INFO HIDUP SEHAT

Selasa, 29 Maret 2011

Reporter Cilik 'Lampost' Ungkap Cita-cita Boediono

Utama Lampost : Rabu, 30 Maret 2011





(Tiga reporter cilik Lampung Post Aurora Louisa (kiri), Zulfa Nurul Izzah (kanan), Rayi Fatin Naura (dua kanan) mewawancarai Wakil Presiden Boediono di Istana Wapres di Jakarta, Selasa (29-3) [atas]. Usai bertemu Wapres, mereka melakukan jumpa pers dengan )

en(Lampost): Tiga siswi berseragam merah-putih duduk di ruang tamu utama Istana Wakil Presiden (Wapres) di Jakarta, Selasa (29-3) siang. Raut wajah mereka tampak tegang. Kedua tangan terpangku di kaki.

Mereka adalah siswi SD dari Bandar Lampung yang menjadi tamu istimewa Pak Wapres. Kursi tempat mereka duduk tepat berada di samping kursi Wapres, sebagaimana disiapkan staf protokoler istana.

Suasana langsung mencair begitu sosok Boediono muncul dan menyapa dengan suara lembut. "Assalamualaikum, bagaimana kabar?" sapa Boediono. Dengan sikap kebapakan, Wapres menyalami tamunya satu per satu.

Pertama-tama, tiga reporter cilik binaan Lampung Post memperkenalkan diri. Mereka adalah Rayi Fatin Naura, siswi kelas VI SD Al Kautsar, Bandar Lampung; Aurora Louisa, siswi kelas V SD Negeri 2 Rawalaut, Bandar Lampung; dan Zulfa Nurul Izzah, siswi kelas V SD Al Azhar, Bandar Lampung. Perkenalan itu disambut senyum hangat Wapres.

Tidak ada lagi ketegangan. "Apa tugas Bapak sebagai Wakil Presiden?" tanya Rayi dengan lugas dan percaya diri, memulai wawancara.

Bak wartawan kawakan, tiga reporter cilik selanjutnya “mencecar” narasumber dengan berbagai pertanyaan. Wapres pun menjawabnya dengan sungguh-sungguh.

Rayi, Aurora, dan Zulfa mendapat kesempatan mewawancarai orang nomor dua di negeri ini setelah melalui audisi khusus yang diadakan Lampung Post, pekan lalu. Kegiatan itu dalam rangka menyambut Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) untuk memberi motivasi dan minat kepada anak-anak terhadap jurnalistik.

"Mau mewawancarai Pak Boediono ternyata deg-degan ya. Tapi, itu benar-benar pengalaman yang luar biasa," kata Rayi saat jumpa pers di Istana Wapres, usai wawancara khusus dengan Boediono.

Kepada belasan wartawan nasional yang biasa meliput di lingkungan Istana Presiden dan Wapres, mereka menceritakan isi wawancara. "Kami memulai bertanya seputar kegiatan Wapres sehari-hari. Ketika kami tanya apa perannya, dia jawab utamanya membantu presiden," kata Rayi menirukan Boediono.

Wapres juga mengaku tidak pernah bercita-cita menjadi pemimpin bangsa, apalagi sampai menjabat wakil presiden. Boediono kecil justru bercita-cita menjadi pembuat wayang. "Pak Boediono bilang, ketika di Blitar banyak suka main dan nonton wayang. Jadi, dia ingin sekali membuat wayang," kata Aurora.

Tak dinyana, Boediono juga gemar olahraga. Semasa muda ia hobi main bola. Kegemaran lain Boediono semasa kecil adalah mandi di kali dan mengelilingi desa bersama teman sebayanya. "Dia menggembala kambing setiap sore," katanya.

Secara khusus, kata Rayi, Wapres memuji potensi dan suburnya tanah Lampung sehingga sangat bagus untuk pertanian. Lautnya juga bagus, apalagi posisi Lampung sebagai pintu gerbang Sumatera.

Saat ditanyakan makanan yang disukai ketika berkunjung baru-baru ini ke Lampung, Boediono balik bertanya, "Kalau begitu, apa makanan khas di Lampung?" Aurora, Naura, dan Zulfa serentak menjawab, "Seruit, tempoyak, dan pindang."

Boediono kemudian menimpali, "Baik, akan saya catat itu. Saya janji, nanti kalau ke Lampung, saya akan coba."

Terungkapnya cita-cita Boediono adalah informasi eksklusif yang berhasil digali tiga repoter cilik Lampung Post dalam wawancara itu. Juru Bicara Wapres, Yopie Hidayat, bahkan mengaku baru mengetahui kalau Boediono pernah bercita-cita menjadi pemahat wayang.

Yopie memberi apresiasi luar biasa kepada ketiga siswi SD itu. "Program ini bagus sekali, baru pertama kalinya Wapres diwawancarai reporter cilik," pujinya.

Tiga reporter cilik yang melakukan wawancara eksklusif didampingi Wakil Pemimpin Umum Lampung Post Djadjat Sudradjat, Redaktur Minggu Sudarmono, Asred Minggu Rinda Mulyani, dan fotografer Ikhsan. Hasil liputan mereka akan dimuat secara lengkap dalam edisi khusus Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei mendatang. (RIN/R-1)

REPORTER CILIK... Hlm. 6

Lidah untuk Menggigit

Pendidikan Lampost : Rabu, 30 Maret 2011

Dian Anggraini *

Duduk berlama-lama di depan televisi sebenarnya bukanlah kegemaran saya. Akan tetapi, belakangan ini, nyanggong di depan layar kaca terpaksa saya lakukan. Bukan karena kepincut sinetron atau gosip selebritas, melainkan saya terusik iklan salah satu produk pasta gigi.

Seorang ibu muda dengan lugas bercerita tentang gigi sensitifnya. Kegemarannya makan es krim terganggu sehingga ia terpaksa menggunakan lidahnya untuk menggigit. Namun, masalah itu teratasi karena ia menggunakan pasta gigi “x”. Kini, Ia sudah tidak merasa ngilu lagi.

Sekilas memang tidak ada yang salah dengan gigi ataupun produk yang ditawarkan. Hanya saja, saya terganggu dengan diksi yang dipergunakan ibu itu. "Jadi, saya pakai lidah saya untuk menggigit es krim," ujarnya. Beberapa kali saya berusaha menerjemahkan maksudnya, lidah untuk menggigit, tapi tetap saja imajinasi saya tak sampai.

Penasaran, saya membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dalam kamus tersebut dijelaskan lidah adalah bagian tubuh dalam mulut yang dapat bergerak-gerak dengan mudah, gunanya untuk menjilat, mengecap, dan berkata-kata, sedangkan menggigit berarti aktivitas menjepit (mencekam dsb.) dengan gigi. Kalaupun ada, yang tertulis hanya idiom gigit lidah yang berarti merasa malu dengan cemoohan atau kecaman orang lain.

Saya lalu beralih ke kata gigi. Gigi bermakna tulang keras dan kecil-kecil berwarna putih yang tumbuh tersusun berakar di dalam gusi dan kegunaanya untuk mengunyah atau menggigit. Selanjutnya hanya ada idiom gigi; gigi dengan lidah (gigi dengan lidah adakalanya bergigit juga) yang artinya suami istri (sanak saudara, sahabat karib, dsb.) adakalanya bertengkar juga.

Sejauh ini, saya sama sekali tidak menemukan fungsi lidah sebagai pengganti fungsi gigi. Karena itu, saya lebih setuju jika Yvete, nama ibu muda tersebut, mengucapkan: "Jadi saya pakai lidah saya untuk menikmati es krim".

Tidak sampai di sini saja. Pada akhir curhatnya, eksekutif perusahaan ini lagi-lagi mengungkapkan kalimat yang kembali membuat saya mengernyitkan dahi. "Menyikat gigi dengan 'x' dua kali sehari, sekarang saya tidak terasa ngilu lagi". Saya rasa kalimat itu rancu.

Kerancuan muncul karena kalimat tersebut tidak paralel. Pada anak kalimat ada predikat menyikat dan pada induk kalimat predikatnya terasa. Jika taat asas paralelisme, lebih baik Yvete mengatakan "Menyikat gigi dengan 'x' dua kali sehari, sekarang saya tidak merasa ngilu lagi".

Maman S. Mahayana dalam Bahasa Indonesia Kreatif menyatakan banyak produk barang atau jasa ditawarkan tanpa disertai dengan penggunaan bahasa Indonesia secara benar. Akibatnya, ketika kita berusaha memahami maknanya, yang muncul adalah kesan yang aneh dan lucu.

Menurut Maman, bahasa iklan, karena sifatnya yang persuasif, selalu berusaha mengugah emosi pembaca atau pendengar. Tujuannya agar yang menjadi sasaran iklan, melakukan sesuatu atau bertindak sesuai dengan amanat iklan tersebut. Oleh karena itu, dalam bahasa iklan, bentuk rayuan, anjuran atau ajakan, bahkan kata-kata yang dapat menimbulkan rasa penasaran, sebenarnya hanya kemasan untuk “menutupi” amanat yang ingin dicapai iklan.

Selain itu, iklan juga merupakan pemberitahuan kepada khalayak. Dalam memberitahukan tersebut, iklan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasinya. Bahasa sebagai alat komunikasi dalam iklan sangat penting di samping terdapat gambar-gambar yang mendukungnya (Sustiyanti, 2010:2). Jadi, jika bahasa yang digunakan mampu menarik atau memengaruhi konsumen niscaya produk tersebut laris manis. Sebaliknya, jika bahasa yang disampaikan blentang-blentong, dijamin pendengar malah berlalu.

* Pemerhati bahasa, tinggal di Bandar Lampung

RSBI Dievaluasi Usai UN

Pendidikan Lampost : Rabu, 30 Maret 2011


BANDAR LAMPUNG (Lampost): Dinas Pendidikan Bandar Lampung akan mengevaluasi delapan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) usai ujian nasional (UN).

Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Bandar Lampung Ryuzen Praja Tuala, di ruang kerjanya, Selasa (29-3), mengatakan hasil UN akan menjadi pintu masuk pihaknya mengevaluasi RSBI.

Menurut fia, ada dua faktor yang menyebabkan masyarakat berharap banyak pada penyelenggaraan RSBI. Pertama, karena RSBI dalam penerimaan siswa barunya menggunakan sistem berbeda. “Bisa dikatakan mereka yang bersekolah di sana memiliki kemampuan akademik yang lebih.”

Kedua, sesuai peraturan, RSBI berhak meminta bantuan kepada orang tua siswa, ditambah dana yang dikucurkan pemerintah yang cukup besar. “Tentunya pertanggungjawabannya juga besar pula," kata dia.

Menurut Ryuzen, dengan input yang berkualitas dan dana pengelolaan yang besar, hasil ujian nasional RSBI harus berbeda jauh dengan sekolah lainnya. “Jika sama, lalu apa bedanya RSBI dengan sekolah reguler biasa,” ujarnya.

Dari hasil UN akan dilihat pada mata pelajaran apakah siswa mengalami kelemahan, dan apakah terkait kualitas guru RSBI yang belum sesuai standar. “Jika perlu, kualitas kepala sekolah sebagai pengelola juga akan kita evaluasi.”

Guru yang berkualitas dan sesuai standar akan dipertahankan, sebaliknya guru yang tidak relevan dengan standar RSBI dipindahkan. “Kita akan merekrut guru yang sesuai kualitas standar RSBI. Jika perlu kita akan datangkan guru dari luar negeri untuk mengajar di sini," kata Ryuzen.

Mengenai pendanaan RSBI, menurut dia, telah terjadi salah penafsiran terkait penggunaan dana bantuan pemerintah dan sumbangan wali murid terhadap RSBI. Sebagian besar RSBI, terutama di tingkat dasar dan menengah, lebih mengutamakan pembangunan fisik.

"Padahal, seharusnya dana tersebut dipergunakan untuk peningkatan mutu dan kualitas guru dan anak didik. Sudah lagilah, berhentilah membangun secara fisik yang tidak akan ada habisnya. Dana tersebut harus digunakan untuk peningkatan mutu pembelajaran," kata dia.

Ryuzen menuturkan pembangunan yang relevan untuk peningkatan mutu pembelajaran adalah pembangunan labolatorium beserta peralatannya, baik laboratorium fisika, kimia, biologi, dan bahasa. Kemudian, pengadaan buku yang bermutu, menyekolahkan guru, mendatangkan pembicara atau guru bahasa Inggris akitf, serta kegiatan yang mampu meningkatkan kualitas siswa.

"Kalau plafon, pintu gerbang, ruang lobi sekolah, fasilitas pendingin ruangan tidak ada kaitannya dengan peningkatan mutu pembelajaran. Jadi bisa saya katakan mereka telah salah kaprah dalam mengelola anggaran," kata dia.

Ia menyatakan Pemerintah Kota Bandar Lampung berniat akan serius mengevaluasi dan mengelola RSBI ke depan. Meskipun RSBI merupakan program pemerintah provinsi, Pemkot bertekad akan membangun pendidikan bermutu di kota ini, termasuk menyelenggarakan RSBI. (MG14/S-1)

Menyoal Penyimpangan Dana BOS

Selasa, 29 Maret 2011


AGUS WIBOWO
Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

Baru-baru ini, Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) mencoba menerapkan mekanisme baru penyaluran dana bantuan operasional sekolah (BOS). Jika semula dana BOS langsung ditransfer dari Bendahara Negara ke rekening sekolah, saat ini dari Bendahara Negara ditransfer terlebih dahulu ke kas Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), baru diteruskan ke rekening sekolah. Menurut Kemendiknas, mekanisme baru ini bertujuan memberikan kewenangan lebih besar kepada pemerintah daerah dalam penyaluran dana BOS. Dengan cara itu, pengelolaan diharapkan pula menjadi lebih tepat waktu, tepat jumlah, dan tak ada penyelewengan (Media Indonesia, 15-1).

Sepintas, tujuan penerapan model baru penyaluran dana BOS memang ideal dan efektif. Namun, yang terjadi kemudian adalah banyaknya keterlambatan penyaluran karena mekanismenya menjadi penuh liku, yaitu dari Kemendiknas melalui kas APBD dana BOS baru ditransfer ke sekolah. Pertanyaannya kemudian adalah apakah ada jaminan dana BOS tidak diselewengkan pemerintah daerah (pemda), dengan alasan pemerataan, tetapi senyatanya disalurkan kepada kelompok tertentu—yang dulu menjadi pendukung ketika pilkada?

Jika dikaji dengan bijak, terobosan Kemendiknas mengenai penyaluran dana BOS memang tidak seluruhnya tepat, tetapi juga tidak sepenuhnya salah. Ada benarnya karena selama ini ketika dana BOS langsung ditransfer ke rekening sekolah, terjadi banyak penyimpangan. Seperti yang terjadi pada 2009, di Gunungkidul, Bantul, dan Magelang, dana BOS diselewengkan. Sebagaimana temuan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) RI, 2009, di Gunungkidul BOS disalurkan secara tidak tepat di 12 sekolah dasar (SD) dan 13 sekolah menengah pertama (SMP). Menurut Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) 2009 BPK itu, terdapat 48 sekolah yang sampai hati melakukan pungutan liar (pungli) terhadap siswa. Pungutan itu dibedakan menjadi iuran rutin bulanan menyerupai SPP dan iuran sukarela yang dikenakan berdasarkan kebutuhan sekolah dengan model pembayaran diangsur. Ironisnya, jumlah nominal iuran itu tidak membedakan antara siswa dari kalangan miskin dan golongan mampu, alias pukul rata.

Berdasar pengakuan para siswa, sekolah berdalih terpaksa menarik sumbangan dan pungutan lantaran dana BOS tidak mencukupi pembiayaan pendidikan. Pengakuan sekolah itu tentu saja sangat kontras. Pasalnya, untuk daerah Gunungkidul, selain memperoleh BOS yang bersumber dari Pemerintah Pusat pada 2008, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat juga telah memberikan subsidi pendidikan senilai Rp80 ribu hingga Rp180 ribu/siswa/tahun. Tidak hanya di Gunungkidul, Bantul, dan Magelang, penyelewengan dana BOS juga terjadi di Jakarta. BPK Perwakilan Jakarta, misalnya, menemukan indikasi penyelewengan pengelolaan dana sekolah, terutama dana BOS 2007—2009, sebesar Rp5,7 miliar di tujuh sekolah di DKI Jakarta. Sekolah-sekolah tersebut terbukti memanipulasi surat perintah jalan (SPJ) dengan kuitansi fiktif dan kecurangan lain dalam SPJ (Media Indonesia, 15-1).

Contoh manipulasi antara lain kuitansi percetakan soal ujian sekolah di bengkel AC mobil oleh SDN 12 RSBI Rawamangun. SPJ dana BOS sekolah ini ternyata menggunakan meterai yang belum berlaku. Bahkan lebih parah lagi, BPK tidak menemukan adanya SPJ dana BOS 2008 karena hilang tak tentu rimbanya. Secara umum, berdasar audit BPK atas pengelolaan dana BOS tahun anggaran 2007 dan semester I 2008 pada 3.237 sekolah sampel di 33 provinsi, ditemukan nilai penyimpangan dana BOS lebih kurang Rp28 miliar. Penyimpangan terjadi pada 2.054 atau 63,5% dari total sampel sekolah itu. Rata-rata penyimpangan setiap sekolah mencapai Rp13,6 juta. Penyimpangan dana BOS yang terungkap antara lain dalam bentuk pemberian bantuan transportasi ke luar negeri, biaya sumbangan PGRI, dan insentif guru PNS.

Periode 2004—2009, kejaksaan dan kepolisian seluruh Indonesia juga berhasil menindak 33 kasus korupsi terkait dengan dana operasional sekolah, termasuk BOS. Kerugian negara dari kasus itu lebih kurang Rp12,8 miliar. Selain itu, sebanyak 33 saksi yang terdiri dari kepsek, kepala Dinas Pendidikan, dan pegawai Dinas Pendidikan telah ditetapkan sebagai tersangka (Febri Hendri A.A., 2010).

Salah Sasaran

Akibat penyimpangan dana BOS itu, program pendidikan gratis yang digagas pemerintah belum bisa direalisasikan. Singkatnya, rakyat miskin masih tetap dikenai beban atas biaya pendidikan anak-anak mereka, di tengah tekanan kebutuhan ekonomi yang semakin mengimpit.

Selain itu, fenomena iuran dan pungutan liar bagi siswa tersebut mengindikasikan adanya ketidaktepatan atau pelaksanaan program BOS yang salah sasaran. Dengan ketidaktepatan program BOS itu, paling tidak ada dua pihak yang dirugikan. Pertama, maksud baik dan tujuan mulia pemerintah agar rakyat mengenyam pendidikan gratis sekadar impian lantaran tereliminasinya dana BOS. Kedua, kesempatan rakyat miskin mengenyam pendidikan gratis menjadi hilang lantaran dana BOS diselewengkan oknum tertentu, atau tidak disalurkan sebagaimana mestinya.

Padahal menurut Bambang Sudibyo (2009), program BOS ini dimaksudkan untuk mewujudkan pendidikan dasar gratis sembilan tahun. Adapun perincian alokasinya dana BOS yang berasal dari pemerintah dialokasikan untuk menutupi biaya investasi (pengadaan sarana prasarana) serta biaya operasional sekolah. Biaya personal (biaya yang ditanggung peserta didik) menjadi inisiatif dan tanggung jawab pemerintah lokal. Dengan model pendanaan seperti itu, rakyat kurang mampu alias miskin diharapkan tidak lagi dibebani berbagai pungutan atau iuran dana pendidikan.

Jika mencermati kasus penyelewengan dana BOS di berbagai tempat itu, terlihat sekali betapa sekolah dan komite/dewan sekolah tidak memahami harapan pemerintah pusat dan daerah. Dengan kata lain, demi kepentingan pihak sekolah—maupun oknum tertentu—mereka rela merampas hak serta membebani rakyat. Benar pungutan melalui komite sekolah yang sifatnya sukarela dibolehkan, tetapi tidak lantas mencari-cari “proyek” agar bisa menarik dana dari siswa. Misalnya alat-alat atau perabot sekolah yang sebenarnya masih bisa dipakai diganti yang baru. Mestinya sekolah membuat skala prioritas serta melakukan perencanaan yang matang dalam alokasi pembiayaan pendidikan. Dengan demikian, siswa miskin tidak selalu dijadikan korban, tetapi justru dibantu.

Akuntabilitas

Model baru penyaluran dana BOS yang diterapkan Kemendiknas ternyata memang menimbulkan problem baru, utamanya masalah keterlambatan. Diduga, juga terjadi banyak pungutan liar yang dilakukan oknum pemda setempat dengan alasan administrasi pencairan dana BOS, ketidakmerataan penyaluran, dan sebagainya. Guna mengawal model baru penyaluran dana BOS, serta untuk meminimalkan terjadinya penyimpangan untuk tidak mengatakan penyelewengan dana BOS, tampaknya masyarakat bersama pemangku kepentingan pendidikan perlu melakukan langkah-langkah urgen, di antaranya, pertama, kepala daerah harus berani bertindak tegas apabila terdapat jajaran kepala sekolah yang melakukan penyimpangan dana BOS. Sebagai contoh di Sulawesi Selatan (Sulsel) beberapa kepala sekolah dikenai sangsi hukuman oleh pemda setempat, lantaran terbukti melakukan pungli dan iuran kepada siswa.

Kedua, pengawas sekolah dibantu para guru memantau dengan cermat dan teliti penggunaan dana BOS, khususnya yang dikelola sendiri oleh kepala sekolah. Di samping untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas, tidak tertutup kemungkinan dana BOS bisa menjadi sumber korupsi bagi kepala sekolah.

Ketiga, pemda harus mengoptimalkan potensi pengawas sekolah. Dengan optimalisasi peran pengawas, diharapkan tidak ada lagi oknum-oknum yang berani bermain dengan dana BOS yang notabene adalah untuk siswa dan pembangunan sekolah. Itu artinya, pengawas sekolah tidak lagi hanya sekali-sekali mengawasi sekolah, tetapi harus kontinu; bila perlu, sekali sebulan atau dua kali dalam sebulan. Untuk tugas ini, dinas pendidikan (disdik) juga harus menempatkan orang yang tepat, bukan asal tunjuk (the right man).

Keempat, di tingkat disdik harus dibentuk tim yang bertugas menghimpun data pengawasan distribusi BOS baik dari pemda ke sekolah maupun dari sekolah ke anak didik. Dengan pembentukan tim itu, tingkat terjadinya penyimpangan diharapkan bisa diperkecil atau diminimalkan. Lebih dari itu, orientasi dana BOS akan terlihat jelas, yaitu untuk peningkatan mutu pendidikan, bukannya memfasilitasi kepentingan oknum atau kelompok tertentu.

Pada akhirnya, niat baik pemerintah merealisasikan program pendidikan gratis bagi rakyat harus didukung dan diapresiasi secara positif. Pemerintah lokal hingga jajaran sekolah harus transparan dan akuntabel dalam mengelola dana BOS. Tujuannya agar penyaluran dana BOS bisa tepat pada sasaran sehingga semua rakyat kurang mampu bisa memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan, tanpa terbebani oleh kewajiban membayar biaya pendidikan. Semoga. n

Dana RSBI Harus Diaudit

Pendidikan Lampost : Selasa, 29 Maret 2011


BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pengelolaan keuangan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) di Provinsi Lampung harus diaudit karena setiap tahun mendapat kucuran dana cukup besar.

Saat ini terdapat 28 sekolah RSBI di Lampung yang mendapat kucuran dana baik dari Pemerintah Pusat, pemerintah daerah maupun kabupaten/kota. Tak hanya itu, dalam pengelolaannya, RSBI juga berhak memungut sumbangan dari orang tua siswa yang jumlahnya relatif lebih besar.

“Sudah selayaknya pengelolaan keuangan RSBI harus diaudit, baik secara internal maupun eksternal. Apalagi sistem pengelolaan RSBI saat ini tidak jelas,” kata Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Lampung Sutopo Ghani Nugroho, di Bandar Lampung, Senin (28-3).

Pada 2010 lalu, Dewan Pendidikan pernah mengevaluasi RSBI di Lampung. "Jumlah dana yang dikelola RSBI cukup besar. Per tahun per sekolah minimal mendapat dana hibanh Rp450 juta rupiah, dengan perincian Rp300 juta dari dana APBN, Rp100 juta dari APBD provinsi, dan sisanya dari APBD kabupaten atau kota," kata dia.

Jika di Lampung ada 28 RSBI, dalam setahun setidaknya Rp12,600 miliar dana yang diinvestasikan untuk pendidikan sektor ini. Seandainya diasumsikan RSBI telah berjalan selama empat tahun, dana yang diinvestasikan pemerintah mencapai Rp50,4 miliar.

Mengingat besaran dana serta adanya pungutan kepada masyarakat, Sutopo berpendapat RSBI sudah selayaknya diaudit. Menurut dia, masalah dalam pengelolaan keuangan di RSBI tidak adanya standar yang jelas, yang ditetapkan oleh pemerintah.

"Mereka hanya mengucurkan dana ke pihak sekolah. Mengenai penggunaannya untuk apa tidak ada acuan dari pemerintah. Yang ada saat ini hanya laporan rutin. Seharusnya, pemerintah memberi acuan berapa persen untuk infrastruktur dan berapa persen untuk menunjang mutu pendidikan," kata dia.

Dengan tidak adanya acuan tersebut, Sutopo menuturkan pengelolaan RSBI di Lampung tanpa arah dan tujuan yang jelas. Berbeda dengan pengelolaan RSBI di Jawa Timur atau di Kota Surabaya, di sana jelas terlihat dana RSBI diprioritaskan kepada peningkatan mutu pembelajaran.

"Di sana fasilitas gedung tidak berubah apalagi berpindah, tapi proses pembelajarannya sangat kental terasa bertaraf internasional. Siswa aktif di kelas bahkan memiliki banyak waktu di laboratorium. Guru-guru di sana, bahkan dimagangkan hingga ke luar negeri," kata dia.

Oleh karena itu, berdasarkan hasil evaluasi Dewan Pendidikan terhadap RSBI di Lampung hasilnya belum memuaskan. Hampir seluruh sekolah belum ada yang memenuhi syarat S-2 untuk guru RSBI dan penggunaan bahasa Inggris yang masih lemah. (MG14/S-1)

Masyarakat Cenderung Abaikan Spiritualitas

Pwndidikan Lampost : Senin, 28 Maret 2011


JAKARTA (Lampost): Krisis kemanusiaan pada masyarakat modern tidak terlepas dari krisis persepsi masyarakat dalam memandang manusia semata dari dimensi fisik.

"Masyarakat kita semakin tergenggam modernitas sehingga akar spiritualitas dan dimensi makna yang berhembus sebagai roh penggerak perilaku dan interaksi manusia dengan dunia saat ini mulai kehilangan signifikansinya," kata Director of the Islamic College Jakarta Seyyed Ahmad Fazelli saat menjadi pembicara pada Seminar Internasional Anthropology of Transcendent Philosophy di Hotel Sultan Jakarta, Sabtu (26-3).

Akibatnya, kata Seyyed, semakin terjadi pendangkalan visi dalam menentukan tujuan sebab hanya berorientasi pada hal-hal yang sifatnya materialistis. "Seluruh pertimbangan kita dalam menentukan tujuan, pola interaksi dan kebijakan dalam menjalankan roda kehidupan dalam berbagai lini secara sosial, ekonomi, politik, dan budaya tereduksi pada orientasi yang bersifat materialistis," kata Seyyed.

Menurut dia, manusia modern memandang kehidupan sebagai realitas satu dimensi material sehingga segala bentuk peradaban manusia tidak lebih disebabkan kemampuan otaknya yang melebihi kemampuan makhluk lainnya.

Dalam cara pandang ini, kata Seyyed, sisi sakral, transenden, serta sisi intuitif manusia sebagaimana sering dikemukakan berbagai agama serta yang ditekankan sebagai yang utama dalam beragam tradisi masyarakat kita di masa lalu, terbelenggu.

"Intinya, manusia itu spritualis dan mari kita gunakan pula pola pikir kita sendiri," kata Seyyed yang juga guru besar International University of Iran ini.

Pada bagian lain, Muhammad Reza Shaleh dari International University of Iran mengatakan perlunya dilakukan berbagai dialog untuk menekan krisis manusia modern dalam memandang manusia secara kosmologis, epistemologis, dan etis. "Saya meyakini dialog itu rahasia yang paling utama dari Tuhan," kata Shaleh.

Melalui dialog, kata dia, akan tercapai tatanan hidup yang harmonis dan itu penting sebagai bentuk lain dari ibadah. Lantas melalui dialog mengajak kita untuk tidak memaksakan kehendak.

Sebelumnya, Kamis (24-3), Wakil Presiden Boediono mengatakan sebuah gambar lebih bernilai daripada seribu kata. Apalagi kalau gambar itu bisa berbicara. Ia bernilai lebih dari sejuta kata. Itulah televisi. Untuk itulah Wapres mengingatkan agar pemilik dan pengelola stasiun televisi turut mendidik masyarakat.

Hal itu disampaikan Wapres saat memberikan sambutan dalam pembukaan acara Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Award di Gedung TVRI Jakarta.

Menurut Wapres, jangan dilupakan bahwa para pemilik dan pengelola stasiun televisi sebetulnya mendapatkan privilese yang luar biasa dari masyarakat. Pasalnya, diperbolehkan memakai sebuah sarana publik yang sangat terbatas ketersediaannya, yakni frekuensi.

"Rasanya cukup pantas jika pemilik dan pengelola stasiun televisi membayar kembali privilese itu dengan upaya yang tulus untuk turut mendidik masyarakat. Tugas public education," ujar Wapres. (S-1)

Laboratorium Budaya Bangun Karakter Anak

Keluarga Lampost : Minggu, 27 Maret





FUNGSI sekolah tidak sekadar melakukan transfer knowledge (perpindahan pengetahuan), tetapi juga transfer value (perpindahan nilai) kepada para siswa. Oleh sebab itu, sekolah tidak hanya berfungsi meningkatkan kecerdasan intelektual, tetapi juga berperan dalam membangun karakter anak didik.

Hal ini dikatakan pendiri Sekolah Alam Lampung Citra Persada kepada Lampung Post, Sabtu (26-3). Menurut Citra, simpul yang menyatukan kognisi, keterampilan, dan watak adalah nalar. Oleh sebab itu, pihak sekolah harus menyusun materi, silabus, dan cara penyampaian dengan titik sentralnya pada pengembangan nalar. Sehingga sekolah tidak hanya menghasilkan manusia pintar-terampil, tetapi juga berkarakter.

“Nah, sumber-sumber bahan ajarnya berasal dari khasanah budaya, dalam hal ini budaya Lampung. Khasanah budaya bangsa kita memuat nilai-nilai sopan santun, keindahan, gotong-royong, disiplin, dan lain sebagainya,” ujar Citra. Transfer nilai-nilai inilah yang belakangan ini mulai memudar dan diabaikan oleh banyak pendidik dan sekolah.

Citra mengatakan kurikulum Sekolah Alam Lampung berbasis proyek (project-based curriculum) yang terdiri dari proyek teknologi informasi, bioteknologi, dan budaya. “Saya, bersama pimpinan Sekolah Alam sepakat masing-masing proyek harus didukung oleh laboratorium,” kata dia. Untuk proyek teknologi informasi, pihaknya memiliki laboratorium komputer dan multimedia. Untuk proyek bioteknologi, Sekolah Alam Lampung sudah memiliki laboratorium hidup dan sains. Sedangkan untuk proyek budaya, pihaknya mendirikan laboratorium budaya sejak tahun ajaran 2009—2010.

Menurut Citra, melalui laboratorium budaya inilah tenaga didik melakukan transfer nilai kepada para siswanya. Laboratorium budaya ini lebih menekan kepada proses bukan produk, misalnya siswa belajar membuat tapis. Tahap pertama, guru akan memperkenalkan definisi, sejarah, dan bentuk tapis kepada siswa. Selanjutnya, siswa diajak ke perajin tapis untuk melihat langsung proses pembuatan tapis. Setelah itu, siswa membuat tapis sendiri, dan hasil karyanya akan dipajang di pameran sekolah.

“Selama proses belajar membuat tapis ini, siswa belajar tentang kerja keras, mandiri, dan kerja sama. Karena untuk menyelesaikan satu tapis tidak hanya dikerjakan o satu orang, bisa lebih dari dua orang. Kalau tidak, bisa berbulan-bulan selesainya,” kata Citra.

Menurut dia, tiga proyek budaya yang dilaksanakan Sekolah Alam Lampung adalah tapis, topeng sekura, dan cetik. Kain tapis merupakan pakaian wanita suku Lampung yang berbentuk kain sarung dari tenun benang kapas. Motifnya sangat beragam, disulam dari benang perak atau benang emas. Topeng sekura adalah topeng yang digunakan dalam pesta sekura. Perayaan sekura sebagai simbol kemenangan bagi masyarakat Lampung Barat setelah melaksanakan ibadah puasa. Pesta sekura ini biasanya dilaksanakan pada hari pertama sampai hari ketiga Idulfitri. Sedangkan cetik adalah alat musik tradisional asal Lampung Barat, atau dikenal juga dengan gamelan pekhing.

“Belajar tentang topeng sekura, siswa akan tahu bahwa topeng itu dipakai untuk pesta sekura sebagai simbol kegembiraan dan kemenangan,” kata dosen Universitas Lampung ini. Menurut Citra, selain tiga proyek budaya itu, siswa-siswa juga belajar warahan, sendratari, dan drama yang mengangkat cerita daerah, misalnya Ratu Dipunggung, Ratu Dibalau, dan Raden Jambat. (RINDA MULYANI/M-1)

2011, BOS Masa Transisi

Profil Lampost : Minggu, 27 Maret 2011


TAUHIDI
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Lampung

Pemerintah menggulirkan dana bantuan operasional sekolah (BOS) sejak Juli 2005 untuk membiayai pendidikan di SD dan SMP. Namun, pada 2011 sistem penyalurannya diubah.


Dana BOS merupakan satu-satunya sumber pembiayan bagi SD tanpa label rintisan sekolah dasar bertaraf internasional (RSBI). Baru-baru ini Mendiknas mengeluarkan Permendiknas No. 37 Tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Pencairan Dana BOS.

Mulai 2011, dana BOS masuk dalam dana alokasi umum (DAU) dan disalurkan melalui pemerintah daerah kabupaten/kota. Hal itu berimplikasi pada proses pencairan yang sedikit lebih terperinci dibandingkan pencairan tahun-tahun sebelumnya. Akibatnya, hingga minggu ketiga bulan Maret masih banyak daerah di Indonesia, termasuk di Lampung, yang belum mencairkan dana BOS.

Bagaimana kondisi di Lampung? Berikut petikan wawancara wartawan Lampung Post Sudarmono dan Sri Wahyuni dengan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Lampung Tauhidi, Jumat (25-3).

Berita tentang keterlambatan pencairan dana BOS terus muncul di media. Bahkan ada judul berita Sekolah Kritis karena harus berutang. Bagaimana duduk persoalan dana BOS ini?

Mulai 2011, pemerintah memasukkan dana BOS ke dalam dana perimbangan dan disalurkan melalui dana alokasi umum (DAU). Dana tersebut disalurkan langsung kepada pemerintah kabuapten/kota.

Pola penyaluran ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yang dananya dikirim langsung ke rekening sekolah melalui Dinas Pendidikan Provinsi. Untuk bisa mencairkan dana BOS, ada berbagai ketentuan yang harus dipenuhi sekolah sesuai dengan Permendiknas No. 37 Tahun 2010 tentang Pentunjuk Teknis Penggunaan dana BOS tahun angaran 2011. Artinya, semua pencairan dana BOS harus memenuhi standar pengelolaan keuangan pemerintah daerah. Sebelum mencairkan dana BOS sekolah harus menyusun rencnna anggaran pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS) dan rencana kerja anggaran (RKA). Pertanggungjawaban keuangannya juga harus sesuai dengan standar laporan keuangan yang ditetapkan Menteri Keuangan. Hal ini sedikit banyak memengaruhi proses pencairan. Apalagi hingga saat ini masih sedikit daerah yang menyolisasikan peraturan baru tersebut. Akibatnya, pencairan dana BOS menjadi sedikit terlambat.

Menurut kepala sekolah, Dinas Pendidikan tidak menyosialisasikan peraturan baru tersebut, sehingga mereka tidak tahu?

Terus terang kewenangan kami di Dinas Pendidikan Provinsi hanya pada koordinasi dan terus mengimbau kepada daerah untuk segera mencairkan dana BOS. Namun, kewenangan pencairan ada pada pemerintah kabupaten/kota melalui Badan Pengelola Keuangan Daerah masing-masing. Kami sudah berkali-kali mengundang kepala dinas pendidikan kabupaten/kota dan meminta agar mereka segera mencairkan dana BOS. Ke depan, kami juga akan membantu sekolah melalui Musyawarah Kerja Kepala Sekolah untuk mengadakan bimbingan teknis penyusunan RKA.

Masih berapa daerah di Lampung yang belum mencairkan dana BOS?

Sampai dengan hari ini (Jumat, [25-3]), tinggal empat daerah di Lampung yang belum mencairkan dana BOS. Daerah itu; Lampung Timur, Tulangbawang, Lampung Utara, dan Lampung Selatan. Tapi, keempat daerah tersebut sedang dalam proses pencairan dan diperkirakan minggu depan dananya bisa dicairkan sekolah. Jadi, bisa dikatakan pada minggu keempat Maret semua dana BOS di Lampung bisa dicairkan.

Pencairan dana BOS kali ini terkesan dipaksanakan, apalagi dengan adanya ancaman dari Mendiknas bahwa daerah yang terlambat akan dipotong DAU-nya tahun 2011?

Anggapan itu tidak benar, daerah mencairkan dana BOS karena semua ketentuan sudah dipenuhi, sehingga tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Bahkan, kekhawatiran kepala sekolah tentang adanya beberapa item yang tidak bisa dibiayai dana BOS sangat tidak beralasan. Sebenarnya, keterlamabatan pencairana dana BOS tidak hanya terjadi saat ini, tapi hampir terjadi setiap tahun, sehingga kepala sekolah sudah terbiasa.

Ke soal lain. Sebentar lagi ujian nasional. Apakah keterlambatan dana BOS ini tidak memengaruhi kesiapan sekolah?

Saya yakin tidak terpengaruh. Para pendidik dengan segala daya upaya tetap menjalankan proses belajar mengajar sesuai dengan jadwal. Bahwa ada sedikit masalah pendanaan opersional, itu bisa diatasi oleh sekolah masing-masing. Sebab, kepastian cairnya dana BOS itu jelas, jadi tidak ada masalah.

Banyak rumor bahwa sekolah sudah mulai mengubah rapor siswa untuk mendongkrak nilai agar tingkat kelulusan tetap tinggi?

Saya tegaskan kepada semua jajaran Dinas Pendidikan, termasuk kepada kepala sekolah, sebaik apa pun peraturannya, kalau kita tidak amanah dan mampu melaksanakan dengan baik, tentu ada celah untuk melakukan kecurangan.

Namun, saya sudah mewanti-wanti agar kita jujur, apa pun hasilnya. Bahkan jika hasil UN nanti tingkat kelulusan untuk mendapatkan nilai akhirnya dengan menambahkan 40% nilai rapor dan ujian akhir sekolah serta 60% nilai ujian nasional, dan kemudian hasilnya kurang memuaskan, saya siap. Itu lebih baik daripada kita curang untuk mendapatkan sesuatu. Saya siap tidak populer jika hasil UN kali ini kurang baik, asalkan prosesnya baik dan jujur. Sebab, ini merupakan salah satu cara menanamkan pendidikan karakter kepada siswa.

PENYALURAN BOS: Mendiknas Keliru Terapkan Sistem

Pendidikan Lampost : Senin, 28 Maret 2011


MAMUJU (Lampost): Gubernur Sulawesi Barat Anwar Adnan Saleh menilai Menteri Pendidikan Nasional M. Nuh keliru menerapkan sistem penyaluran dana bantuan operasional sekolah, yang saat ini umumnya terlambat tersalurkan ke sekolah-sekolah.

"Kebijakan Mendiknas yang ingin melakukan sistem coba-coba mengubah kebijakan mekanisme penyaluran dana BOS, tapi ternyata coba-coba itu justru menyandera atau menjadi bumerang sehingga berdampak tidak maksimalnya pengelolaan BOS di sekolah-sekolah," kata Anwar Adnan Saleh kepada wartawan di Mamuju, pekan lalu.

Menurut dia, mekanisme penyaluran BOS tahun anggaran 2011 tidak seperti sistem yang diterapkan di tahun 2010. Hasilnya, tercatat sebanyak 300-an kabupaten di Indonesia hingga triwulan pertama 2011 tidak tersalurkan ke sekolah-sekolah.

"Kebijakan yang dilakukan Kemendiknas tahun ini menggunakan sistem penyaluran langsung ke rekening ke masing-masing kabupaten. Namun, ternyata uji coba ini gagal karena ternyata banyak sekolah yang hingga triwulan pertama tahun ini belum mengelola anggaran pendidikan tersebut," kata dia.

Gubernur mengatakan mestinya dana BOS ini tidak perlu disalurkan ke masing-masing pemerintah kabupaten, tetapi dapat langsung ke masing-masing rekening sekolah penerima dana tersebut.

"Apa salahnya jika dana BOS ini langsung dikirim ke rekening sekolah sehingga pemanfaatannya bisa langsung dikelola oleh sekolah yang bersangkutan," ujarnya.

Ia mengatakan berdasarkan informasi yang ada bahwa dari sekitar 500 kabupaten/kota di Indonesia, tercatat hingga Maret baru sekitar 182 kabupaten/kota yang mengelola BOS.

Gubernur mengemukakan lambatnya aliran BOS ke sekolah-sekolah ini berdampak buruk dengan sistem pelaksanaan pendidikan di sekolah-sekolah.

"Ini jelas akan memengaruhi sistem pendidikan di sekolah sehingga harus dilakukan perubahan sistem agar pengelolaan BOS di daerah dapat berjalan sesuai harapan," kata Gubernur.

Anwar menjelskan mestinya untuk mengubah sebuah kebijakan baru harus melalui kajian yang profesional dan tidak menimbulkan dampak buruk. Saat ini, kata dia, Mendiknas mengeluarkan kebijakan untuk mengancam bagi daerah yang tidak mengelola BOS secara tepat waktu.

"Persoalan seperti ini harus dicari titik persoalannya kenapa BOS terlambat ke sekolah-sekolah. Jangan-jangan kesalahan itu terjadi akibat pemerintah kabupaten yang bersalah lalu kita harus mengorbankan rakyat," kata dia.

Ia mengatakan di Sulbar ada tiga sekolah yang terlambat menyalurkan dana BOS, yakni Kabupaten Majene, Polman, dan Kabupaten Mamuju Utara.

"Ini juga harus dicari apa penyebab terlambatnya penyaluran BOS ke sekolah, jika kesalahan ada di pemkab, pemkab yang harus menanggung dosanya dan jika dana itu disalahgunakan oleh pihak sekolah, oknum tersebut layak dipecat," kata Gubernur. (ANT/S-1)

Senin, 28 Maret 2011

TEMU ALUMNI:Minimnya Peminat Tantangan FU IAIN

Pendidikan Lampost : Senin, 28 Maret 2011


BANDAR LAMPUNG (Lampost): Semakin minimnya minat para calon mahasiswa dan lapangan kerja yang tersedia bagi lulusan Fakultas Ushuluddin menjadi tantangan berat yang harus dijawab para alumni dan pejabat di lingkungan IAIN Raden Intan.

Hal tersebut mengemuka dalam temu alumni Fakultas Ushuluddin (FU) IAIN Raden Intan, di kampus setempat, Sabtu (26-3), yang dihadiri Pembantu Rektor III IAIN Raden Intan Muhammad Afif Anshori, Dekan FU Arsyad Sobby Kesuma, para pembantu dekan, dan 200-an alumni FU.


Ketua Panitia Temu Alumni, Ahmad Isnaeni, mengatakan pada era 1980-an Fakultas Ushuluddin banyak melahirkan pemikir besar yang ikut ambil bagian dalam perkembangan dan kemajuan bangsa dari waktu ke waktu.

"Kini, di tengah perkembangan masyarakat global, dengan permasalahan bangsa yang makin kompleks, seharusnya pemikiran agama makin dibutuhkan," kata Isnaeni.

Namun, pamor kegigigan pemikiran para cendekia lulusan fakultas ini makin tidak terlihat seperti dulu. Hal itu merupakan tantangan bagi para alumni, dosen, dan pejabat di lingkungan IAIN.


"Kita harus bersama-sama berjuang agar karya-karya akademik Fakultas Ushuluddin bisa berkibar lagi dan turut ambil bagian dalam memecahkan setiap permasalahan masyarakat, bangsa, dan negara," kata dia.

Sementara itu, Arsyad Shobby mengatakan Fakultas Ushuluddin sangat potensial untuk dikembangkan. Semua produknya, yakni akidah filsafat, perbandingan agama, tafsir hadis, dan filsafat politik baik dikembangkan sesuai dengan kemajuan peradaban.

"Alumninya juga tersebar pada berbagai bidang mulai dari sipil, militer, legislatif, hingga di jajaran swasta. Oleh sebab itu dengan dukungan alumni saya yakin Fakultas Ushuluddin bisa kembali berkibar," kata Afif Anshori. (UNI/S-1)

BUKAN BANTAHAN

Tidak ada niatan di hati untuk membantah laporan liputan Wartawan Lampos, karena apa yang ditulisnya benar, benar sekali, terutama bila dibanding dengan peminat pada Fakultas Fakultas yang lain di lingkungan IAIN Rd. Intan. Benar sekali karena hal itu dialami oleh Fakultas Ushuluddin hampir di seluruh IAIN.

Tetapi bila kita menyimak laporan Dekan dalam sambutannya dan statistik penerimaan Mahasiswa di dua tahun terakhir ini maka cerita akan menjadi lain, judulnya harus dirubah menjadi "Animo masuk Fakultas Ushuluddin meningkat tipi" Karena memang dalam dua tahun terakhir di masa periode Dr. Baharudin. M.Hum Sang dekan berhasil mengangkat minat calon mahasiswa. Tapi kalo judul saya yang di pampangkan, maka tuidak ada kontroversi, tidak ada tantangan, dan pembacapun kurang tertarik.

Juru Bicara Pemerintah.

Pertengahan tahun 80-an Ushuluddin benar benar naik daun, peminat calon mahasiswa terasa sesak memadati ruang penerimaan mahasiswa baru. Mengapa demikian ... ? Karena Alumni Ushuluddin dipercaya Pemerintah untuk menjadi jurubicara tentang Program keluarga Berencana. pada saat itu kita semua dihantui oleh ancaman ledakan penduduk di Indonesia, gejala gejala ledakan ini bahkan juga membuat gerah masyarakat dunia.

Demikian banyaknya ulama yang masih menetang program ini, berkat kepiawan alumni Ushuluddin maka program KB itu akhirnya diaksep oleh masyarakat dan sebagian besar ulama kita.

Sayang kepercayaan Pemerintah kepada alumni ushuluddin tidak terpelihara, tidak ada pihak yang mengembangkannya, tidak memiliki keberanian untuk melakukan terobosan terobosan. Ushuluddin melupakan karakter ilmunya sendiri.

Bukankah Ilmu Ushukluddin itu berdasarkan sejarahnya justeru dilahirkan oleh problema kontemporer pada saat itu. Problema kontemporer pada saat sekarang ini sebenarnya sangat terbuka bagi IAIN, terutama untuk mengurai benang kusut prihal terorisme di Indonesia, sepertinya BIM dan Kepolisian kuwalahan menghadapi persoalan ini. Ini peluang bagi alumni Ushuluddin, bukankah Fakultas ushuluddin juga merupakan pusat pengkajian pemikiran politik. Sebenarnya Kepolisian dan Kemenag akan tertolong bila berkenan menugaskan alumni Ushuluddin.

Minggu, 27 Maret 2011

Tamasya di Taman Ilmu

Budi Suwarna dan Yulia Sapthiani

INDAH Widyaningsih (10) dijuluki ”penghuni tetap” Perpustakaan dan Arsip Daerah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Hampir setiap hari sejak tahun 2007, bocah itu rutin berkunjung ke sana.



Anak-anak yang duduk di jenjang pendidikan dasar mengunjungi Perpustakaan Daerah Provinsi DKI Jakarta, Rabu (23/3). Bagi anak-anak, perpustakaan tidak hanya menjadi pusat informasi dan pelajaran, namun juga menjadi sarana rekreasi. (KOMPAS/WAWAN H PRABOWO)

Siang itu, Senin (21/3), Indah asyik berselancar di internet di Ruang Baca Anak-anak di perpustakaan milik Pemprov DKI. Dia memelototi gambar seekor kadal dan menyimak keterangannya. ”Saya lagi mencari jawaban untuk tugas mata pelajaran IPA,” ujar bocah Kelas V SDN Menteng Dalam 01 Pagi, Jakarta Selatan, itu.

Indah biasanya datang pukul 14.00-an dan pulang pukul 17.00. Dia langsung menuju ke ruang baca khusus anak-anak untuk berselancar di dunia maya. Setelah itu, dia biasanya mengerjakan tugas atau membaca buku. ”Saya paling senang membaca kamus Bahasa Indonesia. Saya jadi tahu arti setiap kata,” ujar Indah.

Indah mengenal perpustakaan itu tahun 2007 setelah bapaknya berjualan makanan di Gedung Olah Raga Soemantri Brojonegoro yang berada tepat di sebelah perpustakaan. ”Saya menemani bapak jualan. Suatu hari saya bosan dan coba-coba masuk ke perpustakaan. Ternyata tempatnya enak,” tuturnya.

Indah pun keranjingan datang ke perpustakaan tersebut. Dia menemukan sesuatu yang orangtuanya belum bisa sediakan, yakni seabrek buku pelajaran, buku cerita, kamus, fasilitas internet gratis, serta ruang belajar ber-AC. Sejak itu, dia tenggelam di perpustakaan itu.

Selain Indah, ada belasan bocah yang larut di taman ilmu pengetahuan itu. Sebagian membaca buku dengan posisi duduk di kursi-kursi mungil, sebagian sambil tiduran di lantai berlapis karpet. Jika bosan dengan satu buku, mereka mengambil buku lain yang ditempatkan rapi di beberapa rak.

Di antara mereka ada Abdul Aziz (12), siswa Kelas VI SDN Menteng Atas 06 Pagi, Setia Budi, Jakarta Selatan, dan tujuh temannya. Mereka belajar bersama untuk persiapan ujian tengah semester yang sebentar lagi tiba. ”Belajar di sini enak, tempatnya adem, bukunya banyak. Kalau di rumah panas, enggak pakai AC,” ujar Abdul.

Suasana serupa terlihat di Rumah Baca Manca milik keluarga Rhenald Kasali dan istrinya, Elisa Kasali, di Pondok Jatimurni, Bekasi. Selasa siang, belasan anak usia TK hingga SD asyik membaca beragam buku cerita sambil lesehan. Jika sudah bosan, mereka bermain di halaman berumput hijau yang dilengkapi aneka mainan.

Tiara (10) sangat senang berada di sana. Dia tidak kelimpungan saat mengikuti pelajaran membaca puisi dan bercerita. ”Bahan cerita tinggal saya ambil dari buku cerita di tempat ini.”

Minat baca

Melihat anak-anak datang rutin ke Rumah Baca Manca, hati Elisa Kasali pun senang. Setidaknya, misinya untuk memfasilitasi kegemaran membaca di kalangan anak-anak menuai hasil. ”Saya tahu anak-anak punya minat baca, tetapi fasilitasnya masih minim.”

Elisa ingat, ketika anak-anak sekitar rumahnya bermain dengan anak keduanya, Adam, mereka betah berjam-jam membolak-balik buku milik Adam. Dari situ, Elisa dan suami membuka rumah baca di rumahnya tahun 1998 untuk anak-anak sekitar.

Dia mengundang murid-murid SD di sekitarnya untuk datang. Awalnya, pihak sekolah menolak ”undangan” itu karena mereka mengira anak-anak akan dikenai iuran. Setelah tahu gratis, mereka berminat, bahkan mendorong murid-muridnya untuk datang ke Manca. Kini, Manca tidak pernah sepi dari pengunjung. Di hari libur sekolah, anak-anak yang datang bisa 150 orang.

Siti Sarah, Kepala Bidang Layanan dan Pelestarian Perpustakaan dan Arsip Daerah Pemprov DKI juga senang dengan kunjungan bocah-bocah SD. ”Kalau dari kecil sudah sering ke perpustakaan, selanjutnya mereka akan senang membaca.”

Dia tambah gembira karena tren kunjungan para bocah ke perpustakaan itu setahun terakhir mengalami kenaikan. Sekadar contoh, Januari 2011, bocah SD yang datang berjumlah 1.194 orang. Februari, jumlahnya naik menjadi 1.314 orang. Jumlah itu sekitar seperempat jumlah pengunjung kategori remaja dan dewasa.

”Kami berusaha terus mendekatkan perpustakaan kepada anak-anak SD. Kami, misalnya, mengadakan kegiatan dongeng setiap Jumat dan setiap hari-hari penting,” ujar Siti.

Perpustakaan juga berusaha merangkul sebanyak mungkin anggota baru. ”Kami bahkan sudah sampai jemput bola. Kalau ada siswa yang ingin daftar menjadi anggota perpustakaan secara kolektif, kami datangi sekolahnya,” kata Siti.

Siti sebenarnya tidak terlalu khawatir dengan minat baca anak-anak SD. ”Minat baca itu bisa dibangkitkan asal pemerintah serius menyediakan perpustakaan hingga tingkat desa seperti diamanatkan UU Nomor 43 Tahun 2007.”

Selain menumbuhkan minat baca, orang Indonesia juga mesti diajarkan etika di perpustakaan. ”Banyak orang mengambil buku, melihat-lihat, lantas menaruh kembali ke rak tanpa memerhatikan nomor katalognya. Itu bikin kacau,” ujar Anton Holtzapffel, pustawakan Perpustakaan Erasmus Huis di Kedutaan Besar Belanda, Jakarta.

Itu belum seberapa. Siti sering mendapati koleksi buku di perpustakaan yang dikelolanya dirobek atau ditulisi kalimat tidak senonoh. ”Itu justru dilakukan pengunjung dewasa. Kalau anak-anak tertib. Memulangkan buku pun tepat waktu.” (ROW)

Sumber: Kompas, Minggu, 27 Maret 2011

Sabtu, 26 Maret 2011

Temu Kangen Ikatan Alumni Fakultas Ushuluddin IAIN Rd. Intan (IKAFURI) 2011


Gedung Perpustakaan Pusat IAIN Rd.Intan Lampung.

CATATAN RINGAN TEMU ALUMNI


Sabtu 26 Maret 2011 Ikatan Alumni Fakultas Ushuluddin IAIN Rd.Intan (IKAFURI) melaksanakan pertemuan sambil mereorganisasi dengan memilih Pengurus Baru untuk periode 2011/2014. Pembentukan pengurus keteter ter, rasanya lebih suka dengerin teman teman nyanyi, biar suaranya sember cempreng, tetapi serasa lebih indah ketimbang penyanyinya yang asli.

Sejatinya ini acara sungguhan maka acara dibukan dengan sambutan rasmi Bapak Dekan.

Dekan Fakultas Ushuluddin yang baru dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada pengurus lama dan untuk acara ini Fakultas memfasilitasinya untuk dua hari pertemuan sehingga terbentuk program kerja dan struktur personalia yang baru.



Dr. Arsyad Shahbi, mengatakan bahwa pada tahun 80-an Fakultas Ushuluddin benar benar boming pada saat itu setiap pendaftaran mahasiswa baru mencapai 400-an pendaftar pertahun. Tetapi pada akhir tahun 90-an menurun tajam hingga tahun 2000-an. Baru bangkit kembali mulai akhir tahun 2010. Hal ini tentu saja akan menjadi perhatian khusus.

Dalam kesempatan ini Dekan merasa pantas untuk berterima kasih kepada Dekan terdahulu, yaitu Dr. Baharuddin, M.Hum.



Dekan berharap agar pengurus IKAFURI yang akan datang dapat memberikan konstribusi untuk kembali mendomngkrak animo Fakultas Ushuluddin IAIN Rd.Intan. Sekali lagi dekan berjanji akan memfasilitasi program IKAFURI yang akan datang.



Sementara Dr. Afif Anshori, mewakili Rektor yang berhalangan hadir mengharapkan agar alumni Ushuluddin dapat meningkatkan kiprahnya di masyarakat, alumni yang satu memberikan jalan kepada sesame alumni Ushuluddin dalam berbagai aspek sebagai wujud kiprah alumni Fakultas Ushuluddin.



Secara pribadi dan kelembagaan saya menyampaikan salut yang setinggi tingginya kepada para alumni Ushuluddin. Di banding alumni Fakultas lainnya di IAIN ini, maka alumni Ushuluddin paling luas cakupan kiprahnya. Alumni Ushuluddin banyak kita dapatkan memiliki kiprah yang bukan kecil diberbagai Dinas dan Instansi Pemerinthan. Jangan di kata lagi untuk Kementerian keagamaan. Alumni Ushuluddin banyak dipercayakan untuk mengembang amanah diberbagai Dinas lingkup Pemerintah Daerah, baik di pemda Provinsi maupun kabupaten/ Kota.

Banyak juga diantaranya yang pada saat ini sedang menjabat sebagai Camat, di sini juga hadir pensiunan Camat dan mantan Camat. Yang lebih membanggakan lagi ternyata banyak juga alumni ushuluddin yang yang sekarang ini masih aktif sebagai anggota TNI dan Kepolisian, bahakan mereka itu kini telah meraih pangkat Perwira, baik di Angkatan darat maupun Kepolisian.




Apa yang dikatakan Pan Afif itu benar, karena banyak juga alumni Ushuluddin yang terjun ke dunia politik. Banyak mereka yang pernah dan sedang menjadi anggota DPRD. Dan banyak juga yang mengambil profesi sebagai non PNS, dan bahkan tercatat beberapa orang terbilang sukses berniaga.


Revitalisasi IKAFURI

Dalam kesempatan ini panitia menampilkan dua orang narasumber yitu Prof. Dr. Ahmad Fauzi Nurdin, dan Dr. Sofyan Saleh, M.Ag. Keduanya berharap agar IKAPURI yang akan datang mampu merevitalisasi lembaga ikatan alumni ini, sehingga selain membawa nama harum nama alumni juga mampu meningkatkan animo masyarakat terhadap Fakultas Ushuluddin IAIN Rd.Intan.
Tetapi dalam sesi diskusi tiba tiba muncul sedikit kehangatan, ketika pada floor ada yang mempertanyakan sebenarnya pertemuan emosional (kangen kangenan) ini akan di bawa kemana kata seorang penanya. Apakah untuik membesarkan gengsi alumni, atau kita membesarkan Fakultas.






Penanya yang lain sedikit mengkritisi dua narasumber yang banyak membangga banggakan alumni Ushuluddin. Saya belum cukup alas an untuk terlalu bangga dengan ke-Ushuluddin-an yang ia dapatkan dari bangku kuliah. Tidak urung pertanyaan seorang alumni yang sekarang ini sedang dipercayai oleh Bupati untuk menduduki jabatan Camat di suatu Kecamatan. Ungkapan ini tidak urung membuat kernyitan dahi para alumni yang sedang dimabuk rasa kebanggaan korp yang melambung itu.

Tetapi belakangan baru dimaklumi, mengapa Ia mengemukakan ungkapan seperti itu. Betapa seorang alumni diharuskan mengembangkan berbagai pengetahuan dan bahkan keterampilan guna mendukung profesionalisme kiprah alumni di masyarakat.




Tentu saja pemikiran seperti itu hanya standar saja. Karena kenyatannya perjalanan hidup seseorang itu sering tidak sejalan dengan ilmu yang didalaminya di bangku kuliah. Seorang alumni Fakultas hukum umpamanya mengurusi Kepariwisataan, seorang Ekonom mengurusi masalah kelautan, dan alumni Ushuluddin dipercayai menjabat sebagai camat. Saya sendiri belajar autodidag pontang panting karena hamper sepuluh tahun menjadi peneliti arkeologi dan antropologi.

Memang secara langsung bukan ilmu Ushuluddin yang berperan dalam penelitian penelitian yang saya laksanakan. Tetapi mulai dari teknik pengumpulan data, komunikasi dengan masyarakat, ilmu keushuluddin-an yang saya miliki sangatlah berperan. Terlebih ketika saya menulis laporan hasil penelitian untuk dijadikan sebuah buku, dan sayapun membutuhkan referensi yang luas, maka akan nampak sekali Ilmu Ushuluddin jurusan akidah dan filsafat sangat dominan. Dan kawan kawanpun menyatakan laporan saya sangat khas dan dianggap memiliki sedikit kelebihan. Itu karena saya belajar filsafat. Sedikit pengetahuan saya tentang filsafat sangat membantu saya dalam menyelesaikan tugas tugas saya. Hingga saat memasuki usia pensiun seperti sekarang ini saya masih tetap memperdalam ilmu Ushuluddin, terlihat dari berbagai judul buku yang saya beli, web, situs yang saya kunjungi serta tulisan tulisan yang saya kumpulkan di beberapa blog saya. Saya yakin banyak alumni yang memiliki pemgalaman yang cukup menarik, terpaksa belajar autodidag ilmu di luar Ushuluddin, tetapi tetap menggandrungi ilmu Ushuluddin, karena ilmu Ushuluddin telah membawanya bersikap dan berwawasan dalam mendukung profesinya.




Pascasarjana Filsafat.


Dr. Mahmud Yusuf, alumni Fak. Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pensiunan dosen di Fakultas Ushuluddin dan berkenan hadir dalam temu kangen ini mengikuti paparan dua orang narasumber, beliau duduk di barisan depan. Beliau mengusulakan agar Ikafuri dan Dekan serta Kajur Aqidah Filsafat segera merintis untuk dibukanya Pascasarjana jurusan Filsafat di fakultas Ushuluddin IAIN Rd.Intan. Ia melihat peluang itu sangat besar karena persyaratan untuk itu sekarang ini lebih dari cukup. Naik Guru Besar maupun dosen S3 filsafat semakin memenuhi fakultas ini. Pembukaan Pascasarjana Filsafat akan memiliki dampak positif untuk mengembangkan Fakultas ushuluddin umumnya dan Prodi Aqidah Filsafat khususnya.

Pascasarja ini dimaksudkan untuk tetap berada di Fakultas Ushuluddin. Diharapkan agar dekan mempersiapkan segala sesuatu sehingga bila akreditasi masih menjadi titik lemah, maka kita dapat dinilai ulang sehingga akreditasi mencukupi dan tidak menjadi ririk lemah penyelenggaraan program ini.




Pemikiran yang diajukan oleh Dr.Mahmud Yusuf itu tentu saja banyak diamini oleh hadirin. Apalagi dengan berdirinya Program Pascasarjana tentu saja akan meningkatkan kualitas prodi aqidah filsafat khususnya dan Fakultas Ushuluddin umumnya. Tenru saja Profesor dan S3 Filsafat akan mendapatkan tantangan yang cukup besar.

Bisik bisik para alumni Ushuluddin yang hingga kini belum sempat mengikuti program Master, sangat mendukung gagasan ini, dan bila gagasan ini terrealisasikan maka berarti mereka kan memiliki ilmu yang benar benar linier. Sedang bagi SI prodi yang lain memiliki peluang untuk mengikuti program ini, karena jurusan filsafat, seperti lazimnya di mana mana akan menerima dari berbagai jurusan.





Juru Bicara Program nasional KB.

Dulu Fakultas Ushuluddin menjadi demikian masyhur, lantaran BKKBN berkenan menerima alumni untuk ditugaskan menjadi petugas penyuluhan lapangan, bahasa kerennya menjadi juru bicara program Pemerintah. Untuk mensosialisasikan Program Keluarga Berencana dengan menggunakan bahasa bahasa agama. Alumni Ushukuddin sukses melaksanakan tugas ini. Ternyata bisa dibilang alumni Ushuluddin unggul dalam mengambil simpati masyarakat, dengan bahasa bahasa agama yang sangat mudah dipahami masyarakat konsep Keluarga Berencana sangat mudah diterima masyarakat. yang semula menentangnya. Pemerintah mengakui keunggulan ushuluddin




Bukan hanya itu, sejalan dengan waktu, demikian banyaknya alumni Fakultas ushuluddin yang dupercayai menjadi prjabat penting di Instansi ini. Maka wajar saja bila animo masyarakat terhadap Fakultas Ushuluddin meningkat tajam.
Tetapi sayang prestasi yang telah ditunjukkan Fakultas Ushuluddin tidak ditindaklanjuti dengan kajian yang kritis . Semestinya alumni Ushuluddin lebih ditingkatkan lemampuannya, untuk mampu menjelaskan berbagai program Pemerintah, dan diperkaya dengan wawasan dan keterampilan untuk berkomunikasi dengan masyarakat umum.

Semestinya Ushuluddin bersegera untuk menguasai atau memahami apa sebenarnya yang diinginkan masyarakat, baik kelas menengah ke bawah maupun ke atas. Karena tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan bahasa bahasa agama, masih ada bahasa ekonomi, bahasa seni dan lain sebagainya. Senagaimana halnya sekarang masyarakat komunitas agama diperlukan memahami bahasa hukum, khususnya HAM. Kurikulum dapat direkayasa agar mahasiswa memiliki kompetensi ini. .



Keterampilan untuk hidup.

Muncul juga pemikiran agar bila menilai prospek sosok alumni Ushuluddin, akan tidak menemukan nilai yang objektif manakala kita hanya menilai dari segi keberhasilan semata, manakala keberhasilan itu dikukur dengan jabatan sipil dan Abri/ kepolisian. Penilaian itu hendaknya beranjak dari pihak yang lemah, yang memiliki kesulitan untuk berkiprah lantaran peluang untuk mengabdi dengan ilmu keushuluddinan itu menipis.

Kajian ushuluddin itu hendaknya memiliki nilai nilai kontemporer. Bukankah Ilmu Ushuluddin dahulu lahir dari berbagai masalah kontemporer, utamanya masalah politik (kekuasaan). Ketika Fakultas Ushuluddin kurang merespon hal hal yang kontemporer maka berarti ilmu ushuluddin akan kehilangan karakter aslinya.

Andaikata Ushuluddin maksimal merespon persoalan kontemporer, maka dapat dipastikan bahwa alumni ushuluddin paling unggul dalam menykikapi segala persoalan yang berbau kekinian. Dan dia memiliki keterampilan secara iterpreneur untuk mensiasati persoalan hidupnya. Dia tidak akan kesulitan untuk memiliki kehidupan yang layak. Karena dia memiliki keterampilan hidup.





Diketuai oleh angkatan Tua.

Saya kecewa dengan formatur yang ternyata lebih memilih angkatan tua untuk menjadi Ketua Ikafuri. Saya semula berharap agar Ikafuri dinakodai oleh angkatan yang lebih muda, lebih enerjik, dan masih aktif berkerja. Jangan justeru menunjuk pensiunan menjadi pemegang kendali.

Orang pensiunan seperti saya sekarang ini, sedang sibuk untuk mencari kesibukan baru, sedang memilih, apakah akan mengajar saja, atau menjadi konsultan, atau bergerak dibidang social, atau menjadi pengusaha. Artinya dalam masa satu tahun ini akan melakukan adabtasi dengan dunia baru yang akan dipilih.

Menurut saya bagi mereka yang aktifpun harus kita pilih yang bekerja di Kementeria Agama. Karena sebagian alumni kita ada di situ, mereka tersebar di seluruh daerah, sehingga memiliki peluang untuk memperlancar

Jumat, 25 Maret 2011

Bruner dalam Pembelajaran Bahasa Inggris *)

Oleh: Sumardi, M.Hum*)

A. Pendahuluan

Manusia berkomunikasi dengan kuantitas yang tidak terhingga dalam kehidupanya sehari-hari. Segela aktivitas manusia tidak akan pernah terjadi tanpa adanya proses komunikasi, baik komunikasi verbal maupun non-verbal dalam rangka menyampaikan gagasan, pikiran, persaan dan pendapatnya. Sejak dimulai dari bangun tidur hingga tidur kembali di malam hari, bisa dibayangkan berapa kali seseorang mendengar dan berbicara, berapa lama ia membaca koran atau membaca berbagai macam iklan komersial di jalan-jalan, berapa lama ia menulis surat, laporan, tulisan ilmiah dan sebagainya, berapa kali dan berapa lama dosen menjelaskan kuliah di dalam kelas dan berapa lama dan berapa kali pula mahasiswa mendengarkan dan menanyakan hal-ihwal perkuliahan kepada dosen atau teman sekelasnya. Jika dihitung ternyata banyak sekali waktu yang digunakan seseorang untuk berkomunikasi dalam aktivitasnya selama satu hari.

Secara garis besar ada dua macam bentuk komunikasi, yaitu komunikasi verbal dan komunikasi non-verbal. Komunikasi verbal adalah suatu bentuk komunikasi untuk menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan yang dimiliki seseorang kepada orang lain secara lisan. Sedangkan bentuk komunikasi yang kedua adalah bentuk komunikasi yang tidak diucapkan secara lisan, tetapi komunikasi itu terjadi melalui tanda-tanda komunikatif, misalnya tulisan, gerak tubuh, rambu-rambu (misalnya rambu-rambu lalu lintas) dan sebagainya. Jenis komunikasi yang kedua tampaknya tidak banyak perbedaan antara satu tempat dan tempat yang lain atau antara satu negara dengan negara yang lain karena bentuk komunikasi yang kedua ini lebih banyak terjadi karena adanya konsensus atau bahkan proses ratifikasi antarnegara, misalnya komunikasi dalam bentuk rambu-rambu lalu-lintas. Merahnya lampu pengatur di perempatan jalan, berarti para pengguna jalan itu harus berhenti, lampu kuning berarti harus hati-hati, dan lampu hijau berarti boleh berjalan kembali. Masih banyak lagi komunikasi non-verbal lainnya yang banyak berlaku di berbagai negara. Tetapi hal itu tidak bisa dengan mudah terjadi dalam bentuk komunikasi verbal, karena bentuk komunikasi ini berkaitan erat dengan bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi.

Siswa di sekolah dasar atau menengah dan bahkan mahasiswa di perguruan tinggi di Indonesia akan bisa belajar dengan baik jika bahasa yang digunakan oleh guru dan dosen untuk menjelaskan materi pelajaran di kelas adalah bahasa Indonesia. Hal ini bisa terjadi karena bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional yang digunakan sebagai alat komunikasi verbal oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Tetapi kenyataan akan berbeda jika bahasa yang digunakan untuk menjelaskan bahan ajar itu adalah bahasa Inggris, karena bahasa Inggris berposisi sebagai bahasa asing yang tidak banyak dikuasai sebagai alat komunikasi bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.

Posisi bahasa Inggris sebagai bahasa asing bagi masyarakat Indonesia membuat bahasa ini tidak banyak dikuasai oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Tidak sedikit siswa maupun mahasiswa yang banyak mengalami kesulitan untuk bisa berkomunikasi dengan bahasa ini. Mereka menganggap bahasa ini sebagai bahasa yang sulit dipelajari karena beberapa alasan, misalnya bunyi verbal bahasa Inggris yang tampak sangat berbeda dengan tanda tulisannya. Hal ini berbeda dengan bunyi verbal bahasa Indonesia yang tidak banyak berbeda dengan tanda tulisannya. Alasan lain adalah penguasaan kosa kata bahasa Inggris oleh siswa yang sangat terbatas dan penguasaan grammar yang terbatas pula. Alasan lain yang sangat krusial adalah strategi yang digunakan oleh guru dalam mengajarkan bahasa ini (desain pembelajaran dan metode mengajar) terkesan monoton dan kurang memberi tantangan bagi siswa untuk bisa menguasai bahasa Inggris ini dengan baik. Guru kurang memahami karakteristik siswa karena lemahnya kemampuan psikologis guru untuk mampu mengidentifikasi kebutuhan siswa dalam belajar bahasa.

Berkaitan dengan masalah terakhir dalam mengajarkan bahasa Inggris di sekolah, terutama bagi siswa di sekolah dasar dan menengah, guru diharuskan mempunyai kemampuan strategis psikologis untuk mengidentifikasi bagaimana dan kapan para siswa mampu belajar bahasa Inggris dengan baik. Kemampuan ini akan memudahkan bagi guru untuk menciptakan strategi, metode dan media pembelajaran yang tepat, sehingga siswa merasa tertarik dan tertantang untuk bisa menguasai bahasa Inggris ini dengan baik. Belajar dan mengajar bahasa asing jelas membutuhkan strategi yang berbeda dengan ketika siswa belajar dan guru mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu atau bahasa nasional. Guru perlu memahami aspek-aspek psikologis siswa agar mampu menciptkan proses pembelajaran yang lebih bermakna. Untuk bisa memahami aspek-aspek psikologis siswa dalam belajar bahasa, maka diperlukan pengetahuan guru yang memadai terhadap teori-teori psikologi yang relevan untuk mengajar bahasa. Pengetahuan guru terhadap teori-teori psikologi juga akan mengarahkan guru untuk mampu mengidentifikasi kapan dan dengan cara bagaimana siswa bisa belajar bahasa dengan baik. Dengan demikian, pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing selain dilakukan berdasarkan pertimbangan filosofis-teoritis juga dilakukan berdasarkan pertimbangan psikologis.

B. Pertimbangan Filosofis-teoritis

Pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing, terutama di lingkungan pendidikan formal, dilakukan melalui dua pertimbangan sekaligus, yaitu pertimbangan filosofis-teoritis dan pertimbangan psikologis. Pertimbangan filosofis-teoritis dilaksanakan berdasarkan asumsi bahwa bahasa Inggris sebagai alat komunikasi harus diajarkan kepada pembelajar bahasa non-penutur asli (non-native speaker) sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku dimana bahasa Inggris itu digunakan oleh penutur asli (native speaker). Bahasa, seperti juga bahasa Inggris, adalah terikat dengan budaya masyarakat penutur asli bahasa itu. Siswa harus dididik dan dilatih untuk mengetahui dan menempuh tahap-tahap pembicaraan yang terstruktur sesuai dengan budaya penutur asli bahasa Inggris itu.

Bahasa sebagai alat komunikasi pada dasarnya banyak menggunakan tanda-tanda (signs) berupa bunyi dan huruf. Keduanya tentu tidak diucapkan atau ditulis secara acak tanpa aturan baku; ada aturan yang harus dipatuhi agar tanda tersebut dimengerti orang lain. Aturan tersebut adalah code yang dalam linguistik disebut tata bahasa atau grammar. Bunyi dan tulisan yang digunakan menurut aturan yang berlaku di masyarakat dalam konteks budaya yang sama. Dengan demikian, bahasa disebut juga sebagai sebuah sistem semiotika sosial (Halliday, 1978). Ini adalah salah satu cara dalam memandang bahasa, yaitu bahasa sebagai suatu sumber yang digunakan oleh masyarakat sebagai sebagai alat interaksi sosial. Sekarang kita lihat bagaimana bahasa bisa digunakan sedemikian rupa sehingga manusia normal tidak dapat hidup bermasyarakat tanpa bahasa.

Pendekatan filosofis-teoritis menempatkan bahasa sebagai seperangkat aturan (set of rules) yang memang sudah ada dalam otak manusia (Chomsky, 1965). Ketika seperangkat aturan yang dibawa sejak lahir tersebut dihadapkan pada data atau bahasa yang didengar disekitarnya, maka ‘perangkat’ yang ada di otak akan menyesuaikan atau ‘dicetak’ sesuai dengan bahasa tersebut. Ini adalah cara memandang bahasa dari sudut psikologi. Yang perlu dicatat adalah bahwa kedua cara pandang, yakni dari segi semiotika sosial dan psikologi tidak bertentangan, bahkan keduanya saling mengisi.

C. Pertimbangan Psikologis

Pertimbangan psikologis berangkat dari asumsi bahwa bahasa harus diajarkan kepada para siswa sesuai dengan metode dan strategi tertentu, sehingga belajar bahasa menjadi suatu aktivitas yang menyenangkan dan menarik bagi siswa. Strategi untuk menciptakan proses pembelajaran bahasa yang menarik dan menyenangkan bagi siswa bisa dilaksanakan dengan optimal jika guru banyak memahami aspek-aspek psikologis siswa dalam belajar bahasa.

Penguasaan teori psikologi yang baik oleh guru sangat membantu untuk bisa memahami aspek-aspek psikologis siswa dalam belajar. Peran teori psikologi dalam pembelajaran bahasa ini lebih banyak dipelajari dalam bidang psikolinguistik. Cameron (dalam Helena, 2004) telah banyak mengulas teori psikologi dari tiga ahli terkemuka , yaitu Piaget, Vygotsky dan Bruner yang menjadi acuan dalam pendidikan bahasa masa kini. Teori psikologi dari tiga ahli ini ternyata mempunyai relevansi dan kontribusi yang sangat baik dalam pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Secara singkat relevansi dan kontribusi ketiga teori psikologi ini dalam pembelajaran bahasa akan dibahas pada bagian berikut tulisan ini.

1. Teori Psikologi Piaget

Piaget dalam teorinya memandang anak sebagai individu (pembelajar) yang aktif. Perhatian utama Piaget tertuju kepada bagaimana anak-anak dapat mengambil peran dalam lingkungannya dan bagaimana lingkungan sekitar berpengaruh pada perkembangan mentalnya. Menurut Piaget (dalam Helena, 2004), anak senantiasa berinteraksi dengan sekitarnya dan selalu berusaha mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya di lingkungan itu. Melalui kegiatan yang dimaksudkan untuk memecahkan masalah itulah pembelajaran terjadi. Piaget tidak memberikan penekanan terhadap pentingnya bahasa dalam perkembangan kognoitif anak. Bagi Piaget bukan perkembangan bahasa pertama yang paling fundamental dalam perkembangan kognitif melainkan aktivitas atau action.

Menurut psikologi Piaget, dua macam perkembangan dapat terjadi sebagai hasil dari beraktivitas, yaitu asimilasi dan akomodasi. Suatu perkembangan disebut asimilasi jika aktivitas terjadi tanpa menghasilkan perubahan pada anak, sedangkan akomodasi terjadi jika anak menyesuaikan diri terhadap hal-hal yang ada di lingkungannya. Misalnya menurut contoh Cameron (2001), ketika anak sudah bisa menggunakan sendok dan kemudian diberi garpu dan dia menggunakan garpu (alat makan baru) sebagaimana ia menggunakan sendok yang berfungsi sebagai alat makan yang dikenal sebelumnya, berarti ia telah melakukan asimilasi. Akan tetapi, ketika ia sadar bahwa dengan garpu ia memiliki kesempatan untuk makan dengan cara menusukkan garpu ke makanan dan bukan cuma menyendoknya. Dengan demikian, anak itu telah melakukan akomodasi.

Pada mulanya asimilasi dan akomodasi merupakan proses adaptasi perilaku yang kemudian menjadi proses berpikir. Akomodasi merupakan konsep penting yang kemudian dipertimbangkan dalam dunia pembelajaran bahasa yang dikenal dengan sebutan restructuring. Istilah ini mengacu kepada reorganisasi representasi mental dalam sebuah bahasa (McLaughlin, 1992). Maksudnya, anak telah memiliki pola-pola bahasa dalam pikirannya, tetapi ketika dihadapkan kepada fakta bahasa (pola) baru dan fakta baru tersebut memiliki potensi untuk berkomunikasi dengan cara berbeda, maka anak melakukan penyesuaian dengan pola-pola baru.

Menurut pandangan Piaget, pikiran anak berkembang perlahan-lahan seiring dengan pertumbuhan pengetahuan dan keterampilan intelektualnya hingga sampai ke tahap berpikir logis dan formal. Akan tetapi, pertumbuhan ditandai dengan perubahan-perubahan mendasar tertentu yang menyebabkan anak mampu melampaui serangkaian tahapan yang dimaksud. Pada setiap tahap, anak mampu berpikir memikirkan hal-hal tertentu, tetapi tidak atau belum mampu memikirkan hal-hal yang lain. Jadi, menurut Piaget, berpikir melibatkan hal-hal yang abstrak dan menggunakan jalur logika belum mampu dilakukan anak sebelum ia berusia 11 tahun atau lebih.

Pendapat ini banyak dikritik karena ketika diakhir tahun 70an dan di awal tahun 80an diterapkan kebijakan bahwa anak-anak harus terlebih dahulu melakukan srangkaian kegiatan yang menyiapkan mereka untuk menulis kalimat yang memakan waktu lama, anak akan kehilangan kesempatan untuk mengalami proses yang holistik atau menyeluruh. Proses holistik tersebut ialah proses yang menyadarkan anak bahwa tujuan menulis adalah komunikasi dan bukan berlatih menulis bentuk huruf semata. Aspek komunikasi inilah yang merupakan aspek sosial dari kegiatan menulis, dan aspek ini yang terabaikan oleh Piaget. Piaget lebih memperhatikan anak dalam dunianya sendiri, dan bukan anak yang berkomunikasi dengan orang dewasa atau dengan anak lain.

Ada pendapat Piaget yang penting, yaitu anak sebagai pembelajar dan pemikir yang aktif, yang membangun pengetahuannya dengan ‘bergulat’ dengan benda-benda atau gagasan-gagasan. Jika kita mengambil gagasan Piaget bahwa anak beradaptasi dengan lingkungannya, kita dapat melihat bagaimana lingkungan dapat menjadi setting untuk perkembangan. Lingkungan menawarkan berbagai kesempatan kepada anak untuk bertindak. Oleh karenanya, lingkungan kelas, misalnya, dapat menjadi ajang kegiatan dan kreativitas yang menyebabkan pembelajaran terjadi. Berdasarkan pendapat ini, pembelajaran bahasapun dapat terjadi jika lingkungan kelas maupun sekitarnya dimanfaatkan sedemikian rupa agar menawarkan berbagai kesempatan bagi keterlibatan dan kreativitas siswa.

2. Teori Psikologi Vygotsky

Pakar psikologi lain, Vygotsky (1962, 1978), memberikan pandangan berbeda dengan Piaget terutama pandangannya tentang pentingnya faktor sosial dalam perkembangan anak. Vygotsky memandang pentingnya bahasa dan orang lain dalam dunia anak-anak. Meskipun Vygotsky dikenal sebagai tokoh yang memfokuskan kepada perkembangan sosial yang disebut sebagai sosiokultural, dia tidak mengabaikan individu atau perkembangan kognitif individu. perkembangan bahasa pertama anak tahun kedua di dalam hidupnya dipercaya sebagai pendorong terjadinya pergeseran dalam perkembangan kognitifnya. Bahasa memberi anak sebuah alat baru sehingga memberi kesempatan baru kepada anak untuk melakukan berbagai hal, untuk menata informasi dengan menggunakan simbol-simbol. Anak-anak sering terlihat berbicara sendiri dan mengatur dirinya sendiri ketika ia berbuat sesuatu atau bermain. Ini disebut sebagai private speech. Ketika anak menjadi semakin besar, bicaranya semakin lirih, dan mulai membedakan mana kegiatan bicara yang ditujukan ke orang lain dan mana yang ke dirinya sendiri.

Yang mendasari teori Vygtsky adalah pengamatan bahwa perkembangan dan pembelajaran terjadi di dalam konteks sosial, yakni di dunia yang penuh dengan orang yang berinteraksi dengan anak sejak anak itu lahir. Ini berbeda dengan Piaget yang memandang anak sebagai pembelajar yang aktif di dunia yang penuh orang. Orang-orang inilah yang sangat berperan dalam membantu anak belajar dengan menunjukkan benda-benda, dengan berbicara sambil bermain, dengan membacakan ceritera, dengan mengajukan pertanyaan dan sebagainya. Dengan kata lain, orang dewasa menjadi perantara bagi anak dan dunia sekitarnya.

Kemampuan belajar lewat instruksi dan perantara adalah ciri inteligensi manusia. Dengan pertolongan orang dewasa, anak dapat melakukan dan memahami lebih banyak hal dibandingkan dengan jika anak hanya belajar sendiri. Konsep inilah yang disebut Vygotsky sebagai Zone of Proximal Development (ZPD). ZPD memberi makna baru terhadap ‘kecerdasan’. Kecerdasan tidak diukur dari apa yang dapat dilakukan anak dengan bantuan yang semestinya. Belajar melakukan sesuatu dan belajar berpikir terbantu dengan berinteraksi dengan orang dewasa.

Menurut Vygotsky, pertama-tama anak melakukan segala sesuatu dalam konteks sosial dengan orang lain dan bahasa membantu proses ini dalam banyak hal. Lambat laun, anak semakin menjauhkan diri dari ketergantungannya kepada orang dewasa dan menuju kemandirian bertindak dan berpikir. Pergeseran dari berpikir dan berbicara nyaring sambil melakukan sesuatu ke tahap berpikir dalam hati tanpa suara disebut internalisasi. Menurut Wretsch (dalam Helena, 2004) internalisasi bagi Vygotsky bukanya transfer, melainkan sebuah transformasi. Maksudnya, mampu berpikir tentang sesuatu yang secara kualitatif berbeda dengan mampu berbuat sesuatu. Dalam proses internalisasi, kegiatan interpersonal seperti bercakap-cakap atau berkegiatan bersama, kemudian menjadi interpersonal, yaitu kegiatan mental yang dilakukan oleh seorang individu.

Banyak gagasan Vygotsky yang dapat membantu dalam membangun kerangka berpikir untuk mengajar bahasa asing bagi anak-anak. Untuk membuat keputusan apa yang bisa dilakukan guru agar mendukung pembelajaran kita dapat menggunakan gagasan bahwa orang dewasa menjadi perantara. “Lalu … apalagi yang dapat dipelajari anak-anak?”. Ini dapat berdampak pada bagaimana menyiapkan pelajaran atau bagaimana guru harus berbicara dengan siswa setiap saat. ZPD dapat menjadi pemandu dalam memilih dan menyusun pengalaman pembelajaran bagi siswa untuk membantu mereka maju dari tahap interpersonal ke intrapersonal. Kita membantu siswa agar internalisasi terjadi sehingga bahasa baru yang diajarkan menjadi bagian dari pengetahuan dan keterampilan berbahasa anak.

3. Teori Psikologi Bruner

Menurut Bruner (dalam Helena, 2004) bahasa adalah alat yang paling penting bagi pertumbuhan kognitif anak. Bruner meneliti bagaimana orang dewasa menggunakan bahasa untuk menjembatani dunia sekitar dengan anak-anak dan membantu mereka memecahkan masalah. Pembicaraan atau “omongan” yang mendukung anak dalam melakukan kegiatan disebut scaffolding talk. Scaffolding talk atau omongan guru yang digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan di kelas, dapat berlangsung mulai dari memeriksa presensi sampai membubarkan kelas. Ketika scaffolding talk itu terjadi dalam pembelajaran bahasa Inggris, maka semua itu juga harus dilakukan dalam bahasa Inggris pula. Dalam sebuah ekxperimen yang dilakukan terhadap ibu-ibu dan anak-anak di Amerika, orang tua yang melakukan scaffolding talk secara efektif biasa melakukan hal-hal sebagai berikut:

* Mereka membuat anak tertarik kepada tugas-tugas yang diberikan;
* Mereka membuat tugas menjadi lebih sederhana, seringkali dengan memecah-mecah tugas menjadi langkah-langkah yang lebih kecil;
* Mereka mampu mengarahkan anak kepada penyelesaian tugas dengan mengingatkan anak tentang tujuan utamanya;
* Mereka menunjukkan apa-apa yang penting untuk dikerjakan, atau menunjukkan bagaimana melakukan bagian-bagian dari tugas itu;
* Mereka menunjukkan bagaimana tugas itu dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya.

Wood (1998) menyarankan bahwa guru dapat mendukung (scaffold) pembelajaran (bahasa Inggris sebagai bahasa asing) kepada anak dengan berbagai cara sebagai berikut:

Guru dapat membantu siswa ………..


Dengan cara ………

Menunjukkan apa yang relevan


- memberi saran

- memuji yang perlu dipuji

- memfokuskan kegiatan

Menggunakan strategi yang berguna


- mendorong adanya latihan

- membuat aturan yang jelas dan

Eksplisit

Mengingat seluruh tugas dan tujuannya


- mengingatkan

- memberi model

- memberi kegiatan menyeluruh

dan bagian-bagian kegiatannya.

Setiap strategi ini dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa. Prinsip “membantu siswa untuk memperhatikan hal-hal yang penting” dapat selalu diterapkan dalam berbagai kesempatan dan ini mendukung pendapat Schmidt (dalam Helena, 2004) mengenai apa yang disebut dengan noticing.

Ketika guru mengarahkan perhatian anak agar selalu mengingat tugas utamanya, sebenarnya guru membantu siswa melakukan sesuatu yang belum dapat mereka lakukan sendiri. Ketika anak sedang asyik memperhatikan bagian-bagian dari tugas atau aspek-aspek bahasa, ada kemungkinan mereka lupa akan tujuan komunikatif bahasa karena terbatasnya kemampuan mereka dalam hal memperhatikan. Tugas guru adalah menjaga agar perhatian anak kepada hal-hal yang penting tidak “terbelokkan” ke hal atau kegiatan yang dimaksudkan sebagai penunjang.

Gagasan Bruner yang lain yang sangat relevan dan berguna bagi pembelajaran bahasa adalah mengenai format and routine. Kedua hal ini mengacu pada kebiasaan-kebiasaan yang memungkinkan kegiatan scaffolding terjadi. Scaffolding adalah aktivitas guru, baik secara fisik maupun verbal, yang dilakukan secara rutin sehingga anak menjadi terbiasa dengan kegiatan atau ungkapan-ungkapan guru waktu pelajaran berlangsung. Jadi, ketika anak terbiasa dengan pola kegiatan atau bahasa guru, mereka merasa “nyaman” dan percaya diri dan mereka menjadi siap untuk menerima hal-hal yang baru. Caontoh yang paling menonjol yang diberikan Bruner adalah kebiasaan membaca ceritera atau story reading yang dilakukan orang tua di Amerika kepada anak-anaknya. Tentu saja, ketika anak bertambah usia, buku cerita yang digunakan juga berubah, tetapi format kegiatannya masih serupa. Dalam kegiatan ini, orang dewasalah yang banyak bicara baik ketika membaca ceritera (yang sering diberi ilustrasi gambar-gambar) maupun sambil memberi pertanyaam atau instruksi kepada anak-anak, seperti “Coba lihat ini… hidungnya besar, kan?”. Dengan cara ini keterlibatan anak dalam berbicara akan meningkat pula. Jika orang tua atau guru banyak melakukan pembacaan ceritera, maka guru akan banyak melakukan pengulangan ungkapan-ungkapan yang semakin lama semakin canggih yang dipahami oleh siswa. Kegiatan membaca certera ini ditunjang oleh orang dewasa agar anak dapat berpartisipasi sesuai dengan tingkat kemampuannya.

Dengan kata lain penggunaan bahasa yang dilakukan secara rutin menjadi mudah ditebak; anak mudah menebak apa yang dikatakan guru dan anak akan dapat lebih mudah merespon perkataan guru. Di sini terdapat “ruang” tempat anak dapat mempraktikkan bahasanya sendiri. “Ruang untuk tumbuh” atau space of growth ini menjadi zone of proximal development (ZPD) sebagaimana ada dalam teori Vygotsky. Menurut Bruner, kegiatan rutin dan penyesuaian-penyesuain inilah yang menyediakan tempat bagi perkembangan bahasa dan kognitif anak.

Jika gagasan ini diterapkan di dalam kelas, dapat dilihat bagaimana kegiatan rutin yang terjadi di setiap hari dapat menjadi ajang terbentuknya perkembangan bahasa. Misalnya saja ketika guru melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan pengalaman pembelajaran dan memerlukan partisipasi siswa untuk membagi gunting dan sebagainya, guru sebaiknya menggunakan bahasa Inggris sperti, “John, please give out the scissors. Martha, give out the paper.” Kepada siswa yang kurang pandai. Kepada anak yang lebih pandai, instruksinya bisa lebih rumit, misalnya “Sam, please ask everyday if they want white paper or black paper”. Jika ini sering dilakukan maka siswa akan semakin memahami instruksi-instruksi lama dan belajar memahami instruksi baru melalui konteks. Meningkatnya kesulitan instruksi inilah yang memberikan ruang untuk pertumbuhan. Ketika bahasa yang digunakan guru berada dalam lingkup ZPD anak, ia dapat memahaminya sehingga proses internalisasi dapat berlangsung. Kesimpulannya, hal-hal yang rutin termasuk ungkapan-ungkapan, seperti instruksi, membuka kesempatan bagi berkembangnya keterampilan bahasa.

4. Implikasi Praktis

Teori psikologi yang diuraikan di atas berimplikasi atau berdampak langsung terhadap apa yang selayaknya dilakukan oleh guru dalam mengajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing di kelas.

Dari teori Piaget dapat disimpulkan bahwa pembelajaran memang terjadi bertahap, tetapi ini bukan berarti bahwa pembelajaran yang holistik tidak dapat terjadi jika tahap-tahap pembelajaran tersebut tidak dilalui secara sistematis. Dengan kata lain, dalam merencanakan kegiatan belajar mengajar guru bisa saja menyusun materi dari yang paling mudah hingga yang paling sulit menurut versi atau pandangan guru. Akan tetapi, dalam komunikasi nyata seringkali apa yang dianggap sulit secara teoritis justru banyak digunakan dan anak dapat memperolehnya dengan mudah karena materi tersebut sering didengarnya lewat televisi. Frasa-frasa yang secara gramatikal termasuk “canggih” seperti fried chicken, video rental, sea food, American Idol, MTV Hit Lists, MTV Cribs Cyber Cafe, shopping mall, supermarket, hand-and-body lotion, thinner, eye shadow, body suit, laundry dan sebagainya menjadi mudah bagi siswa dan mereka dapat menggunakkanya sesuai konteks. Kemampuan ini menunjukkan bahwa mereka merasa nyaman menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Inggris bukan sebagai hasil menganalisis dan memahami struktur frasanya, melainkan karena kata-kata tersebut sudah menjadi bagian rutin masyarakat. Di jaman televisi yang banyak menampilkan bahasa Inggris, anak-anak remaja bisa dengan mudah mempelajari ungkapan-ungkapan seperti It’s cool, isn’t it?, Come on, guys…, Stay tuned! Check it out! dan sebagainya.

Di sisi lain bisa dilihat juga bahwa pola kalimat simple present tense termasuk pola kalimat yang paling sederhana dan mudah dihapal. Akan tetapi, penggunaan simple present tense dalam komunikasi baik lisan maupun tulis sulit dikatakan mudah atau sederhana. Buku-buku ajar yang beredar di pasaran banyak mengandung kesalahan penggunaan pola ini; pola kalimatnya benar, tetapi konteks penggunaannya tidak sesuai. Adalah menjadi tugas guru untuk memanfaatkan potensi anak sebagai pemikir untuk tidak hanya menghafal rumus melainkan menggunakan rumus dalam konteks yang tepat lewat berbagai kegiatan pembiasaan.

Teori Vygotsky tentang Zone of Proximal Development menekankan betapa perang guru sangat dibutuhkan dalam rangka terjadinya pembelajaran yang optimal. Dikatakan bahwa anak atau siswa memiliki kapasitas atau potensi untuk belajar sendiri (seperti teori Piaget), tetapi belajar yang optimal terjadi karena anak mendapat pertolongan dari orang dewasa yang ada di sekitarnya. Pembelajaran terjadi karena adanya interaksi dengan lingkungan sosialnya. Penelitian Halliday mengenai bagaimana anak kecil ber(tukar) makna (learning how to mean) memberikan ilustrasi yang bernilai terhadap teori Vygotsky ini.

Bahasan ini menunjukkan betapa pentingnya bagi guru untuk merencanakan kegiatan belajar mengajar yang seksama. Rencana tersebut secara eksplisit perlu mencantumkan kegiatan apa yang akan dilakukan atau pengalaman pembelajaran apa yang akan diberikan dan untuk tujuan apa. Rencana pengajaran tersebut diharapkan secara serius mempertimbangkan jenis-jenis interaksi di dalam kelas yang menjadikan kelas sebagai ZPD. Implikasinya ialah bahwa guru memang masih perlu menjelaskan pola kalimat, melakukan drill jika perlu melatih ucapan, tetapi sebagian besar waktu sebaiknya dimanfaatkan semaksimal mungkin agar terjadi macam interaksi.

Teori Burner juga mendukung gagasan Vygotsky. Gagasan Bruner tentang scaffolding atau memberikan kegiatan-kegiatan pendukung dalam upaya terjadinya internalisasi sangat relevan dengan pendidikan bahasa. Di bidang ini, kegiatan scaffolding secara verbal merupakan keniscayaan jika pendidikan bahasa dimaksudkan sebagai pendidikan komunikasi. Sayangnya, justru scaffolding talk atau “omongan” guru yang diharapkan menyertai seluruh proses pembelajaran bahasa Inggris sering tidak muncul di dalam kelas. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa guru berbahasa Inggris hanya kalau sedang membaca bacaan, pertanyaan yang ada di buku dan instruksi-instruksi tertulis. Kegiatan lain diselenggarakan dalam bahasa Indonesia. Misalnya, memeriksa kehadiran siswa, mengatur atau mengelola kelas, memberi komentar-komentar; semuanya dilakukan dalam bahasa Indonesia. Padahal, justru ungkapan-ungkapan bahasa Inggris yang “bukan pelajaran” inilah yang potensial untuk membangun ZPD, menanamkan kebiasaan, dan memungkinkan terjadinya internalisasi.

Implikasinya, jika guru berharap agar siswa dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan baik, maka guru harus bebahasa Inggris di kelas sebab scaffolding talk atau “omongan yang bukan pelajaran” inilah yang bisa menciptakan pembiasaan untuk berkomunikasi berbahasa Inggris bagi siswa. Kelemahan umum guru-guru bahasa Inggris di Indonesia dalam hal melakukan scaffolding talk perlu disadari dengan benar, karena kenyataanya guru-guru yang mengajar bahasa Inggris tetapi di dalam kelas justru lebih banyak berbicara dalam bahasa Indonesia. Keaadaan ini memang terdengar ironis. Akan tetapi ini tidak berarti bahwa kurikulum harus menyesuaikan dengan keadaan guru. Dengan kurikulum ini guru didorong untuk meningkatkan dirinya karena belajar bahasa berlangsung seumur hidup.

Implikasi lain, terutama teori Vygotsky, tampaknya terjadi pula pada pandangan para pengikut konstruktivisme dalam pembelajaran (bahasa). Seperti telah disinggung di depan bahwa menurut teori Vygotsky, anak-anak dibesarkan di dalam suatu setting kelompok sosial. Vygotsky memandang pentingnya kultur dan pentingnya konteks sosial bagi perkembangan kognitif. Menurut Vygotsky, atau dengan cara pandang konstruktivisme ini, anak-anak atau siswa dengan pertolongan orang dewasa dapat menguasai konsep-konsep atau gagasan-gagasan yang mereka tidak bisa pahami sendiri. Annie Susany (2002) menyatakan bahwa dalam visi konstruktivisme terdapat empat pandangan utama yang diyakini oleh para pendukungnya, yaitu:

a) Belajar dan berkembang adalah bersifat sosial, sehingga belajar merupakan suatu kegiatan kolaboratif;

b) “The Zone of Proximal Development” dapat bertindak sebagai suatu pegangan untuk rencana kurikuler dan mata pelajaran;

c) Pengajaran di sekolah seyogyanya terjadi dalam suatu konteks yang bermakna (meaningful context) dan tidak bisa dipisahkan dari pengajaran serta pengetahuan yang dikembangkan oleh para siswa dan “dunia nyata”;

d) Pengalaman-pengalaman di luar sekolah hendaknya dihubungkan dengan pengalaman-pengalaman para siswa (anak-anak) di dalam lingkungan sekolah.

ZPD dalam hal ini merupakan suatu gagasan yang memandang bahwa potensi perkembangan kognitif seseorang terbatas pada suatu waktu tertentu saja. ZPD ini bisa dikembangkan secara terus menerus dan memerlukan interaksi sosial. ZPD menurut Vygotsky sebagai jarak antara tingkat perkembangan dengan tingkat potensi perkembangan yang dimiliki seseorang. Berdasarkan pada konsep ini, seorang guru bisa menawarkan suatu tujuan yang mungkin sulit dicapai oleh para siswa atau anak-anak dan kemudian mereka ini berusaha untuk mencapainya sendiri atau dengan bantuan anak-anak lain yang lebih dewasa. Vigotsky memandang bermain sebagai faktor atau sarana yang sangat penting dalam belajar.

Berdasarkan prinsisp-prinsip teori Vygotsky seperti telah dibicarakan di atas, terdapat sejumlah kegiatan dalam kelas bahasa (termasuk kelas bahasa Inggris sebagai bahasa asing) yang bisa dijadikan tempat atau kesempatan untuk menerapkan gagasan konstruktivisme ini. Beberapa contoh kegiatan itu misalnya:

a) Kegiatan workshop membaca dan menulis

Di dalam workshop, siswa atau anak-anak yang kurang menguasai pokok bahasan akan lebih dahulu mendengarkan dan belajar dari mereka yang lebih mampu. Setelah mendengarkan dan mengikuti penjelasan tentang subject matter, maka siswa yang belum mampu itu akan mencoba melakukan sendiri atau dibantu dengan yang lebih mampu. Secara bertahap akhirnya mereka akan bisa melakukannya sendiri.

b) Kegiatan belajar empat keterampilan bahasa

Dalam belajar atau proses pengajaran bahasa, keempat kemampuan dasar; listening, speaking, reading, dan writing, dilakukan di dalam kelas. Siswa-siswa yang kurang menguasai bisa disatukan dengan yang lebih menguasai materi pelajaran bahasa. Dengan demikian terjadi semacam proses belajar dari teman secara tidak langsung.

c) Kegiatan belajar berdasarkan situasi

Situasi tidak selalu cocok dengan kebutuhan belajar. Bagaimana cara mengatasinya? Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah melalui pendekatan dan kegiatan konstruktivistik, misalnya hal ini bisa dilakukan di daerah-daerah terpencil yang kekurangan guru. Siswa yang pandai diminta membantu guru untuk mengajarkan pengetahuan yang telah dimiliki (dikuasai) kepada siswa lain yang belum menguasainya.

d) Kegiatan belajar kolaboratif

Belajar kolaboratif bisa terjadi di dalam kelas (suasana intra kurikuler) maupun ekstra kurikuler. Bentuk belajar kolaboratif ini bisa dilakukan dalam kelas writing bagi siswa SMP, SMA atau bahkan mahasiswa di PT. Siswa atau mahasiswa diminta untuk mencari dua atau tiga “kolaborator” yang akan saling mengoreksi pekerjaan masing-masing untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan mekanik penulisan (mechanic writing), kesalahan-kesalahan kecil, dan tidak dalam content (yang merupakan wewenang guru atau dosen untuk melakukannya).

e) Kegiatan instruksi yang memberikan bantuan (anchored instruction).

Instruksi bisa berbentuk task-based yang dilakukan melalui sistem konsultasi dengan guru. Dengan demikian, suatu tugas tidak hanya dimulai dari suatu instruksi yang kaku dan diserahkan sepenuhnya kepada siswa, akan tetapi tugas yang diberikan harus memberikan peluang bagi siswa untuk berdiskusi atau berkonsultasi dengan gurunya ketika mereka itu sedang menyelesaikan tugasnya. Instruksi tidak lagi murni instruksi melainkan ada unsur kolaboratif antara siswa dengan guru.

f) Kegiatan games, simulasi, instruksi kasus atau problem solving.

Dalam kelas bahasa kegiatan ini sangat tepat diterapkan dalam kelas speaking. Kegiatan ini unsur kolaborasi dan saling bantu masih tetap ditonjolkan di antara para siswa.

Pada kenyataanya pendekatan konstruktivistik ini tidak hanya bisa diterapkan di kelas-kelas bahasa, tetapi dapat pula dilakukan di kelas-kelas MIPA, kelas komputer, akuntansi dan lain-lain yang menekankan kegiatan kolaboratif antara siswa dengan siswa atau siswa dengan guru.

D. Penutup

Teori psikologi mempunyai peranan yang sangat penting dalam membantu guru dalam mendesain proses pembelajaran bahasa Inggris sebagai asing. Pemahaman guru terhadap berbagai teori psikologi sangat diperlukan dalam rangka mendesain proses pembelajaran, sehingga mereka mampu menciptakan proses pembelajaran yang bermakna (menarik, menyenangkan dan menimbulkan motivasi) bagi siswa. Ketika hal ini bisa diwujudkan, maka tujuan pembelajaran yang sudah ditentukan sebelumnya akan lebih mudah untuk diwujudkan pula.

Dapat disimpulkan pula bahwa di dalam pendekatan konstruktivistik terdapat beberapa pokok pikiran yang menjadikannya berbeda dengan pendekatan pedagogik lainnya. Pendekatan konstruktivistik ini dapat dijabarkan dalam beberapa hal, yaitu memandang kultur sebagai sumber pengajaran; memandang pihak lain sebagai stake-holders dalam pengembangan pengetahuan; memandang siswa sebagai seseorang yang mempunyai potensi yang mesti dikembangkan; dan menempatkan ZPD, seperti dalam teori Vygotsky, sebagai komponen vital dalam proses belajar. Dengan mengembangluaskan ZPD, siswa pada tinkat pendidikan apapun akan bisa mengembangkan dirinya secara terus menerus melalui lingkungannya.

DAFTAR REFERENSI

Annie Susiany S. 2002. Bahasa Inggris. Materi Penataran Tertulis Pengayaan Guru SMU. Bandung: PPPG Tertulis.

Bruner, J. 1990. Acts of Meaning. Cambridge: Havard University Press.

Cameron. 2001. Teaching Languages to Young Learners. UK: Cambridge University Press.

Chomsky, N. 1965. Aspects of the Theory of Syntax. Cambridge: MIT Press.

Halliday, M.A.K. 1978. Language as Social Semiotic. London: Edward Arnold.

Helena I.R. Agustien. 2004. Landasan Filosofis Teoritis Pendidikan Bahasa Inggris. Jakarta: Dirjend Dikdasmen Depdiknas.

*) Sumardi, M.Hum

Guru bahasa Inggris di SMA Negeri 1 Sragen, Jateng dan Mahasiswa Program Doktor PEP Universitas Negeri Yogyakarta