjadi orientasi tujuan pendidikan yaitu menjadikan manusia indonesia seutuhnya.Bangsa Indonesia juga sangat menghargai perbedaan dan mencintai demokrasi yang terkandung dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang maknanya “berbeda tetapi satu.” Dari semboyan tersebut bangsa Indonesia juga sangat menjunjung tinggi hak-hak individu sebagai mahluk Tuhan yang tak bisa diabaikan oleh siapapun. Anak sebagai mahluk individu yang sangat berhak untuk mendaptkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Dengan pendidikan yang diberikan diharapkan anak dapat tumbuh sesuai dengan potensi yang dimilkinya, sehingga kelak dapat menjadi anak bangsa yang diharapkan. Bangsa Indonesia yang menganut falsafah Pancasila berkeyakinan bahwa pembentukan manusia Pancasilais menjadi orientasi tujuan pendidikan yaitu menjadikan manusia indonesia seutuhnya Sehubungan dengan pandangan filosofis tersebut maka kurikulum sebagai alat dalam mencapai tujuan pendidikan, pengembangannya harus memperhatikan pandangan filosofis bangsa dalam proses pendidikan yang berlangsung.

Landasan Keilmuan Pendidikan Anak Usia Dini

Konsep keilmuan PAUD bersifat isomorfis, artinya kerangka keilmuan PAUD dibangun dari interdisiplin ilmu yang merupakan gabungan dari beberapa displin ilmu, diantaranya: psikologi, fisiologi, sosiologi, ilmu pendidikan anak, antropologi, humaniora, kesehatan, dan gizi serta neuro sains atau ilmu tentang perkembangan otak manusia (Yulianai Nurani Sujiono, 2009: 10).

Berdasarkan tinjauan secara psikologi dan ilmu pendidikan, masa usia dini merupkan masa peletak dasar atau fondasi awal bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Apa yang diterima anak pada masa usia dini, apakah itu makanan, minuman, serta stimulasi dari lingkungannya memberikan kontribusi yang sangat besar pada pertumbuhan dan perkembangan anak pada masa itu dan berpengaruh besar pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.

Pertumbuhan dan perkembangan anak tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan perkembangan struktur otak. Dari segi empiris banyak sekali penelitian yang menyimpulkan bahwa pendidikan anak usia dini sangat penting, karena pada waktu manusia dilahirkan, menurut Clark (dalam Yuliani Nurani Sujono, 2009) kelengkapan organisasi otaknya mencapai 100 – 200 milyard sel otak yang siap dikembangkan dan diaktualisasikan untuk mencapai tingkat perkembangan optimal, tetapi hasil penelitian menyatakan bahwa hanya 5% potensi otak yang terpakai karena kurangnya stimulasi yang berfungsi untuk mengoptimalkan fungsi otak.

Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini

Secara umum tujuan pendidikan anak usia dini adalah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Secara khusus tujuan pendidikan anaka usia dini adalah (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 42 – 43):

Agar anak percaya akan adanya Tuhan dan mampu beribadah serta mencintai sesamanya.
Agar anak mampu mengelola keterampilan tubuhnya termasuk gerakan motorik kasar dan motorik halus, serta mampu menerima rangsangan sensorik.
Anak mampu menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif dan dapat berkomunikasi secara efektif sehingga dapat bermanfaat untuk berpikir dan belajar.
Anak mampu berpikir logis, kritis, memberikan alasan, memecahkan masalah dan menemukan hubungan sebab akibat.
Anak mampu mengenal lingkungan alam, lingkungan social, peranan masyarakat dan menghargai keragaman social dan budaya serta mampu mngembangkan konsep diri yang positif dan control diri.
Anak memiliki kepekaan terhadap irama, nada, berbagai bunyi, serta menghargai karya kreatif.

Prinsip-prinsip Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan anak usia dini pelaksanaannya menggunakan prinsip-prinsip (Forum PAUD, 2007) sebagai berikut.

Berorientasi pada Kebutuhan Anak

Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis, yaitu intelektual, bahasa, motorik, dan sosio emosional.

Belajar melalui bermain

Bermain merupakan saran belajar anak usia dini. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan, memanfaatkan, dan mengambil kesimpulan mengenai benda di sekitarnya.

Menggunakan lingkungan yang kondusif

Lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa sehingga menarik dan menyenangkan dengan memperhatikan keamanan serta kenyamanan yang dapat mendukung kegiatan belajar melalui bermain.

Menggunakan pembelajaran terpadu

Pembelajaran pada anak usia dini harus menggunakan konsep pembelajaran terpadu yang dilakukan melalui tema. Tema yang dibangun harus menarik dan dapat membangkitkan minat anak dan bersifat kontekstual. Hal ini dimaksudkan agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas sehingga pembelajaran menjadi mudah dan bermakna bagi anak.

Mengembangkan berbagai kecakapan hidup

Mengembangkan keterampilan hidup dapat dilakukan melalui berbagai proses pembiasaan. Hal ini dimaksudkan agar anak belajar untuk menolong diri sendiri, mandiri dan bertanggungjawab serta memiliki disiplin diri.

Menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar

Media dan sumber pembelajaran dapat berasal dari lingkungan alam sekitar atau bahan-bahan yang sengaja disiapkan oleh pendidik /guru.

Menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar

Pembelajaran bagi anak usia dini hendaknya dilakukan secara bertahap, dimulai dari konsep yang sederhana dan dekat dengan anak. Agar konsep dapat dikuasai dengan baik hendaknya guru menyajikan kegiatan–kegiatan yang berluang .

Referensi

Masitoh dkk. (2005) Strategi Pembelajaran TK. Jakarta: 2005.

Patmonodewo, Soemiarti. (2003) Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Siti Aisyah dkk. (2007) Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka.

Sujiono, Yuliani Nurani. (2009) Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: PT Indeks.

UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Visimedia

Rabu, 07 Maret 2012

Pendidikan Karakter vs PAUD

Oleh Dr. Ulfa Maria, M.Pd.
(Widyaiswara Madya LPMP Lampung)

Pendidikan karakter merupakan pendidikan moral, budi pekerti, nilai, watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik dan buruk, serta memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. (Rencana Aksi Nasional Pendidikan Karakter, 2010).

SEBAGIAN masyarakat resah dengan keadaan sekarang. Hampir di segala dimensi kehidupan mengalami pergeseran nilai-nilai, terutama moral, dan prilaku menyimpang (bisa dikatakan mengalami krisis moral). Kalau mau disebutkan masalahnya, mulai dari dalam rumah sampai keadaan di luar rumah tak terhitung lagi masalah-masalah yang berkaitan dengan krisis moral ini. Mulai dari prilaku buruk orang tua dengan anak atau sebaliknya banyak terjadi di dalam rumah tangga.

Apalagi masalah prilaku buruk terjadi di luar rumah kalau bisa diandaikan air laut dijadikan tintanya tak akan cukup untuk menuliskan masalah yang terjadi akibat krisis moral ini. Ada apa dengan bangsa kita ini? bagaimana menyikapi masalah ini? Apakah kita harus diam-diam saja? Atau menunggu revolusi Allah SWT datang.

Fenomena yang terjadi kini ada sesuatu yang salah dari bangsa ini dalam melaksanakan kehidupan berbangsa dan bernegara. Di sini, penulis akan melihat dari ranah pendidikan. Apa yang sudah dilakukan oleh pendidikan nasional Indonesia apakah juga berkontribusi memperparah krisis moral ini? (Pembaca yang budiman yang paling mengerti jawabannya). Sementara tujuan pendidikan nasional memuat berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan pendidikan nasional adalah sumber yang paling operasional dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa. Berarti kita sudah memiliki landasan yang jelas apa yang akan dituju melalui pendidikan ini.

Karakter sebagai suatu moral excellence atau akhlak dibangun di atas berbagai kebajikan (virtues) yang pada gilirannya hanya memiliki makna ketika dilandasi atas nilai-nilai yang berlaku dalam budaya (bangsa). Karakter bangsa Indonesia adalah karakter yang dimiliki warga negara bangsa Indonesia berdasarkan tindakan-tindakan yang dinilai sebagai suatu kebajikan berdasarkan nilai yang berlaku di masyarakat dan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, pendidikan budaya dan karakter bangsa diarahkan pada upaya mengembangkan nilai-nilai yang mendasari suatu kebajikan sehingga menjadi suatu kepribadian diri warga negara.

UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3 dijelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak juga peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa serta bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, lalu menjadi warga negara yang demokratis juga bertanggung jawab. Tetapi belum mampu memberikan kontribusi yang pasti dalam meningkatkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa. Kalau dalam mengimplementasikannya tujuan dan fungsi tersebut tidak dilaksanakan dengan perencanaan dan proses yang tepat serta belum didukung oleh semua elemen terkait dalam masyarakat, rasanya masih mimpi mendapatkan generasi yang kita inginkan bersama.

Penerapan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa sudah dimulai dari sejak dini, baik di lembaga formal, nonformal, maupun informal. Ternyata setelah diamati dan diperhatikan, ada sesuatu yang belum maksimal, kurang mengintegrasikan, dan tidak menyeluruh dalam pelaksanaannya sehingga berjalan tanpa makna.

Desain rencana pembelajaran yang dirancang pendidik terkadang belum jelas ke mana pembelajaran akan dibawa. Hampir semua isinya memuat pengetahuan kognitif dan motorik. Kalau ada, nilai-nilai moral agama hanya sebatas pengetahuan bagi anak saja. Bukan memahami makna yang terkandung di setiap kegiatan. Terlihat saat proses pembelajaran formal maupun nonformal pembelajaran yang dilakukan sifatnya rutinitas tanpa makna hanya mengacu kepada tujuan bahwa pelaksanaan pembelajaran selesai dilakukan. Apakah nilai-nilai budaya dan karakter bangsa tadi ditanamkan atau tidak, tampaknya tidak terlalu dihiraukan dan itu terus menerus dirasakan atau tanpa dirasa ini telah terjadi bertahun-tahun.

Dalam UU No. 23/2000 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah salah satu upaya pembinaan yang ditujukan untuk anak sejak lahir sampai dengan 6 tahun. Dan dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar nak memiliki kesiapan dalam memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut (pasal 1 butir 14). Anak merupakan investasi masa depan yang perlu distimulasi perkembangannya sejak usia dini. Sel-sel otak yang dimiliki anak sejak lahir tidak akan mampu berkembang secara optimal jika stimulus yang diberikan tidak tepat dan tidak mendukung perkembangannya. Salah satu kawasan yang perlu dikembangkan oleh orang tua dan pendidik dalam menstimulasi anak adalah penanaman nilai-nilai budaya dan karakter bangsa. Diharapkan pada tahap perkembangan selanjutnya anak akan mampu membedakan baik buruk, benar salah, sehingga ia dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-harinya. Ini akan berpengaruh pada mudah tidaknya anak diterima oleh masyarakat sekitarnya dalam hal bersosialisasi.

Pengembangan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa anak usia dini harus dilakukan dengan tepat. Jika hal ini tidak bisa tercapai, pesan moral yang akan disampaikan orang tua dan pendidik kepada anak menjadi terhambat. Pengembangan nilai moral untuk anak usia dini bisa dilakukan di dalam tiga tri pusat pendidikan yang ada. Yaitu, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dalam pengembangan nilai moral untuk anak usia dini perlu dilakukan dengan sangat hati-hati. Hal ini dikarenakan anak usia dini adalah anak yang sedang dalam tahap perkembangan praoperasional konkret seperti yang dikemukakan oleh Piaget. Sedangkan nilai-nilai moral merupakan konsep-konsep yang abstrak. Sehingga dalam hal ini anak belum bisa dengan serta-merta menerima apa yang diajarkan guru/orang tua yang sifatnya abstrak secara cepat. Untuk itulah orang tua dan pendidik harus pandai-pandai dalam memilih dan menentukan metode yang akan digunakan untuk menanamkan nilai moral kepada anak agar pesan moral yang ingin disampaikan guru dapat benar-benar sampai dan dipahami oleh anak untuk bekal kehidupannya di masa depan.

Pendidikan karakter bukan hanya sekadar menanamkan mana yang benar dan salah. Pendidikan karakter merupakan usaha menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik (habituation). Sehingga peserta didik mampu bersikap dan bertindak berdasarkan nilai-nilai yang telah menjadi kepribadiannya, harus melibatkan pengetahuan yang baik (moral knowing), perasaan yang baik atau loving good (moral feeling) dan perilaku yang baik (moral action), sehingga terbentuk perwujudan kesatuan perilaku dan sikap hidup peserta didik.

Upaya pemerintah cukup besar dalam menanamkan dan meningkatkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa baik melalui penyusunan perangkat kebijakan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, penyiapan dan penyebaran bahan kebijakan karakter yang diprioritaskan pemberian dukungan kepada TPK tingkat provinsi dan kabupaten/kota melalui Dinas Pendidikan, komite sekolah, dan para pejabat pemerintah di lingkungan dan luar Disdik.

Diharapkan juga dalam proses pembelajaran nilai-nilai budaya dan karakter bangsa merupakan satu kesatuan dari program manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah yang terimplementasi dalam pengembangan, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum. Langkah-langkah penerapan dapat melalui sosialisasi ke stakeholders, pengembangan dalam kegiatan sekolah, yaitu: integrasi dalam mata pelajaran yang ada; mata pelajaran mulok; serta pengembangan diri, kegiatan pembelajaran, pengembangan budaya sekolah dan pusat kegiatan belajar-mengajar (PKBM), kegiatan ko-kurikuler dan/atau ekstrakurikuler, kegiatan keseharian di rumah dan masyarakat.(Radar Lampung 10 Agustus 2011)