INFO HIDUP SEHAT

Minggu, 18 November 2012

SEKOLAH TINGGI SENI RIAU : MENUJU VISI YANG RADIKAL

BAYU ARSIYADI


MENGINGAT perhatian dunia yang sedang tertuju pada: terorisme, kemiskinan dan penyakit, populasi migran tanpa harapan, sistem pendidikan yang amburadul, perampasan budaya, penjajahan dan eksploitasi, pemanasan global, sistem komunikasi dan komputer berkecepatan tinggi, kekayaan korporasi raksasa, trafficking, perjuangan kesetaraan gender/persamaan hak, penelitian internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dari latar belakang permasalahan-permasalahan sosial yang monumental tersebut, universitas di Riau dan di kota-kota lain yang menawarkan musik sebagai program studi akan terlihat aneh, bahkan tidak ada kaitan secara langsung. Kami lebih memusatkan energi pada pelatihan pemain-pemain dan komposer untuk pasar yang kian waktu kian berkurang dan sempit bagi musik seni, tradisi, orkestra, jazz dan banyak lagi. Program musik pendidikan lebih banyak mempersiapkan siswa untuk mengajar band, paduan suara, grup musik tradisi di sekolah-sekolah tanpa henti mereplikasi repertoar yang sama atau mirip atau membuat materi pop dengan bantuan komputer. Sedangkan teori dan sejarah berdasarkan superioritas musik Barat dan mata kuliah yang terkait (seperti pelatihan telinga dan analisis harmonik) tetap menjadi sesuatu yang istimewa di jenjang sarjana.

Sementara program bagi calon guru musik, terus menekankan kinerja berbasis metode di atas segalanya. Ada sedikit ruang khas yang dapat membantu siswa menjadi informan, musisi yang bijaksana dan guru yang dapat menghubungkan apa yang mereka pelajari tentang musik dan pendidikan ke dunia yang lebih luas seperti, studi filsafat, kajian budaya, sosiologi, sejarah, budaya populer atau bidang seni lainnya. Namun pada akhirnya, tujuan siswa cenderung pada pelatihan keterampilan profesional mengabaikan perannya yang akan menjadi warga-musisi terdidik yang mampu mengatasi masalah dunia nyata dan situasi yang melibatkan keunikan, ketidakpastian dan konflik nilai. Penekanan dalam program sarjana musik terus terjadi dalam taraf penerima pasif, reproduksi pengetahuan ahli dan kurangnya keterlibatan intelektual dalam dunia sosial musik.

Sempitnya tujuan dan misi tidak hanya nampak pada kurikulum kita, tapi juga dalam isolasi sosial oleh program studi musik dengan fakultas dan disiplin ilmu lain. Karena itu dosen dan mahasiswa sering kurang informasi tentang (atau hanya tidak tertarik pada) isu-isu saat ini dan perdebatan akademik yang lebih luas dalam universitas (misalnya, departemen yang akan mendanai penelitian dan program-program yang ditakutkan akan merusak gagasan pendidikan publik), sementara mahasiswa lama terlalu banyak memusatkan konten sumber daya mereka pada beberapa elit dan mengabaikan massa. Di lain pihak, akademisi dari disiplin ilmu lain kadang-kadang terlibat dalam perdebatan artistik yang lebih luas dalam ruang publik. Umumnya juga, karena keterlibatannya di ruang-ruang pemerintahan, suatu fakta yang membuat rentan saat penghematan anggaran dan reformasi pendidikan. Program studi musik lebih memilih untuk tetap tiarap, menghindar dari politik.

Meskipun ada yang beranggapan bahwa mahasiswa musik akan membenci isolasi sosial dan merasa kurang kebebasan untuk mempertanyakan dan menantang otoritas, maka lebih banyak yang memilih status quo, karena mampu membawa mereka lepas dari kekacauan dan ketidaknyamanan realitas. Pada akhirnya, guru-guru musik di SMU harus menanggung sikap lari dari kenyataan ini, karena nilai mata pelajaran musik sering terlalu tinggi dibanding dengan mata pelajaran lain, sehingga memberi keyakinan guru-guru pelajaran lain, bahwa musik adalah pelajaran yang tidak memerlukan banyak belajar dan kerja keras untuk mencapai sukses ditambah lagi kelas-kelas pertunjukan musik dianggap sebagai pengalihan perhatian dari mata pelajaran lain yang merepotkan. Jika menanyakan mahasiswa mengapa memilih studi musik dan respon yang biasa diperoleh ‘’karena menyenangkan’’ dan ‘’persiapan kerja’’ ketimbang pendapat bahwa musik adalah sesuatu yang benar-benar penting bagi masyarakat atau tantangan intelektual. Tentu saja, mahasiswa musik bukanlah satu-satunya yang melihat kampus hanya sebagai tempat untuk mendapatkan pengalaman pelatihan dan kejuruan belaka. Emberley (1996) mengamati, banyak mahasiswa yang hanya ingin ‘’informasi praktis untuk memperoleh pekerjaan’’. Pasif intelektual dan konservatisme adalah sesuatu yang biasa di perguruan tinggi.

Jika program studi sarjana musik akan mewujudkan mandat mereka untuk mendidik, tidak hanya melatih siswa, maka ada baiknya untuk mengkonfrontasikan ideologi-ideologi pelatihan yang menyenangkan dan kejuruan dari awal, terutama dalam kuliah sejarah dan pengantar teori yang selalu memakai pendekatan pembelajaran tradisional dalam kaitannya mengisi pikiran siswa dengan fakta-fakta. Dalam kuliah mereka, mahasiswa harus ditantang untuk berpikir musik sebagai konsep yang berkembang dan terbuka yang dipengaruhi oleh politik, agama, sosial, ilmu pengetahuan dan humaniora lainnya, bukan sebagai koleksi terisolasi dari fakta-fakta, tokoh, atau metode yang harus diterima secara pasif, dihafal, lalu dimuntahkan (tanpa melalui olah pikir dan rasa). Siswa juga harus diingatkan terus-menerus bahwa metode dan teknik merupakan capaian tertentu (harus ada timbal-balik di antaranya); bahwa capaian tersebut tidak harus atau selalu menjadi musikal; lebih lanjut, pencapaian juga selayaknya membawa mereka sebagai individu yang memandang pentingnya refleksi, diskusi dan evaluasi.

Seperti saran saya dalam artikel singkat ini, salah satu cara yang mungkin dapat dipertimbangkan untuk menghidupkan kembali pendidikan musik adalah dengan rekonseptualisasi, di mana permasalahan moral, etika, budaya dan politik datang lebih dahulu di hadapapan para siswa, menantang mereka menyadari potensi dirinya agar dapat berkontribusi pada perbaikan nilai-nilai masyarakat. Hal ini juga melibatkan memperkenalkan kepada siswa keragaman mosaik musik yang ada, sambil membantu mengembangkan suara-suara kritis mereka sehingga dapat berpartisipasi cerdas dalam membentuk nilai-nilai musik dan humanis lainnya. Untungnya, Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) kini membuat terobosan dengan diversifikasi mata kuliah sebagai investasi di masa depan dan mulai menghidupkan kembali pendidikan tinggi musik dengan ide-ide segar para dosen, khususnya di bidang musik Melayu, sosiologi dan filsafat. Singkatnya, mari kita lanjutkan untuk mengajar siswa dengan apa yang telah dilakukan sebelumnya, namun ada banyak hal yang lebih penting, memungkinkan mereka untuk membuat apa yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Con anima. n

Bayu Arsiadhi, dosen luar biasa di Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) dan Sendratasik Universitas Islam Riau

Sumber: Riau Pos, Minggu, 21 Oktober 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar diisi disini