INFO HIDUP SEHAT

Minggu, 31 Oktober 2010

MENIMBANG SUPREMASI SPIRITUAL MBAH MARIJAN

FACHRUDDIN

KETIKA BMG menyatakan gunung Merapi sekarang dalam status 'awas' Pemerintah segera memfasilitasi masyarakat yang berada persis dilereng gung untuk mengungsi. Maka Mbah marijan adalah kuncen yang tidak berkenan meninggalkan lereng berbahaya itu. Tidak kurang dari seorang Sultan mendaki tebing menyeru agar Mbah marijan bersama penduduk yang masih tersisa segera turun demi keselamatan bersama. Konon pada waktu itu Mbah Marijan justeru memanjat lebih tinggi lagi. Konon kata Mbah Marijan gunung ini tak akan meletus ..., kalau aku turun maka aku akan ditertawakan oleh binatang ternak yang ada di sekitar lereng yang sedang asyik mencari makan. ternyata benar gung tidak meletus, dan Mbah Marijan mendapatkan sematan supremasi spiritual untuk memahami karakter Merapi jauh di atas pejabatan dan petugas BMG serta pejabat Pemerintah lainnya yang terkait.


dun
Mbah Marijanpun memetik berkah dari keberanian dan kebenarannya, sehingga Mbah marijan si manusia sederhana yang terangkat menjadi tokoh nasional Indonesia. setidaknya sederajat dengan petinju Krist Jon yang menjadi kebanggaan bangsa karena berulang kali memenangkan perebutan sabuk juara dunia. Tidak kalah juga peran para pengamat yang berkenan menulis opini prihal keberanian dan kebenaran Mbah Marijan. Ada tulisan yang mengatakan pengetahuan Mbah Marijan adalah merupakan kearifan lokal, kearifan tradisional.

Itulah sebabnya seorang sahabat saya yang pada saat itu menjabat sebagai Kasubdin Kebudayaan merasa bimbang dengan permintaan salah satu Dinas Provinsi yang memintanya berbicara tentang kearufan lokal, atau lokal wisdom, atau genius lokal atau entah pa nama lainnya. sang sahabat mengatakan bahwa ia belujm sempat mendalami prihal spiritual masyarakat Lampung. Dengan demikian maka berarti Mabah Marijak nyharis memiliki power untuk membentuk imej tentang nilai tradisional kearifan lokal yang pada saat itu mulai trend dibicarakan.



Saya masih bertahan dengan mengatakan bahwa kearifan lokal di lampung adalah piil pesenggiri, bukan sumber pengetahuan yang berbau klenik, spiritual dan entah apalagi namanya, bukan. Kerafan lokal lampung tidak terlepas dari letak geografis dan perjalanan sejarah politik masyarakat lampung itu sendiri. Piil pesenggiri memiliki kreteria yang cukup antara lain 1. menjadi pemagangan masyarakat dan berhasil membawa masyarakat dari satu era ke era yang lain. 2. Memiliki kemampuan mengakomodir nilai dari luar, 3. Memiliki kemahiran untuk mengintegrasikan nilai luar dengan nilai tradisional lampung. 4. Memiliki kekuatan dalam membentuk keutuhan komunitas dan 5. memiliki kemampuan untuk memberikan arahan dalam perubahan. Piil pesenggiri sebagai sistem filsafat jauh memiliki bobot yang konsepsional. Ada sahabat yang demikian kagumnya dengan Mbah Marijan, serta menolak kreteria kearifan lokal yang saya kemukakan itu, bagi dia kearifan lokal tidak terlepas dari kebenaran spiritual




Beberapa hari yang lalu Mbah marijan meninggal bersama beberapa orang lainnya yang masih bertahan di lereng gunung Merapi, mereka terkena semburan hawa panas. Mbah marijan ditemukan tewas dalam keadaan posisi bersujud. Inna Lillahi wainna Ilaihi Rojiun. serta merta orang menyesalkan mengapa Sultan tidak memerintahkan Mbah marijan dan kawan kawan untuk turun gunung menghindari hawa panas. Karena sebagai abdi dalem Mbah marijan tidak akan turun tampa perintah dari Sultan. Prinsip abdi dalem adalah " Pejah gesang Nderek ... " Ini mengundang kekaguman tersendiri, walaupun bukan pula dapat dijadikan ukuran ideal akan sebuah kebenaran.

Sebagaimana kita ketahui bahwa manusia mengenal beberapa instansi pencari kebenaran yaitu instansi ilmu, instansi filsafat dan instansi agama (spiritual). Bila menyangkut masalah yang masih dapat ditangkat oleh indera maka itu masih merupakan domain ilmu, tetapi manakala inder tak mampu membuktikan tetapi dapat dirasakan maka itu akan menjadi domain filsafat. Sedangkan agama akan memberikan pencerahan kepada silang pendapat ilmu dan filsafat atas keterbatasannya masing masing. Aktivitas gubung Merapi semua dapat ditangkap oleh indera melalui berbagai alat. Tidak perlu ada tafsiran filosofis terhadap data data yang ditangkap oleh peralatan milik BMG itu.

Fenomena ini hendaknya menjadi pelajaran bagi kita semua agar lebih arief dalam bersikap, terlebih bagi seseorang yang menyandang kepercayaan dari banyak orang, agar orang lain tidak tersesat karena ulah kita yang memeiliki keterbatasan ini. Manusia tidaklah mendapatkan pengetahuan kecuali sedikit, termasuk juga Mbah marijan.

FENOMENA MBAH MARIJAN DI GUNUNG MERAPI

Hingga saat-saat terakhir pertemuannya dengan beberapa saksi hidup, Mbah Maridjan tetap mengatakan belum akan ‘turun’ meninggalkan Merapi. Bersama dengan dirinya, sejumlah anggota masyarakat yang penuh kepercayaan, ikut menjadi korban letusan Merapi. Agaknya hingga detik-detik terakhir Mbah Maridjan belum juga mendapat isyarat dari ‘penguasa’ Utara yang bertahta di Gunung Merapi”. “Kembali berpikir dalam jalur positivisme secara rasional, tewasnya Mbah Maridjan di Gunung Merapi yang telah dijaganya dalam separuh hidupnya, bisa menjadi pembelajaran bersama bagi banyak pihak, termasuk mengenai kegagalan sosiologis kita dalam pencerdasan bangsa”.

AKHIRNYA rentetan erupsi Gunung Merapi mulai terjadi sejak Selasa (26 Oktober) sore dan petang. Mungkin baru semacam permulaan, ditandai tiga dentuman keras dan terlihatnya nyala api di puncak Merapi, disusul semburan setinggi 1,5 kilometer yang mencipta awan panas dengan temperatur ratusan deradjat Celcius. Belum ada muntahan lava panas. Tak urung sudah jatuh sejumlah korban tewas. Salah satu di antaranya, kuncen Merapi yang termasyhur, Mbah Maridjan. Lelaki kelahiran tahun 1927 ini ditemukan pada hari berikut dalam keadaan tak bernyawa dalam posisi bersujud di dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman.

Di rumah Mbah Maridjan tim evakuasi menemukan tak kurang dari sembilan jenazah, dan sejumlah lainnya di masjid milik keluarga Mbah Maridjan sehingga seluruhnya berjumlah tak kurang dari 16 orang. Hanya dalam hitungan jam sebelum ‘kematian’nya –yang sudah diyakini berdasarkan pemeriksaan ciri fisik, namun masih menunggu kepastian identifikasi berdasarkan tes DNA– Mbah Maridjan masih sempat bertemu dengan sejumlah wartawan. Memperkuat ucapannya sebelumnya, bahwa ia masih betah tinggal di rumahnya yang berjarak hanya 4,5 kilometer dari Merapi, di antara gemuruh suara dan suasana pekat oleh kabut asap Merapi, ia berkata bahwa dari dulu Merapi begitu keadaannya saat mau meletus. Pers mengutip ucapan Mbah Maridjan yang kurang lebih mengatakan bahwa Merapi tetap tak mau dibuka dan masih ditutup. Penafsirannya, Mbah Maridjan masih meyakini bahwa yang di ‘atas’ belum menghendaki Merapi meletus.

Mis-informasi. Sehari sebelumnya terjadi sebuah gempa 7,2 skala richter yang bersumber di dasar laut Samudera Indonesia, sebelah barat daya pulau Pagai Utara di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Sesaat setelah gempa terjadi, ada peringatan kepada masyarakat tentang adanya potensi tsunami, tetapi tak lama disusul pemberitahuan seperti disiarkan media elektronik bahwa tidak (akan) terjadi tsunami. Nyatanya, beberapa jam setelah gempa, gelombang tsunami dengan ketinggian 1-3 meter toh terjadi juga, melanda beberapa desa di pantai Mentawai yang berhadapan dengan Samudera Indonesia. Lebih dari tiga ratus orang diketahui meninggal –yang angkanya masih bisa bertambah– karena sejak mula tercatat pula lebih dari lima ratusan orang lainnya dinyatakan hilang. Ada sedikit mis-informasi dalam mekanisme peringatan dini, dengan dampak yang pastilah merugikan.

Sebuah kasus mis-informasi yang berakibat fatal, pernah dialami siang hari 27 Januari 1981 dalam peristiwa terbakar dan tenggelamnya sebuah kapal penumpang milik PT Pelni, KMP Tampomas II, di perairan kepulauan Masalembo di bagian timur Laut Jawa. Ratusan jiwa penumpangnya melayang karena terlambatnya pertolongan, padahal perairan tempat kecelakaan itu tak begitu jauh letaknya dari kota pelabuhan Surabaya. Nakhoda kapal mengirimkan kabar tentang terjadinya kebakaran yang meskipun pada mulanya tidak begitu besar, tak mampu dipadamkan sendiri karena keterbatasan perlengkapan pemadam api di kapal yang dibeli dalam keadaan bekas itu. Karena ada berita dari nakhoda seperti itu, sejumlah regu pertolongan segera disiapkan untuk berangkat. Namun, tiba-tiba di layar TVRI muncul Dirjen Perhubungan Laut Fanny Habibie –kini Duta Besar RI di Kerajaan Belanda– yang memberitahukan tentang adanya kebakaran di KMP Tampomas, tetapi menurut sang Dirjen api telah berhasil dipadamkan. Menyaksikan berita di TVRI itu, sejumlah tim bala bantuan dari pelabuhan/pangkalan terdekat yang akan dikirim ke lokasi Tampomas II mengurungkan keberangkatan, tanpa check and recheck lagi. Ternyata, kebakaran belum berhasil dipadamkan, dan tinggallah Tampomas II berjuang sendiri tanpa pertolongan selama berjam-jam. Setelah kekeliruan disadari, barulah bala bantuan dikirim, namun segalanya sudah serba terlambat. Tampomas II akhirnya tenggelam. Sedikit beruntung, nakhoda kapal barang milik PT Porodisa, Billy Matindas, yang penasaran karena tak bisa mengkomunikasi lanjut Tampomas II mengambil insiatif untuk menuju lokasi terakhir Tampomas. Kedatangan kapal yang dinakhodai Billy bisa menyelamatkan sejumlah penumpang yang sudah berserakan di laut, namun tidak bisa menyelamatkan sebagian besar lainnya.

DALAM kaitan letusan gunung Merapi, para petugas penanggulangan telah bekerja cukup tanggap dan sejak jauh-jauh hari memberi peringatan-peringatan dalam berbagai tahapan, antara lain dengan teratur menginformasikan status bahaya gunung Merapi. Terakhir para petugas mengumumkan peningkatan dari status siaga menjadi awas. Petugas lalu mulai pula memerintahkan pengungsian. Tetapi pada titik ini sebagian besar masyarakat justru mengabaikan perintah dan atau seruan. Pembangkangan sosial?

Komunitas Merapi, di luar positivisme. Penduduk sekitar yang lahir dan hidup bersama Merapi dalam suatu jangka yang panjang, telah sampai pada suatu tingkat ‘pengenalan’ mendalam –setidaknya, mereka merasa demikian– tentang gunung Merapi. Mulai dari ketergantungan hidup sehari-hari yang nyata dan rasional dari alam sekitar sang gunung, sampai kepada ‘pengenalan’ terhadap aspek-aspek irrasional dan tidak nyata dari Merapi. Aspek yang nyata dan rasional diwakili oleh rumah tempat berteduh, tanaman-tanaman dan ternak yang mereka pelihara maupun berbagai eksplorasi lainnya seperti penambangan pasir, batuan dan lain sebagainya, tak terkecuali kehidupan pariwisata di beberapa bagian Merapi. Semua itu mengikat mereka dalam suatu keterikatan kehidupan sebagai realitas sehari-hari bersama alam sekitar yang mereka sebut sebagai rumah dan kampung halaman.

Maka, setiap kali terjadi bencana, dan petugas pemerintah meminta mereka mengungsi, mereka merasa berat hati, seolah akan diputus hubungannya dengan rumah dan kampung halaman. Selain itu, masyarakat punya tak sedikit pengalaman traumatis dengan apa yang disebut pengungsian. Bukannya masyarakat tak siap dengan kemungkinan bahwa pengungsian itu penuh kesulitan dan serbakekurangan, namun pengalaman menunjukkan penelantaran yang terjadi karena ketidaktrampilan aparat pemerintah seringkali jauh lebih luarbiasa daripada yang bisa disangka dan dibayangkan. Maka, mengungsi menjadi pilihan yang betul-betul terakhir, namun sayangnya, dengan demikian evakuasi menjadi terlambat dan mencipta suatu akhir tragis. Pengalaman traumatis terkait pengungsian yang seakan menjadi bencana penderitaan babak kedua seperti ini, bukan hanya menjadi pengalaman masyarakat Merapi, tetapi juga menjadi pengalaman klasik di tempat-tempat bencana lainnya, seperti di Aceh pasca Tsunami dan di Wasior pasca banjir, sekedar menyebut beberapa contoh.

Namun, khusus untuk Merapi, bekerja pula suatu mekanisme non teknis yang irrasional. Salah satu adalah faktor kepercayaan masyarakat yang lebih tinggi kepada tokoh yang dianggap punya ‘kekuatan’ spiritual ekstra seperti Mbah Maridjan daripada kepada pemerintah. Kenapa? Menurut sebuah tulisan (handaru.light19.com), “dalam kosmologi keraton Yogyakarta, dunia ini terdiri atas lima bagian”. Bagian tengah yang dihuni manusia dengan keraton Yogyakarta sebagai pusatnya. Keempat bagian lain dihuni oleh makhluk halus. “Raja bagian utara bermukim di Gunung Merapi, bagian timur di Gunung Semeru, bagian selatan di Laut Selatan, dan bagian barat di Sendang Ndlephi di Gunung Menoreh. Namun, jauh dari ungkapan-ungkapan itu ada suatu keyakinan yang hidup di dalam masyarakat di sekitar Gunung Merapi bahwa gunung dengan segala macam isinya dan makhluk hidup yang mendiami wilayah ini menjadi suatu komunitas. Oleh karena itu, ada hubungan saling menjaga dan saling melindungi. Ketika salah satu anggota mengalami atau melakukan sesuatu maka ia akan memberi ‘isyarat’ kepada yang lain dan ia akan memberitahukan kepada yang lain”. Demikian pula, ketika Merapi batuk-batuk ia juga memberi isyarat kepada yang lain “termasuk kepada Mbah Maridjan”. Selama isyarat belum diterima Mbah Marijan, maka ia akan beranggapan bahwa ‘penguasa’ Merapi tidak akan melakukan sesuatu.

Sepanjang Mbah Maridjan –yang telah menjadi kuncen Merapi selama puluhan tahun, diangkat Sultan Hamengku Buwono IX, dengan nama baru Mas Penewu Suraksohargo, menggantikan posisi ayahnya– belum ‘turun’ gunung, maka sebagian masyarakat juga belum akan turun. Selain menjadi bagian dalam suatu bangunan kepercayaan dalam suatu kosmologi Jawa, Mbah Maridjan juga telah mengisi kekosongan akibat ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah. ‘Reputasi’ Mbah Maridjan makin melesat ke atas dalam peristiwa meningkatnya kegiatan Gunung Merapi pada tahun 2006 yang lalu. Kala itu, petugas pemerintah berdasarkan data teknis yang diperoleh berdasarkan catatan rekaman berbagai peralatan monitor, memutuskan untuk menyerukan evakuasi masyarakat dari zona-zona berbahaya. Tapi Mbah Maridjan –setelah pulang dari semedi, entah di bagian mana Gunung Merapi– berkata sebaliknya, bahwa Gunung Merapi belum akan membahayakan masyarakat. Sebagian besar masyarakat lebih percaya kepada sang kuncen dan menolak untuk dievakuasi. Aparat pemerintah, dengan kawalan polisi, akhirnya menjemput paksa Mbah Maridjan untuk dibawa meninggalkan rumahnya.

Ternyata, Gunung Merapi tak berlanjut erupsinya di tahun 2006 itu sehingga batal menjadi bencana besar. Makin sah pulalah ‘kesaktian’ dan kekuatan spritual Mbah Maridjan, yang dianggap tahu persis kapan sang gunung akan meletus atau tidak, karena kemampuannya ber’komunikasi’ dengan ‘kekuatan’ tak kasat mata dari ‘penguasa’ Merapi yang sesungguhnya. Tiba-tiba Mbah Maridjan menjadi ‘tokoh nasional’ yang lebih dipercaya daripada pemerintah. Ketika sebuah perusahaan jamu tradisional Sido Muncul, produsen sejenis minuman kesehatan yang menjanjikan keperkasaan, Kuku Bima EnerG, memanfaatkan Mbah Maridjan sebagai bintang iklannya lengkaplah sudah supremasi spiritual Mbah Maridjan di masyarakat, terutama di kalangan menengah bawah hingga lapisan akar rumput. Penampilan bintang dunia olahraga yang berotot dalam iklan minuman berenergi tersebut –yang selalu diminum dengan cara tertentu yang membuat minuman tumpah-tumpah– menjadi lambang kekuatan fisik, sementara Mbah Maridjan yang sebenarnya secara fisik sudah menuju renta dalam usia 83 tahun menjadi simbol kekuatan spiritual. Suatu pola pencitraan yang bagi sebagian orang dianggap cenderung sesat, dan samasekali tidak ikut mencerdaskan, tetapi itulah realita dunia periklanan yang lebih mengutamakan bagaimana ‘mencuci’ otak dalam rangka memperdagangkan kesan demi kepentingan keuntungan dunia usaha komersial.

Pengetahuan Mbah Maridjan, menurut handaru.light19.com lebih jauh, dibangun bukan dalam pandangan positivisme. “Oleh karena itu, keliru jika ada usaha memeriksa kebenarannya dengan cara positivisme”. Pengetahuan yang dikonstruksi oleh Mbah Maridjan bersifat personal dan internal karena tidak dinyatakan dengan kata-kata, simbol-simbol (nyata), atau formula matematis. Dalam konteks yang lebih luas pengetahuan Mbah Maridjan dapat digolongkan ke dalam “pengetahuan yang tak terungkapkan”. Pengetahuan tak terungkapkan merupakan integrasi antara kegiatan intelektual dengan unsur-unsur pengalaman personal ke dalam satu pemahaman. Pemahaman menyeluruh tentang sesuatu terdiri atas fakta-fakta partikular yang dicermati oleh kelompok positivisme dan pengetahuan tentang keseluruhan yang dibangun oleh banyak kelompok lain. Pengetahuan kita yang menyeluruh tentang Merapi adalah gabungan antara pengetahuan yang dibangun oleh kelompok positivisme (ahli gunung berapi) ditambah dengan pengetahuan yang tak terungkapkan yang dikonstruksi oleh anggota komunitas Gunung Merapi yang lain. “Masing-masing mempunyai aktivitas, prosedur dan temuan yang khas”.

Pembelajaran dalam konteks pencerdasan bangsa. KENAPA pada akhirnya Mbah Maridjan menjadi korban atau ‘tumbal’ Gunung Merapi? Hingga saat-saat terakhir pertemuannya dengan beberapa saksi hidup, Mbah Maridjan tetap mengatakan belum akan ‘turun’ meninggalkan Merapi. Bersama dengan dirinya, sejumlah anggota masyarakat yang penuh kepercayaan, ikut menjadi korban letusan Merapi. Agaknya hingga detik-detik terakhir Mbah Maridjan –sebagai pemegang setitik peran kecil dalam paham kesemestaan Jawa– belum juga mendapat isyarat dari ‘penguasa’ Utara yang bertahta di Gunung Merapi. Atau, bila kita mencoba meminjam cara berpikir di luar alam positivisme, mungkinkah kepekaan Mbah Maridjan telah menumpul karena keterlibatannya dengan berbagai kegiatan duniawi yang sangat komersial empat tahun terakhir? Kembali berpikir dalam jalur positivisme secara rasional, tewasnya Mbah Maridjan di Gunung Merapi yang telah dijaganya dalam separuh hidupnya, bisa menjadi pembelajaran bersama bagi banyak pihak, termasuk mengenai kegagalan sosiologis kita dalam pencerdasan bangsa.

PELATIHAN KARAKTER BANGSA

MENUJU SISWA SUPER
DINAS PENDIDIKAN PROVINSI LAMPUNG, 2009
Atas kerjasma dengan Bimbingan Belajar al-Qolam dan Trusco











Sabtu, 30 Oktober 2010

Dra. HJ. SUKIJAH RATU ZULKARDINAL. Ketiban Rejeki karena sertivikasi guru.

Lantaran ada persyaran jumlah jam bagi guru guru yang telah bersertifikat, Dra. Hj. Sukijah Ratu Dzulkardinal mengisahkan bahasa ia kecipratan rejeki. Kalau dahulu ia merayu rayu agar guru yang berperestasi berkenan mengajar disekolah swasta yang dikelolanya, yaitu SMA 17 Pagelaran Pringsewu. sekarang para guru pemegang sertifikatlah yang memohon mohon untuk diterima sebagai guru di sekolahnya.



Kalau rejeki itu gak kemana kata wanita paruh baya yang dilahirkan di keluarga Jawa tetapi mahir berbahasa Komering ini.



Serasa ketiban duren katanya saya didatangi guru guru bersertifikasi, mereka memohon untuk diberikan jam mengajar dan tidak menuntut honorarium yang tinggi. Karena mereka kekuirangan jam di sekolah tempat mereka mengajar, di sekolah negeri. Manakala jumlah jam itu tidak mencukupi, mereka akan terancam dievaluasi kembali akan haknya menerima tunjangan profesi.

Mereka itu terdiri dari guru baik baik dan bekerja sangat profesional, demikian kata wanita superaktif ini memuji guru gurunya. Walaupun ia mengatakan : maaf saya bukan memuji katanya berulang ulang, demikian tutur wanita yang mahir berbahasa Inggris tetapi belum pernah keluar negeri ini. (Fach)

Jumat, 29 Oktober 2010

IBU TUTI DAN IBU ERLIN MENGHANTAR SMAN 1 METRO LAMPUNG BERJAYA DI GEDUNG MPR






Siswa SMAN 1 Metro lampung berjaya memenangkan Lomba UUD 1945 tahun 20909 di bawah Kepemimpinan Bapak Suwahab selaku Kepala Sekolah.

Selasa, 26 Oktober 2010

MEMBANGUN WATAK BANGSA

Opini Lampost, Selasa, 26 Oktober 2010

HARDI HAMZAH
Staf Ahli Mahar Foundation

Delapan puluh dua tahun lampau, putra-putri terbaik bangsa telah menorehkan tinta emas dalam sejarah republik ini.

Peristiwa yang dikenal dengan nama Sumpah Pemuda itu mengindikasikan integritas para anak-anak republik dibawa Hindia Belanda, pun mampu mengkristal untuk suatu janin kemerdekaan dan persatuan. Cetusan yang atas nama bangsa, bahasa, dan bertanah air tersebut, lebih jauh lagi dapat dilihat sebagai “perlawanan” diplomatis percampuran antara priyayi Jawa dan para religiusitas komunal, dapat pula diterjemahkan sebagai kebangkitan pemuda secara lebih riil.

Bila kita sepakat dengan asumsi di atas, berarti di tengah kesulitan, apa pun bentuknya, dus bangsa ini, rakyat Indonesia dan atau anak-anak republik melawan, memberontak serta memotivasi diri untuk tidak diam. Peran pemuda kemudian menjadi pertaruhan bagi nasib bangsa kita.

Panggung sejarah modern Indonesia mencatat kristalisasi integritas pemuda di era ‘45, ‘66, dan ‘98. Kebangkitan pemuda pada ‘28, memang berbeda pada saat ‘98. Kristalisasi pemuda 1928, lebih menjelaskan kepada kita bahwa pilar nasionalisme telah diletakkan atas landasan yang lebih kokoh. Watak bangsa mulai terlihat pada saat itu. Menguatnya nasionalisme itulah yang menjadi komponen dasar berinteraksinya kaum pergerakan di seluruh lini.

Para sastrawan, antara lain dikomandoi St. Takdir Alisyahbana, Syahrir lewat polemik kebudayaan 1930 an. Sementara mulai bermunculan partai partai, seperti PNI, PKI, dan beberapa partai yang mengatas namakan agama, di mana bersamaan dengan itu muncul syarikat syarikat dagang, dll. yang menjadi koorporasi bersama kaum pergerakan, menguatkan syarikat-syarikat dagang yang lahir awal abad 20.

Era pasca-Sumpah Pemuda adalah era pencerahan, baik bagi komunitas yang berdiri sebelum Sumpah Pemuda maupun yang telah berdiri setelah Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda telah menjadi motivasi dan menjadi bagian integral bagi anak-anak republlik untuk mempertaruhkan diri.

Dari kesamaan orientasi dan motivasi inilah, yang pada gilirannya menjadi pemicu anak-anak republik untuk lebih maju ke muka. Pemuda Soekarno melalui Indonesia Menggugat (1930) mulai meneriakkan imperialisme kolonialisme yang harus segera dienyahkan, kaum pergerakan perempuan melakukan penggalangan di Semarang membentuk Perepoean Indonesia. Formula persatuan dan kesatuan menjadi pilihan paling mutlak ketika itu.

Lalu, jika kita bandingkan kekuatan kesatuan saat itu dengan era pascareformasi, era mana juga memberikan kekuatan integritas kemerdekaan, kenyataannya ada yang hilang, integritas kesatuan kita banyak terpelanting didamaikan oleh keadaan. Kalau menggunakan istilah Zainal Abidin Domba kita dituntut untuk berdamai dengan keadaan. Apakah perdamaian “dengan keadaan” memaksa kita untuk fragmatis, sporadis, bahkan sadis. Nilai-nilai kesatuan hanya pada kepentingan temporer. Bangsa ini, ternyata setelah 82 tahun Sumpah Pemuda dan 65 tahun merdeka, ternyata kehilangan wataknya, dus kita berada pada wilayah abu-abu.

Sebagai bangsa, kita bagian dari person-person yang tidak produktif, para elite politik dan pelaku bisnis semua hanya berstandar pada instant culture, suatu budaya “cepat saji” tanpa reserve. Sementara kita sedang menghadapi MDGs (Millenium Development Goals), di mana Indonesia masuk ke dalam skematisasi itu pada 2525. Dan, kita belum berbuat apa-apa dari aspek manufaktur. Kita, bahkan bersibuk diri dengan sporadisme politik, paranoid, dan ancaman disintegrasi, ironi.

Pembangunan watak bangsa adalah pilihan yang tidak dapat ditolak-tolak lagi. Pilihan ini memang sulit, tetapi bukan pula tidak bisa, meski kita bangsa yang nyaris celaka bila bicara watak bangsa. Justru karena itu kita sebagai bangsa yang sedemikian merdeka, bahkan melebihi Amerika dari aspek demokrasi, di mana demokrasi kita nyaris demokrasi kriminal.

Maka, pembangunan watak bangsa yang hilang mutlak menemukan ritmenya kembali dengan berbagai cara, yakni, (1) menyadari sepenuhnya tentang aspek negatif dunia komunikasi dengan berbagai bentuknya, (2) membangun kembali komunitas kesatuan pemuda minus partai, (3) OKP diberi makanan dan peran konkret alias lapangan kerja, (4) kita kembali mempertanyakan diri untuk apa, dan mau dibawa ke mana negeri ini pascareformasi. n

buku : BELAJAR KEBUDAYAAN DAERAH

Bintang Pelajar lampost, Selasa 26 Oktober 2010


Judul : Mak Dawah Mak Dibingi

50 Sajak Bahasa Lampung

Penulis : Udo Z. Karzi

Cetakan: Pertama, Desember 2007

Penerbit : BE Press Anggota Ikapi

XII+72 hlm : 14x21 cm

Kebudayaan nasional berakar dari kebudayaan daerah. Mengangkat bahasa menunjukkan bangsa, Indonesia terhampar dari Sabang sampai Merauke memiliki ribuan suku dengan bahasa dan kebudayaan dalam pelukan Bhinneka Tunggal Ika menjadikan daya tarik tersendiri. Provinsi Lampung yang memiliki keragaman seni dan budaya baik lisan maupun tulisan turut memerkaya kebudayaan nasional Indonesia.

Menarik untuk dibaca setiap pemerhati seni khususnya puisi. Menjadi istimewa dan membuat penasaran pembacanya terutama penggunaan bahasa Lampung untuk 50 judul puisi yang termuat. Terutama di kalangan pelajar SMA/SMK dapat dijadikan salah satu alat untuk menguji dan mengingat kembali sampai sejauh mana materi Muatan Lokal Bahasa Lampung yang pernah dipelajari ketika masih duduk di bangku SD dan SMP/MTS.

Kecintaan seorang Udo terhadap Tanah Air pada umumnya dan tanah kelahirannnya, Lampung, tampak jelas tergambar secara lengkap. Ia menggunakan judul-judul menarik, seperti Kehaga 1–2 (Kekasih 1–2), Jama Ina (Bersama Ibu), Di Mesigit (Di Masjid ), Mak Dawah Mak Dibingi (Tidak Siang Tidak Malam). Ragam tema yang diangkat terasa lengkap dan menyentuh. Tabik!

OLIMPIADE PENELITIAN REMAJA GAIRAHKAN BUDAYA PENELITI


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Sebanyak 95 siswa SMP/MTs dan SMA/MA mengikuti Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia Kedua (OPSI) 2010. Kegiatan olimpiade itu dimaksudkan untuk menggairahkan budaya meneliti di kalangan pelajar.

''Olimpiade ini untuk membangun budaya penasaran intelektual, belum masuk pada sasaran profit (keuntungan),'' ujar Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Mohammad Nuh, usai membuka OPSI 2010 di Gedung Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Rabu (6/10).

Melalui kegiatan OPSI itu, kata Mendiknas, para siswa akan dilatih membuat proposal penelitian yang baik dan benar sejak di bangku sekolah. Nantinya budaya kebiasaan meneliti itu diharapkan dapat terus berkembang ketika mereka ke perguruan tinggi. ''Dengan meneliti, membantu pelajar berfikir secara kritis untuk memecahkan suatu permasalahan,'' jelasnya.

Pasalnya, imbuh Mendiknas, di Indonesia banyak pelajar yang pintar namun belum mampu pada tataran kritis pada suatu permasalahan. Baik itu menyangkut sosial maupun sains. Karena, pelajar yang kritis akan mencari tahu solusi dari permasalahan yang ada dan berfikir kreatif sesuai bidang pendidikannya.

Pada penyelenggaraan OPSI tahun ini, hasil penelitian yang dibuat pelajar SMP dan SMA meliputi tiga bidang, yakni ilmu sains dasar, sains terapan, ilmu pengetahuan sosial, dan humaniora. Bidang sains dasar meliputi matematika, fisika, kimia, dan biologi. Bidang sains terapan meliputi ekologi, mesin dan elektronika, informatika, kesehatan, dan pertanian.

Bdang ilmu sosial meliputi sosioliogi, antropologi, psikologi, ekonomi, dan manajemen. Sementara bidang humaniora meliputi sejarah, bahasa dan kesusastraan, pendidikan, dan budaya.
''Lima belas tahun lagi kami harapkan para pelajar ini dapat menjadi peneliti profesional,'' kata Mendiknas.

Kepala Sub Direktorat Kesiswaan Kemdiknas, Mukhlis Catio mengatakan, kegiatan OPSI adalah kegiatan berskala nasional yang penting. Karena, orientasi OPSI ke depan adalah untuk olimpiade penelitian tingkat internasional.

Senin, 25 Oktober 2010

desain ulang sistem pendidikan

Jakarta, Kompas - Sistem pendidikan nasional harus didesain ulang karena kenyataannya telah melahirkan kesenjangan akses pendidikan yang semakin lebar serta meninggalkan karakter bangsa. Padahal, tujuan pendidikan nasional yang dicita-citakan para pendiri bangsa adalah masyarakat yang cerdas, berkeadilan, serta berkarakter keindonesiaan.

Murid-murid kelas IV SDN Wajak 1, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Jawa Timur, terpaksa belajar secara lesehan di emperan sekolah, Selasa (19/10). Sejak delapan bulan lalu, sebagian siswa harus belajar di luar ruang kelas akibat ruang kelas rusak diterjang angin kencang. Hingga kini belum ada perhatian dari pemerintah setempat untuk merenovasi sekolah tersebut. (KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN)

Sejumlah praktisi, pengamat, dan sastrawan, Selasa (19/10), menyatakan, setahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, kesenjangan terhadap akses pendidikan belum teratasi. Biaya pendidikan semakin mahal serta pendidikan untuk melahirkan generasi berkualitas secara keilmuan dengan karakter keindonesiaan yang kuat tercerabut dari desain pendidikan nasional.

Pengamat pendidikan, HAR Tilaar, mengatakan, acuan sistem pendidikan nasional yang berkiblat kepada negara-negara maju, terutama yang tergabung dalam Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD), menciptakan kesenjangan akses dan mutu pendidikan yang semakin lebar antara sekolah yang berstandar pelayanan minimal, sekolah standar nasional, dan sekolah bertaraf internasional. ”Padahal, semestinya bangsa ini harus memperjuangkan pemerataan dan keadilan pendidikan terlebih dahulu,” ujarnya.

Pendidikan selama puluhan tahun belum bisa menopang pengentasan kemiskinan. Kenyataannya, hampir 1,7 juta anak usia 6-15 tahun tidak tamat SMP. Padahal, mereka itu seharusnya mendapatkan hak dasar pendidikan sembilan tahun yang menjadi tanggung jawab negara.

Sebanyak 30 persen lulusan SMP tidak bisa melanjut pendidikan. Adapun lulusan SMA yang tak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi hampir 60 persen.

Bagikan beasiswa

Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengatakan, sulitnya siswa miskin menikmati pendidikan tinggi memang menjadi persoalan serius.

”Mata rantai kemiskinan di keluarga harus diputus dengan memberikan akses seluas-luasnya bagi anak miskin untuk sekolah dan kuliah,” kata Mohammad Nuh. Langkah yang ditempuh pemerintah, antara lain, memberikan berbagai beasiswa untuk siswa miskin serta mengalokasikan 20 persen dari kapasitas kursi perguruan tinggi negeri untuk mahasiswa miskin.

Muslimin Nasution, Ketua Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI), mengatakan, arsitektur pendidikan telah salah mendesain pendidikan nasional. ”Pendidikan itu tidak cuma untuk menciptakan anak pandai, tetapi juga harus membentuk warga yang berkarakter,” ujarnya.

Sastrawan Acep Zamzam Noor mengatakan, pendidikan sekarang mengabaikan pembelajaran sastra. Padahal, sastra ikut memengaruhi pembentukan karakter siswa. Pada zaman penjajahan Belanda, setiap siswa harus membaca 25 buku sastra dalam setahun. ”Sekarang, belum tentu siswa membaca satu buku sastra dalam setahun,” ujar Acep dalam Sarasehan Kebahasaan dan Kesastraan Indonesia yang berlangsung di Yogyakarta.

(ELN/IRE)

Sumber: Kompas, Rabu, 20 Oktober 2010

Minggu, 24 Oktober 2010

PENDIDIKAN : SMPN 4 KOTABUMI GAGAL LOLOS RSSN

Ruwa Jurai Pendidikan Lampost, Senin, 25 Oktober 2010


KOTABUMI (Lampost): Sarana dan prasarana pendidikan yang kurang memadai menjadi kendala bagi SMP Negeri 4 Kotabumi untuk lolos verifikasi sebagai rintisan sekolah standar nasional (RSSN). Padahal, sekolah itu telah banyak meraih prestasi di tingkat kabupaten hingga provinsi.

Hal itu dikatakan Kepala SMPN 4 Kotabumi Maryantina, Jumat (22-10). Maryantina mengatakan dua tahun lalu sekolahnya sempat masuk dalam rencana RSSN di Lampura.

Namun, sejak satu tahun lalu tidak lagi diikutsertakan karena tidak lolos verifikasi. Tidak lolosnya SMPN 4 menjadi RSSN disebabkan sarana dan prasarana pendidikan tidak memadai. Selain tidak memiliki laboratorium bahasa, juga terkendala luas sekolah yang hanya 4.695 meter persegi.

Tidak lolos menjadi sekolah RSSN ternyata tidak membuat sekolah patah arang dan menyurutkan langkah dalam peningkatan mutu pendidikan.

Bahkan, hal itu dijadikan cambuk untuk lebih meningkatkan prestasi. "Kami memahami keputusan tersebut dan menjadikan itu sebagai tantangan," kata Maryantina.

Penelusuran Lampung Post, di sekolah yang berdiri sejak 1959 itu, 4 dari 14 kelas kondisinya buruk dan memerlukan perbaikan. Kemudian, satu-satunya laboratorium juga dalam kondisi yang sama. Dua WC siswa juga tidak berfungsi.

Empat ruang belajar itu, kata Maryantina, sudah diajukan pada dinas terkait untuk direhabilitasi. Hingga kini keempat ruang belajar yang rusak tetap dijadikan sarana belajar. Sebab, minimnya ruang kelas yang ada saat ini.

Apalagi, semua siswa masuk di pagi hari. Sebelumnya, SMPN 4 memiliki 18 rombongan belajar yang terbagi dalam dua sif. Ketika aturan baru sekolah dilaksanakan dua tahun lalu, jumlah rombongan belajar berkurang menjadi 14, sesuai dengan jumlah kelas yang ada.

Dalam prakteknya, sekolah terpaksa mengurangi kuota siswa baru dan menjadikan satu kelas diisi 40 siswa. Untuk itu, sekolah berharap bantuan pemerintah daerah melalui dinas terkait segera merehabilitasi sarana prasarana sekolah. (CHA/D-3)

PENDIDIK PROFESIONAL : JAUH PANGGANG DARI API

Pendidikan Lampost, Sabtu, 23 Oktober 2010

BAMBANG SUKMAJI
Guru Madrasah Aliah

HINGGA hari ini (23-10) penulis yang mengajar di sebuah madrasah aliah swasta di sebuah kota kecil di Jawa Tengah masih menunggu turunnya tunjangan profesi tahun 2010 dari Kementerian Agama kabupaten setempat.

Penulis bersama ribuan guru yang lainnya sebenarnya mengharapkan sebelum Idulfitri 1431 H sudah menerima tunjangan tersebut, nasibnya sama dengan ribuan rekan seprofesi yang bernaung di bawah Disdikpora kabupaten yang sama. Karena hal ini hanya merupakan contoh kasus yang menjadi kendala profesionalisasi pendidik. Oleh sebab itu, nama daerah tidak perlu disebutkan di artikel ini.

Tunjangan profesi diberikan secara berkala dua kali satu tahun. Periode pertama guru menerima rapel dari bulan Januari hingga Juni 2010 dan Bulan Juli—Desember 2010 untuk periode II. Tetapi sebuah realita harus kami hadapi lantaran hingga Oktober 2010 ini belum sesen pun penulis terima. Berarti praktis telah 4 bulan lamanya tunjangan tersebut tersangkut entah di mana.

Sebuah kontroversi telah kita jumpai pada kasus di atas, yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Justru otorisasi yang seharusnya berperan sebagai stimulus, fungsi pembinaan dan pengusung keberhasilan sebuah pendidikan dengan profesionalisasi pendidik yang dijadikan roket penggeraknya, malah belum mampu berperan secara profesional.

Dengan keterlambatan hingga 4 bulan lamanya adalah bukti suatu kinerja yang asal-asalan. Semua pihak yang mencermati kasus ini, baik sebagai pendidik, pengamat pendidikan dan masyarakat luas pun tentunya akan mencibir serta berkomentar bagaimana para pendidik kita akan berperan secara profesional. Bila untuk tunjangan kesejahteraannya saja masih menemukan banyak kendala.

Inilah karut-marutnya pendidikan di Indonesia hingga kita pun belum mampu menyimpulkan akar permasalahan sebenarnya yang menjadi penyebab utamanya. Padahal, sistem pendidikan yang dilangsungkan di belahan dunia mana pun adalah how to built the next smart generation. Apabila sematan tersebut telah direalisasi oleh sebuah bangsa, tiba gilirannya bangsa itu merencanakan how to manage segala sesuatu yang memusari peradaban bangsa itu, yang tentu saja menuju kesejahteraan hidup bangsa tersebut.

Kadangkala kita berpikir, mengapa bisa terjadi adanya ayam yang mati di lumbung (gudang) beras. Karena ayam tersebut tidak mampu mengoptimalkan segala kemampuannya, potensi dan semua software yang telah terlengkapkan. Hal ini serupa dengan kita yang hidup di Bumi Katulistiwa, yang kaya sumber alam hayati dan mineral.

Tetapi mengapa kita kalah dengan Jepang, Malaysia, Korea bahkan dengan Singapura yang miskin potensi alamnya. Hal ini disebabkan kita tidak terbiasa dengan mengoptimalkan otak kita sejak dari bangku sekolah. Aspek dari how to analyze telah padam, lantaran pendidik hanya berperan sebagai sumber bahan ajar.

Tentu saja pendidik yang mampu berperan sebagai fasilitator suatu bahan ajar, adalah pendidik yang telah menguasai bahan ajar yag disodorkan pada peserta didik. Peran pendidik yang demikian adalah raihan pendidik profesional. Secara otomatis peran tersebut mampu diraih apabila pendidik memiliki sumber pustaka yang representatif yang tidak mungkin sepenuhnya diakomodasi oleh perpustakaan sekolah sehingga pendidik pun harus membeli sendiri. Oleh karena itu, peran pendidik profesional di Indonesia masih jauh panggang dari api.

Bukankah keberhasilan pendidikan di negara kita sudah semestinya harus menuai keberhasilan bila telah cukup anggaran untuk mewujudkannya, bila tidak mendapat kendala nonteknis yang bersifat internal seperti pada kasus tersebut di atas. Karena anggaran pendidikan merupakan anggaran terbesar yang dialokasikan pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2010.

Anggaran pendidikan memperoleh jatah sebesar Rp200 triliun. Dalam Nota Keuangan dan RAPBN 2010 disebutkan perincian penggunaan anggaran tersebut. Ringkasannya telah disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato kenegaraan di DPR, Jakarta pada Senin, 3 Agustus 2009.

Oleh karena itu tidak ada cara lain dari otorisasi pengusung sistem pendidikan untuk meningkatkan kinerjanya bersama dengan pendidik yang telah memulai langkah profesionalisasi demi kemajuan kita bersama. n

Sabtu, 23 Oktober 2010

KABINET DAN PENDIDIKAN

MUCHTAR BUCHORI
Pengamat Pendidikan.

SETAHUN sudah Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II yang dipimpin SBY-Boediono berjalan. Adakah perubahan yang dicapai bidang pendidikan selama periode ini?

Tentu dibutuhkan catatan panjang untuk mengevaluasi secara menyeluruh. Namun, setidaknya ada tiga hal yang ingin saya bicarakan di sini: perubahan yang menunjukkan kemajuan, perubahan yang menunjukkan kemunduran, dan masalah-masalah dasar yang terdapat dalam sistem pendidikan.

Di antara hal-hal yang menunjukkan kemajuan, saya mencatat antara lain—meski juga banyak dikritik—adalah banyaknya sekolah yang berhasil mendidik murid-muridnya mencapai prestasi internasional. Hal ini terutama ditunjukkan dalam berbagai olimpiade, terutama matematika dan IPA.

Kemajuan lain adalah berdiri atau berkembangnya sekolah-sekolah elite di sejumlah kota besar di Indonesia: Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Malang, Medan, dan kota-kota lainnya. Di antara sekolah-sekolah jenis ini, ada yang dinamakan rintisan sekolah berbasis internasional (RSBI) dan sekolah berbasis internasional (SBI).

Tetapi, apa definisi kata ’’internasional’’ dalam konteks ini? Sejauh ini, tidak begitu jelas. Masyarakat tampaknya mempunyai tafsir yang berbeda-beda. Ada yang melihat penggunaan bahasa Inggris menjadi petunjuk utama ’’keinternasionalan’’. Tapi ada juga yang memandang status tersebut hanya dari sudut simbolis seperti seragam atau kemegahan gedungnya saja. Harapan saya, gagasan mengembangkan sekolah elite perlu diiringi upaya sungguh-sungguh untuk mewujudkan kualitas yang baik seperti namanya.

Kemunduran

Di samping perubahan-perubahan menggembirakan, terlihat juga perubahan yang menunjukkan kemunduran. Paling mendasar dari gejala ini adalah bertambah besarnya jumlah anak-anak miskin yang tidak mampu bersekolah. Persentase penduduk miskin masih sangat tinggi dan karena itu persentase siswa-siswa yang tidak mampu menyelesaikan pendidikan menengah pertamanya—karena kemiskinan—juga sangat tinggi. Jumlah sekolah telantar dan memprihatinkan masih banyak di sejumlah daerah dan tidak ada tanda-tanda pemerintah turun tangan.

Kenyataan ini antara lain memicu munculnya lembaga-lembaga pendidikan nonformal yang kemudian disebut lembaga pendidikan alternatif. Sebagian lembaga pendidikan alternatif hadir sebagai reaksi atas ketidakjelasan beragam kebijakan dalam menghasilkan mutu lulusan berkualitas. Tapi, yang terbanyak, lembaga-lembaga itu digagas untuk mengakomodasi kepentingan belajar warga miskin.

Dalam pada ini kita juga melihat kesenjangan terus meningkat. Secara umum, kesenjangan terkait mutu guru dan ketersediaan fasilitas pembelajaran yang memadai. Memang banyak sekolah dengan fasilitas baik, tapi mutu gurunya jauh dari harapan. Sebaliknya, tak sedikit sekolah yang kurang mendapat perhatian pemerintah, guru-gurunya berhasil menunjukkan inovasi atau terobosan positif.

Harapannya tentu, sekolah-sekolah mendapatkan fasilitas pembelajaran memadai dan kualitas guru-gurunya terus ditingkatkan. Jika tidak, keadaannya akan seperti saat ini: kesenjangan antara sekolah-sekolah elite dan sekolah-sekolah telantar makin lama kian besar. Tidak terlihat pula usaha-usaha yang cukup nyata dan meyakinkan dari pemerintah untuk memperkecil kesenjangan ini.

Lalu apa yang akan terjadi sepuluh tahun akan datang kalau kesenjangan dua jenis sekolah ini tidak juga berkurang?

Masalah-masalah dasar

Salah satu masalah dasar dalam pendidikan Indonesia ialah tidak adanya hubungan yang erat antara birokrasi pendidikan dan masyarakat pendidikan di luar birokrasi. Keputusan-keputusan penting dalam pendidikan sampai sekarang lebih banyak dilakukan birokrasi, sementara masyarakat pendidikan tidak cukup memahami maksud kebijakan-kebijakan baru dalam pendidikan.

Salah satu contoh yang sangat klise adalah ujian nasional. Meski banyak dipersoalkan, birokrasi memutuskan tetap meneruskan kebijakan ujian nasional. Masyarakat pendidikan pada umumnya mengeluhkan keputusan pemerintah. Saya sendiri secara pribadi sejak tahun 1970 menentang model ujian nasional. Prinsip saya: yang mampu mengevaluasi kemajuan murid adalah guru-guru yang mengajar mereka sehari-hari. Bukan orang dari luar.

Masalah dasar lainnya ialah kurikulum sekolah yang kelihatan sukar sekali berubah. Dalam hal ini sekolah kita dan pendidikan Indonesia berwatak konservatif. Konservatisme memang perlu untuk mengimbangi progresivisme yang tanpa arah. Akan tetapi, kalau kita terlampau konservatif, kita akan menjadi kaku, murid-murid kita akan menjadi manusia Indonesia yang kaku dalam belajar.

Dalam hubungan ini perlu disebutkan agaknya bahwa kelebihan sekolah-sekolah Indonesia dahulu ialah sifat konservatif yang sehat. Anak-anak lulusan sekolah menengah Indonesia, ketika belajar di luar negeri, pada umumnya mampu meraih hasil yang cukup baik. Banyak misalnya lulusan IAIN—sekarang UIN—yang berlatar sekolah agama/pesantren berhasil dalam studinya di luar negeri hampir di berbagai bidang. Tahun 1950-an banyak yang memandang rendah IAIN. Tapi ketika ada lulusannya mendapat PhD jurusan biologi di IPB, misalnya, orang kemudian sadar bahwa ada konservatisme yang sehat. Ini dapat kita jadikan contoh untuk mencari sikap yang lebih sehat bagi pendidikan Indonesia masa datang.

Masalah mendasar lainnya, pendidikan Indonesia masih saja sangat menekankan pendidikan pengetahuan (transfer of knowledge) dan tidak cukup memberi perhatian kepada pemupukan keterampilan (formation of skills) dan pembinaan watak (character building).

Memang kata pembinaan watak atau character building selalu digunakan, tapi tidak diterjemahkan menjadi tindakan pendidikan yang cukup nyata. Pendidikan watak lebih banyak diberikan dalam bentuk khotbah-khotbah tentang manusia yang mulia, manusia beriman dan bertakwa, dan betapa mengerikannya nasib manusia-manusia tersesat.

Catatan akhir

Perlu kita sadari bahwa kemajuan, kemunduran, dan banyaknya masalah mendasar pendidikan tidak dapat dipandang sebagai hasil kerja KIB Jilid II semata. Kita semua bertanggung jawab. Dinamika dalam pendidikan selalu terjadi setelah terkumpulnya tenaga-tenaga peremajaan (rejuvenation of power) dalam waktu lama. Karena saya percaya, there’s no instant progress in education.

Sekarang, terserah kepada kita, kepada birokrasi pendidikan dan masyarakat pendidikan seluruhnya: apa yang diinginkan untuk Indonesia di masa depan? Tetap menjadi bangsa yang konservatif, menjadi bangsa dinamis tetapi tanpa arah, atau menjadi bangsa yang terus-menerus atau secara konsisten menuju kemajuan dan perbaikan. Jawabnya ada di tangan kita.

Sumber: Kompas, Rabu, 20 Oktober 2010

Jumat, 22 Oktober 2010

PENDIDIKAN KARAKTER BAGI PAUD/ TK

Pertamina Bekali Guru-guru PAUD
14 Jun 2010
Bangun Karakter Masa Depan Bangsa


11 aya bersyukur memperoleh bekal pelatihan pendidikan berbasis J karakter di sini. Model pelatihan di sini diproyeksikan sebagai semai benih bangsa pembangunan karakter. Belum pernah saya dapatkan di tempat lain," tutur Kepala Sekolah TK Gemilang, Kelurahan Tanjungpalas, Dumai Timur, Riau, Hj Nur Leli (58).

Nur adalah salah satu dari 40 guru TK dari berbagai daerah di Indonesia yang mengikuti Pelatihan Guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang diselenggarakan oleh PT Pertamina (Persero) sebagai bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) di bidang pendidikan. Pelatihan ini diadakan bekerja sama dengan Indonesia Heritage Foundation (IHF), di Cimanggis, Depok, Jawa Barat, 27 Mei-10 Juni 2010.

Dia merasa manfaat pelatihan guru PAUD begitu besar sampai tak bisa mengukurnya dengan materi. Sebagai bentuk rasa syukur ia berencana mengembangkan bekal model pembelajaran tersebut di sekolahnya sepulang mengikuti perlatihan. Setelah itu dia akan menularkan ke sekolah PAUD yang ada di sekitarnya.

Pelatihan guru PAUD tersebut untuk memberi bekal cara mengajar yang baik, menyenangkan, dan tidak menakutkan. Sehingga, guru PAUD datang ke sekolah tidak asal mengajar tapi mampu mengajar sesuai perkembangan jiwa anak. Terutama dalam mengajarkan penanaman pendidikan karakter pada anak yang tengah memasuki usia emas [golden age)." kata mentor pelatihan guru PAUD dari IHF, Rahma Dona.

Educational Officer CSR PT Pertamina (Persero), Susilawati, mengungkapkan,guru-guru PAUD yang menjadi peserta pelatihan ini merupakan utusan dari unit-unit bisnis Pertamina yang tersebar seluruh Indonesia.

Dia optimistis, dalam waktu tidak lama penyebaran model pendidikan karakter ini akan berlangsung pesat. "Bapak ibu sebagai ujung tombaknya. Tak hanya menerapkan model pengajaran di sekolah sendiri, tapi juga sekolah PAUD yang ada di lingkungan sekitar," tutur Susilawati.

Pertamina, lanjutnya, berharap peserta pelatihan akan mengalami perubahan mulai dari diri sendiri, lalu lingkungan keluarga, hingga sosial. Mereka juga diharapkan untuk segera membangun komunitas sekolah PAUD di daerah masing-masing.

Imam Santosa (47) guru yang juga pengelola PAUD TK Titah Bunda, Bandar Lampung, bertekad akan mengembangkan dan menerapkan model pendidikan holistik berbasis karakter ini di sekolahnya. "Ini amanah, harus ditularkan ke sekolah PAUD sekitar saya sana nanti," kata dia bersemangat

Pria berpostur jangkung itu yakin, dalam tempo 10-20 tahun mendatang, anak PAUD yang dibekali pendidikan model ini akan menjadi generasi yangberkarakter.

Susilawati mengibaratkan peserta pelatihan sebagai pohon. Sepulang pelatihan pohon-pohon itu akan menumbuhkan banyak ranting. Ia yakin, kalau mereka serius melakukan pengembangan model pengajaran berbasis karakter maka akan segera menyebar seluruh Indonesia.

Peserta pelatihan optimistis sanggup menerapkan model pendidikan ini. Selama 15 hari mengikuti pelatihan mereka magang di sekolah-sekolah TK di sekitar Jakarta selama tiga hari. Mereka mempraktikan langsung materi yang diperoleh dan mengevaluasinya secara bersama.

Pelatihan guru PAUD ini baru pertama kali diadakan. Pertamina berniat untuk terus mengadakan pelatihan berbasis karakter seperti ini di waktu-waktu mendatang. Tak hanya melibatkan guru PAUD, tapi juga guru SD, SMP, SMK dan SMA,

Pada 21-22 Juni nanti sekitar 100 guru - SD. SMP, SMA, dan SMK - asal Lampung akan menjadi peserta pendidikan motivasi dan karakter di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Kegiatan ini juga bagian dari kepedulian Pertamina pada masyarakat lewat CSR. adv

GURU PRA-SEKOLAH HARUS WASPADA

Malang Post, Minggu, 09 Mei 2010
MALANG - Pepatah Jawa mengatakan guru itu digugu lan ditiru. Artinya, perilaku guru dijadikan contoh para muridnya. Maka menjadi guru harus ekstra waspada. Tidak hanya menularkan ilmunya, tapi juga harus menjaga perilakunya, khususnya guru TK, PAUD dan TPQ.
Menurut pakar pendidikan asal Universitas Negeri Malang (UM) Umi Dayati, M.Pd, mengajar anak TK, TPQ dan PAUD itu sangat berbahaya. Karena apa yang diajarkan dan disampaikan kepada anak akan terpatri selamanya pada diri siswa selamanya.
“Karena itu harus berhati-hati. Penampilan para guru dan ustad harus diperhatikan. Saat menyampaikan cerita atau pembelajaran harus dengan wajah penuh ekspresi. Biasanya, anak di bawah tujuh tahun itu lebih percaya kepada guru daripada orang tuanya,” kata Umi Dayati di hadapan ratusan guru TK dan PAUD serta ustad TPQ se Kota Malang dalam seminar yang digelar IMM Korkom UM, di aula PDM Kota Malang, kemarin.
Tidak hanya penampilan dan ekspresi wajah yang ditekankan Umi kepada para guru anak-anak pra sekolah itu, keikhlasan dan hati yang bersih juga harus dimiliki para guru untuk mendidik anak-anak. Dosen UM itu mengibaratkan hati para guru yang bersinar itu seperti lampu. Saat lampu itu hidup akan menjadi penerang dan menjadi kumpulan laron-laron. Tapi saat lampu itu mati, laron pun akan menjauh dan tidak ada sinar di dalamnya.
“Meskipun banyak masalah, tapi kalau sudah waktunya mengajar dan mendidik anak-anak harus kembali cling hatinya. Pendidikan yang diajarkan di TK, PAUD dan TPQ adalah pendidikan karakter yang akan membentuk kepribadian nantinya,” ungkapnya.
Agar hati tetap ceria dan pembelajaran jadi menyenangkan, bernyanyi menjadi salah satu caranya. Dunia anak saat berada di bangku TK, PAUD dan juga TPQ adalah dunia bernyanyi dan bermain. Bahkan, kepala pusat penelitian pendidikan UM, juga mengajak para peserta seminar untuk ikut bernyanyi bersama-sama dengan lagu-lagu yang sedang hits saat ini, seperti lagu milik D’Masih yang berjudul cinta ini membunuhku sambil menggerakan tangan yang menyenangkan.
“Banyak lagu yang dapat digunakan untuk dapat membuat proses pembelajaran menyenangkan. Dunia anak adalah dunia bernyanyi dan bermain,” terangnya.
Meski beban yang dipikul begitu berat, kesejahteraan yang diterima para guru TK, PAUD dan TPQ tidak sebanding dengan apa yang dilakukannya. Tapi para guru tetap memiliki keikhlasan yang cukup tinggi untuk tetap mengajar dan mendidik anak dengan pendidikan yang berkarakter. “Saya tetap bangga masih ada para guru TK, PAUD dan TPQ yang tetap ikhlas untuk mendidik anak-anak generasi bangsa,” tandasnya.(aim/eno)

MENDIKNAS : PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA MENDESAK DITERAPKAN

Kamis 01 Juli 2010


Jakarta, Minggu (2 Mei 2010)–Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh menekankan pentingnya pendidikan karakter. Sebagai bagian dari upaya membangun karakter bangsa maka pendidikan karakter mendesak untuk diterapkan.Hal tersebut disampaikan Mendiknas pada Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Jakarta, Minggu (2/5/2010).
“Diantara karakter yang ingin kita bangun adalah karakter yang berkemampuan dan berkebiasaan memberikan yang terbaik, giving the best, sebagai prestasi yang dijiwai oleh nilai-nilai kejujuran,” kata Mendiknas saat memberikan sambutan acara. Adapun tema peringatan Hardiknas adalah Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa.
Mendiknas mencermati fenomena sirkus, yaitu tercerabutnya karakter asli dari masyarakat. Fenomena anomali yang sifatnya ironis paradoksal menjadi fenomena keseharian, yang dikhawatirkan pada akhirnya dapat mengalami metamorfose karakter.
“Memang kadang-kadang menjadi lucu dan mengherankan, betapa tidak mengherankan, penegak hukum yang mestinya harus menegakkan hukum ternyata harus dihukum. Para pendidik yang mestinya mendidik malah harus dididik. Para pejabat yang mestinya melayani masyarakat malah minta dilayani dan itu adalah sebagian dari fenomena sirkus tadi itu. Itu semua bersumber pada karakter,” kata Mendiknas.
Sementara itu, terkait pelaksanaan Ujian Nasional yang baru saja dilaksanakan, Mendiknas mengatakan, UN diantaranya dimaksudkan untuk melatih ketangguhan dan meningkatkan kemampuan dengan mengeksplorasi potensi dan sumber daya pendidikan. Hal ini, kata Mendiknas, dimaksudkan agar dunia pendidikan mampu memberikan yang terbaik bagi bangsa. “Dengan melatih ketangguhan dan kemampuan, generasi yang dilahirkan dunia pendidikan Insya Allah akan menjadi generasi yang sanggup dan siap menghadapi realitas kehidupan termasuk menghadapi implikasi dari globalisasi, ” ujarnya.
Mendiknas memberikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh penyelenggara UN, para murid , para guru, dan orang tua, serta meminta untuk menerima hasilnya dengan obyektif dan jujur. “Kita terima apa adanya. Memang betul jumlah kelulusan menurun meskipun masih ada ujian ulang, memang betul ada yang harus mengulang, memang betul ada sekolah yang harus mengulang seluruhnya, tetapi yang penting intervensi kebijakan apa yang harus kita siapkan untuk memperbaikinya,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Mendiknas menyematkan Satya Lencana Karya Satya kepada 111 pegawai di lingkungan Kemdiknas. Penghargaan ini diberikan kepada pegawai yang mempunyai dedikasi dan loyalitas tinggi dengan masa kerja 10 tahun hingga 30 tahun. Penghargaan diserahkan masing-masing kepada 37 pegawai dengan masa bakti 30 tahun, 56 pegawai masa bakti 20 tahun, dan 18 pegawai masa bakti 10 tahun.
Upacara dirangkai dengan penyerahan arsip statis Kemdiknas kepada Arsip Nasional Republik Indonesia sebanyak 403 berkas, penandatanganan nota kesepahaman bersama (MoU) antara Kemdiknas dengan PT Global Mediacom tentang penyelenggaraan siaran televisi untuk pendidikan keterampilan bernama TV Citra Indonesia Terampil, penandatanganan prasasti peresmian Taman Bacaan Masyarakat di Pusat Perbelanjaan atau disebut TBM@Mall, dan peluncuran laman kemdiknas.go. id yaitu portal baru Kemdiknas yang berbasis kepada layanan publik.
Sumber: MediaCenterDiknas

Kamis, 21 Oktober 2010

PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA DALAM MENUMBUHKAN INDUSTRI KREATIF

Oleh:
TJOKORDA UDIANA NINDHIA PEMAYUN
Tjokorda Udiana Nindhia Pemayun adalah dosen tetap pada Fakultas Seni Rupa dan Disain, Jurusan Seni Rupa Murni,


Program Studi Seni Patung di Institut Seni Indonesia ISI Denpasar. Naskah ini dibacakan hari Kamis tanggal 22 Juli 2010
pada forum seminar akademik dalam rangka Diesnatalis VII ISI Denpasar, bertema “Meningkatkan mutu pendidikan seni melalui
industry kreatif kita membangun karakter bangsa”.

A PENDAHULUAN
Awal pembicaraan naskah ini, izinkan penulis mengawali dengan ucapan terimakasih kepada lembaga ISI Denpasar yang telah memberikan kesempatan sebagai pembicara pada seminar dalam rangka diesnatalis VII. Selanjutnya, awal pembicaraan mengenai tema tentang “Meningkatkan mutu pendidikan seni melalui industry kreatif kita membangun karakter bangsa”. Pada zaman gelobal dengan media komunikasi yang serba canggih membongkar pikiran setiap manusia, gaya hidup, dan perilaku masyarakat. Orang begitu cepat terpengaruh media komunikasi dunia maya menyebabkan prilaku dan pola pemikiran masyarakat menjadiberubah. Hal inilah yang secara nyata terjadi di kehidupan sosial masyarakat saat ini.

Pendidikan karakter bangsa sudah waktunya dianalisa kembali agar selaras denganper kembangan dunia global sehingga mampu menumbuhkan industri kreatif yang dapat menghantar semua insan di dunia untuk hidup yang lebih baik dan bermartabat.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kreatif .Kreatif dalam pengertian selalu ingin mencoba dan berbuat yang baru dalam semangat modivikasi sesuatu yang berguna. Industri kreatif salah satu aktivitas yang kaya akan kemunculan ide-ide dan inovasi baru dalam berbagai bidang. Topik ini dikemukakan untuk mengetahui nilai-nilai budaya lokal yang berkembang menjadi produk-produk industri kreatif di Bali serta proses transformasi yang mengiringnya. Masyarakat Bali dalam kenyataannya berbasis nilai budaya adiluhung, yang mewujud dalam berbagai komponen dalam sektor industri kreatif. Untuk konteks Bali, keberadaan modal budaya ini didukung oleh keberhasilan industrialisasi pariwisata dalam beberapa dasawarsa terakhir yang menjadi tata perekonomian baru masyarakatnya. Hubungan antara nilai budaya lokal dan industri kreatif di Bali mendapat tempat dan momentupnya dengan dicanangkannya Tahun Indonesia kreatif 2009

Kini muncul fenomena ekonomi baru “gelombang keempat” dalam peradaban manusia yang ditandai oleh keberadaan kebudayaan sebagai modal yang harus dikelola, diciptakan dan menjadikannya sumber kesejahteraan baru bagi manusia. Dalam Draft Pokok-pokok Kongres Kebudayaan Indonesia 2008 disebutkan, dalam upaya menanggapi arus deras gelombang ekonomi keempat ini, Pemerintah RI telah meluncurkan cetak biru Ekonomi Kreatif Indonesia, yakni konsep ekonomi baru berorientasi pada kreativitas budaya serta warisan budaya dan lingkungan. Cetak biru tersebut akan memberi acuan bagi tercapainya visi dan misi industri kreatif Indonesia sampai tahun 2030. Landasan utama industri kreatif adalah sumber daya manusia Indonesia yang akan dikembangkan sehingga mempunyai peran sentral dibanding faktor-faktor produksi lainnya. Penggerak industri kreatif adalah dikenal sebagai sistem tripel helix, yakni cendekiawan (intellectual), dunia usaha (business), dan pemerintah (government).

Dalam cetak biru Ekonomi Kreatif Indonesia tersebut dicatat 14 cakupan bidang ekonomi kreatif, yakni (1) jasa periklanan, (2) arsitektur, (3) seni rupa, (4) kerajinan, (5) desain, (6) mode, (7) film, (8) musik, (9) seni pertunjukan, (10) penerbitan, (12) software, (13) TV dan radio, dan (14) video game. Tentu saja cakupan penelitian ini terkait denganbeberapa bidang ekonomi kreatif tersebut.

Mengacu pada fenomena di atas, maka Masalah yang mesti didiskusikan yakni Bagaimana menyikapi pendidikan karakter bangsa dalam menumbuhkan industri kreatif ? Bagaimana menumbuhkan industri kreatif tersebut? Apa langkah yang tepat sebagai insan bangsa yang beretika dan bermartabat? Apa peran sebagai insan seni dalam menumbuhkan industri kreatif? Upaya-upaya pengembangan industri kreatif ? Bagaimana peran lembaga ISI Denpasar dalam menumbuhkan industtri kreatif. Begitu banyak masalah yang teridentivikasi, dalam kesempatan ini hanya beberapa yang dapat disampaikan dan selebihnya tentu menurut penulis memerlukan suatu pengkajian lebih mengkhusus agar terkait dengan tema seminar ini, yang dapat nantinya terealisasikan dan
memberikan sumbangan kepada bangsa, agar dapat memberikan daya kehidupan yang lebih baik melalui pendidikan karakter bangsa dan terciptanya industri kreatif. Terkait dengan hal tesebut lebih mengkhusus akan dibahas sebagai berikut dalam naskah ini.

B PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA
DALAM MENUMBUHKAN INDUSTRI KREATIF

Menganalisis kembali pentingnya pendidikan karakter.
Untuk dapat menumbuhkan industri kreatif, paling awal yang perlu diperhatikan yakni karakter bangsa yang dulu sangat jaya dan dikagumi berbagai negara dan bangsa. Keberadaan di zaman sekarang karakter bangsa mengalami permasalahan yang serius. Lemahnya pendidikan karakter yang dipengaruhi oleh kemajuan media teknologi informasi menjadi pendorong terjadinya prilaku-prilaku seperti kekerasan, hujatan, pengerusakan fasilitas umum. Maka itu pendidikan karakter yang baik dan berbudaya sudah waktunya untuk diformat kembali. Salah satu materi yang mempunyai potensi untuk mewujudkan pendidikan karakter adalah menumbuhkan daya kreatif dan daya inovasi agar terwujud industr kreatif.


Nilai dalam seni membangun identitas bangsa.
Nilai-nilai dalam budaya lokal mesti digali kembali, dikembangkan, ditelusuri, dan dianalisis dalam berbagai aspek untuk dapat diangkat dan diinovasi sebagai bentuk-bentuk karya seni yang tumbuh berdasarkan daya kreatif yang tinggi dan inovasi baru untuk bisa membangun identitas bangsa yang dapat bersaing di dunia global. Seni dalam berbagai jenis dan sifatnya dalam konteks budaya tidak dapat dipisahkan dari lingkungan sosiologi masyarakat pendukungnnya yang mecirikan suatu identitas kedaerahan yang kaya untuk dieksplorasi untuk menumbuhkan dan mewujudkan industry kreatif.


Ekonomi Kreatif atau Industri kreatif
Ekonomi kreatif – merupakan era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari sumber daya manusianya sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonomi kreatif. Industri kreatif – didefinisikan sebagai industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan, serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan memberdayakan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut (Kementrian perdagangan 2009).


Mengapa mesti industry kreatif ?
Mengenai hai ini, industri kreatif kalau disimak dan disadari secara mendalam dapat memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan untuk kesejahteraan masyarakat. Selain itu, industri kreatif dapat menciptakan iklim bisnis yang positif dalam kontek bagi masyarakat yang ingin merubah dan meningkatkan daya hidup. Selain hal itu, industtri kreatif juga dapat membangun citra dan identitas bangsa berbasis pada sumber daya yang terbarukan. Oleh sebab itu, untuk menciptakan inovasi dan kreativitas yang merupakan keunggullan kompotitif suatu bangsa sepatutnya diawali dengan pendidikan karakter yang baik dan berbudaya tinggi, sehingga dapat memberikan dampak sosial yang positif.

Dampak sosial yang positif.
Memberikan dampak sosial yang positif dalam kontek industri kreatif akan dapat meningkatkan kualitas hidup. Dengan meningkatnya dan membaiknya kualitas hidup tentu dapat membagun karakter bangsa bermodalkan kreativitas budaya untuk meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik. Untuk itu peningkatan toleransi sosial antara insan anak bangsa beragam suku di Indonesia, yang terkonsentrasikan terhadap insan-insan kreatif anak bangsa yang dihasilkan lembaga ISI Denpasar menandakan dinamika dan magnet investasi dan peluang kerja yang lebih baik pada bidang industri kreatif di masa depan.


Karakter, citra, dan identitas menumbuhkan industri kreatif merupakan suatu budaya di masa lalu dan warisan budaya yang dinikmati sekarang adalah suatu contoh nyata leluhur kita kaya akan daya cipta dan daya inovasi. Produk-produk yang diciptakan oleh insane-insan kreatif anak bangsa Indonesia, khususnya di Bali sejatinya kalau dipahami mendalam dapat mengangkat budaya dan kearifan lokal yang dikemas secara apik dalam produk-produk disain ciptaan dan inovasi baru sehingga dapat diterima di pasar internasional dalam beragam kreasi dan inovasi dalam bentuk ciptaan karya seni. Dengan demikian karakter bangsa dan citra suatu bangsa akan tampak dengan jelas dengan identitasnya yang secara otomatis akan terbawa. Citra adalah kesan dan persepsi yang diterima oleh seseorang ketika melihat, mendengar dan merasakan sesuatu tentang Indonesia (Bali). Hal tersebut dapat kita contohkan jika Ekspor hasil industri kreatif- Sebagai Brand Negara – semakin baik eksporproduk industri kreatif Indonesia (Bali), tersebut menandakan kreativitas bangsa Indonesia (masyarakat Bali) semakin diperhitungkan daya cipta dan inovasinya.


Sumber daya terbarukan
Terdapatnya sumber daya terbarukan yang berbasis pengetahuan, kreativitas yang dimiliki masyarakat tentu dapat membawa suatu perubahan yang baik. Bila dilihat senyatanya bahwa industri kreatif berasal dari ide manusianya. Hal tersebut sangat berbeda dengan industri yang bermodalkan bahan baku fisikal, industri kreatif bermodalkan ide-ide kreatif, talenta, dan keterampilan. Selaju dengan hal tersebut, ide-ide adalah sumber daya yang selalu terbarukan yang akan tercipta oleh insane yang kreatif. Selanjutnya, kebudayaan Bali memiliki berbagai nilai budaya yang merupakan modal budaya (cultural capital) yang penting, yang secara nyata dapat ditransformasikan menjadi produk-produk budaya yang bermanfaat secara ekonomi untuk mendukung tumbuhnya industry kreatif. Hal tersebut akan terwujud jika proses transformasi menunjukkan keberhasilan masyarakat Bali sebagai pemilik dan pendukung kebudayaan Bali dalam pengalihan modal budaya menjadi modal ekonomi kreatif. Bali yang sejak lama dikenal sebagai “daerah budaya” baik disadari atau tidak, ternyata sangat mendukung pengembangan industri kreatif tersebut. Produk-produk industri kreatif yang ternyata berkorelasi positif dengan pengembangan budaya tradisional yang secara turun-temurun diwarisi, dilakukan, dan dikembangkan kembali untuk menemukan kebaruan berlandaskan seni masa lalu.

Dalam membahas industri kreatif bidang (dalan naskah ini penulis mengambil contoh seni Mpatung di Bali, sesuai bidang yang penulis pahami) ditinjau dari berbagai aspek nilai, yaitu nilai bentuk, nilai simbolik, dan nilai ekonomi yang merupakan trasformasi nilai-nilai sastra dan budaya lokal di Bali. Industri kreatif telah didefinisikan pada bagian sebelumnya sebagai industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Di era globalisasi dewasa ini, pencerahan melalui komoditas dan komodifikasi seluruh aspek kehidupan (Adorno dan Horkeimer dalam Piliang, 2003: 88). Globalisme yang kemudian melahirkan ideologi pasar secara kasat mata mengalirkan budaya benda dari negara-negara imperialis, agen globalisasi ke negara-negara sedang berkembang (Atmadja, 2005: 52). Sementara budaya benda menurut Piliang (2004) bukanlah sedekah atau bantuan melainkan berfungsi sebagai komoditas. Komodifikasi menurut Piliang (2003: 18) adalah sebuah proses menjadikan sesuatu yang sebelumnya bukan komoditas, kini menjadi komoditas. Komodifikasi menurut Ridwan, dkk., (tt) adalah penyederhanaan; variasi bentuk dan ukuran; pengubahan ke bentuk baru agar lebihsederhana; pengubahan; perubahan bentuk dan ukuran. Komodifikasi seperti yang disebutkan di atas, dalam pengembangan industri kreatif memegang peran penting.


Inovasi dan kreativitas
Dalam kontek inovasi dan kreativitas dalam industri kreatif sangat diperlukan suatu sikap
mental terhadap kemandirian ide dan gagasan yang akan dimunculkan sebagai daya cipta,
inovasi dan kreativitas. Seiring dengan tumbuhnya daya cipta, kreativitas, dan inovasi
tersebut bembawa pola pemikiran yang setidaknya memiliki karakter dan identitas lokal yangterbarukan dengan tidak meninggalkan nilai lokal lama. Saat ini registrasi HAKI asing jauh lebih banyak dibandingkan registrasi HAKI lokal hal tersebut terbukti dari banyaknya motifmotif nusantara dan karya-karya masyarakat lokal diklaim oleh asing. Penciptaan nilai baru yang berdasar pada kreativitas, bisa dengan cara mengkolaborasikan dan memanfaatkan konsep-konsep teknologi yang telah ada, sehingga melahirkan suatu ide yang baru berpotensi HAKI. Dengan ter-registrasinya karya-karya anak bangsa menandakan kesadaran akan pentingnya HAKI di masa mendatang akan terwujud dengan baik, dan dapat menyelamatkan dari aspek hukumnya.

Dalam konteks hukum
Dalam konteks hukum yang berkembang di Indonesia khususnya yang berkaitan dengan HAKI memang dirasakan sebagai petir yang mengelegar di saat terlena akan keindahan masa lampau. Dalam era industri kreatif, karya seni adalah bagian dari HAKI yang timbul akibat adanya tindakan kreatif manusia dalam menghasilkan karya yang inovatif. Kreasi-kreasi yang diciptakan tersebut tentunya adalah karya yang dapat diterapkan dalam kehidupan manusia dan dapat medatangkan nilai ekonomi untuk kesejahteraan penciptanya. Hukum memberikan perlindungan seniman dan karya-karya-nya yang lahir dari sebuah proses penciptaan, daya intelektual, karsa, serta rasa yang bernilai. Untuk itu, pemikiran saya sepatutnya lembaga seni sebagai pencetak insan-insan kreatif di Indonesia dan pencipta karya seni tentunya memiliki program untuk mengadakan inventarisasi kekayaan seni berpotensi HAKI untuk memunculkan karakter kekayaan budaya yang kita miliki.

HAKI patut disadari oleh insan dan pelaku seni mulai saat sekarang
HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) patut disadari semua pihak termasuk oleh insane seni dan pelaku seni mulai saat sekarang tanpa terkecuali daya cipta-daya cipta yang lain
berpotensi HAKI tersebut. Secara umum, persoalan HAKI tidak sederhana seperti yang kita pikirkan atau yang tercantum dalam Undang-Undang no:19 tahun 2002 tentang hak cipta,nyatanya kreasi para seniman secara hukum belum dihargai sebagaimana mestinya, baik oleh masyarakatnya maupun kalangan seniman sendiri, dan pemerintah. HAKI sebagai institusi hukum dirasa belum mampu melindungi kepentingan hukum para seniman – dan seniman merasa tidak perlu perlindungan hukum. Seniman lebih memandang keberadaan HAKI hanya dari aspek kepentingan moralitas ketimbang keuntungan ekonomis.

C PENUTUP
Berdasarkan hasil pemaparan di atas, tentu masih menyisakan beragam permasalahan yang belum terpecahkan. Dalam kesempatan ini dapat kiranya penulis memberiakan pemikiran akhir dari tulisan ini bahwa Pendidikan karakter bangsa bagi saya perlu digalakan dan diformat kembali agar dapat menumbuhkan insan seni dengan daya kreatif yang memiliki budi pekerti. Kemudian, Industri kreatif akan dapat terwujud bila berbuat dan berkreativitas dengan didasari perkembangan global saat ini. Pada dasarnya, nilai budaya adalah nilai-nilai budaya adiluhung dan utama dalam kehidupan masyarakat. Nilai-nilai tersebut dihormati sebagai hal-hal yang tertinggi, yang menjadi aspirasi, pedoman, dan cita-cita hampir seluruh anggota masyarakat pemilik kebudayaan yang bersangkutan. Dalam tulisan ini, nilai-nilai seni budaya lokal secara konseptual mewujud berbagai komponen (produk) sektor industri kreatif di Bali yang banyak terkait dengan keberadaan industri pariwisata budaya yang berkembang saat ini. Industri kreatif dapat dipahami sebagai bagian dari dari ekonomi kreatif yaitu wujud dari upaya mencari pembangunan yang berkelanjutan melalui kreativitas, yang mana pembangunan berkelanjutan adalah suatu iklim prekonomian yang berdaya saing dan memiliki cadangan sumberdaya yang terbarukan. Hal itu itu sejalan dengan kebijkanan Pemerintah Republik Indonesia yang Tahun Indonesia Kreatif dengan konsentrasi industri kreatif dan aneka kegiatan kreatif yang berbasis budaya unggul (Depbudpar, 2008; Deperindag, 2008).

Nilai seni dan budaya di sisi yang satu dan industri kreatif di sisi yang lain sering dipertentangkan dalam kenyataannya. Nilai seni dan budaya merupakan kebudayaan ekspresif. Industri kreatif merupakan kebudayaan progresif atau, dengan kata lain, yang
pertama menjadi ungkapan tradisi dan kebudayaan sedangkan yang kedua menjadi ungkapan ekonomi dan modernitas. Tulisan makalah ini menggambarkan sinergi keduanya di tengah kehidupan dan perkembangan masyarakat Bali dengan kebudayaannya yang mengalami globalisasi dalam beberapa warsa terakhir ini, dan diintensifkan dengan kemunculan industrialisasi budaya berbagai aspek yang berkembang sekarang.


DAFTAR ACUAN
Anonim. 1999. Direktori Seni Pertunjukan Tradisional. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia
(MASPI) Bekerjasama dengan Artiline.
Anonim. 2008. Pokok-pokok Kongres Kebudayaan Indonesia 2008 (Draft).
Bourdieu, Pierre. 1971. An Outline of a Theory of Practice. Cambridge: Polity.
Geriya, I Wayan. 1989. Pariwisata dan Dinamika Kebudayaan Nasional, Global: Bunga Rampai Antropologi
Pariwisata. Denpasar: Upada Sastra.
Kartini, Ni Nyoman. 2002. “Novel Tarian Bumi Karya Oka Rusmini dalam Sanjungan dan Hujatan”, tesis
Program Magister Kajian Budaya Program Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar.
Kompas, “Tahun Indonesia Kreatif 2009, Krisis Jadi Peluang bagi Ekonomi Kreatif”, Rabu, 31 Desember 2008,
hlm. 21.
Lodra, I Nyoman. 2002. “Kerajinan Perak Suarti sebagai Karya Tandingan Pasar Global”, tesis Program
Magister Kajian Budaya Program Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar.
Sedyawati. 2008. “Klasifikasi Industri Budaya” yang disampaikannya pada Kongres Kebudayaan Indonesia
2008.
Soedarsono, R.M. 1999. Seni Pertunjukan dan Pariwisata Rangkuman Esai tentang Seni Pertunjukan Indonesia
dan Pariwisata. Yogyakarta: BP. ISI Yogyakarta.
Suastika, I Made. 2004. “Pentingnya Pemahaman Nilai Budaya dalam rangka Ajeg Bali”, orasi ilmiah guru
besar Universitas Udayana.
-----. 2006. “Etos Kerja Wanita Bali: Refleksi Nilai Karya Sastra dan Aktualisasinya dalam Kehidupan
Masyarakat” dalam buku Bali Bangkit Kembali. Jakarta: Kerjasama Departemen Kebudayaan dan
Pariwisata Republik Indonesia & Universitas Udayana.
-----. 2007. Lascarya: Nilai Budaya Bali dan Aktualisasinya dalam Kehidupan. Depasar: S3 Kajian Budaya
Universitas Udayana.
-----. 2008. “Jaringan Naskah Bali: Sebuah Studi Awal” dalam buku Isu-isu Kontemporer Cultural Studies.
Bandung: CV. Bintang WarliArtika.
Tribana, I Gusti Ketut. 2010.”Memformat kembali pendidikan karakter” dalam Bali Post, Minggu 18 Juli 2010.
Barker, Chris. 2005. Cultural Studies: Teori dan Praktik. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka.
Berger, Arthur Asa. 2000. Tanda-Tanda dalam Kebudayaan Kontemporer. Yogyakarta: PT Tiara Wacana.
Djelantik, A. A. M. 1999. Estetika: Sebuah Pengantar. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.
Kayam, Umar. 1981. Seni, Tradisi, dan Masyarakat. Jakarta: Sinar Harapan
Macdonell, Diane. 2005. Teori-teori Diskursus (terjemahan Eko Wijayanto). Jakarta: Penerbit Teraju PT Mizan
Publika.
Mantra, Ida Bagus. 1996. Landasan Kebudayaan Bali. Denpasar: Upada Sastra.
Piliang, Yasraf Amir. 1999a. Hiper-Realitas dan Kebudayaan. Yogya: LKis.
Piliang, Yasraf Amir. 2003. Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna. Yogyakarta:
Jalasutra.
Piliang, Yasraf Amir. 2004. Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan. Yogyakarta:
Jalasutra.
Ratna, Nyoman Kutha. 2005. Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Ritzer, George. 2005. Teori Sosial Postmodern. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Sachari, Agus. 2002. Estetika Makna, Simbol, dan Daya. Bandung: Penerbit ITB.
Sadali, Achmad. 2000. “Asas-asas Identitas Seni Rupa Nasional”, dalam Refleksi Seni Rupa Indonesia, Dulu,
Kini, dan Esok. Jakarta: Balai Pustaka.
Saifuddin, Achmad Fedyani. 2005. Antropologi Kontemporer: Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paradigma.
Jakarta: Kencana.
Sarup, Madan. 2008. Postrukturalisme dan Posmodernisme. Yogyakarta: Jalasutra.
Story, Jhon. 2003. Teori Budaya dan Budaya Pop. Yogyakarta: CV Qalam.
Story, Jhon.2007. Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop.. Yogyakarta: Jalasutra.
Soedarso, S. P. dkk. 1992. Seni Patung Indonesia. Yogyakarta: Badan Penerbit ISI Yogyakarta.
Udiana N. P., Tjokorda. 2002. 2007. Motif Garuda di Bali Perspektif Fungsi dan Makna dalam Seni Budaya.
Denpasar: Pustaka Larasan.

RIWAYAT HIDUP PENULIS
DR. Tjokorda Udiana Nindhia Pemayun, S.Sn.,SH.,M.Hum. lahir di
Denpasar, 26 Pebruari 1973, umur 37 Tahun, dosen tetap FSRD. ISI.
Denpasar. Status menikah, Alamat kantor jln. Nusa Indah Denpasar, Tlp 0361-
227316 Fax:0361-236100,Denpasar80235, E-mail: isidenpasar@yahoo.com.
Alamat rumah : Jln. Batuyang No. 64 Br Tegehe Batubulan Sukawati Gianyar
E-mail: udianap@yahoo.com. Tlp. Rumah. 0361-299010. Hp.0818557519.
Riwayat pendidikan, 1981-1986 : SD, 1986-1990 : SMP, 1990-1992 : SMA,
1992-1996 : S-1 Program Studi Seni Rupa dan Disain Universitas Udayana,
Jurusan Seni Rupa Murni Bidang keahlian seni patung, 1992-1998:S-1 Fakultas
Hukum Universitas Warmadewa Denpasar Bidang Hukum Perdata, 2000-2002:
Pendidikan S-2 Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Fakultas Ilmu Budaya,
Proram Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, 2006 Magang selama 6 bulan di Fakultas
Hukum Universitas Brawijaya Malang, khusus mengenai bidang Hukum Hak Kekayaan Intelektual.
Pendidikan S-3 Program Doktor Kajian Budaya, Pascasarjana Unud, bidang kajian estetika (seni
patung)
Buku yang telah diterbitkan:
Motif Garuda di Bali ( buku dibiayai oleh LP2M Universitas Udayana 2003).
Garuda di Bali: Perspektif Fungsi dan Makna dalam Seni Budaya ( Penerbit: Pustaka Larasan 2008).
Garis dalam Seni Rupa (Penerbit: FSRD ISI Denpasar, 2010),
Tinjauan Seni Rupa Patung Ogoh-Ogoh Jilid I (Penerbit: Sari kahyangan Indonesia, 2010).
Sebagai pembicara dalam Seminar:
“Perubahan Bentuk Pahatan Garuda Sejak Berakhirnya Kebudayaan Hindu du Jawa sampai di Bali”
disampaikan dalam seminar FSRD ISI Denpasar 28 September 2006.
“Garis dalam Bentuk dan Irama Hitam Putih” disampaikan dalam Seminar Hasil Penelitian Hibah
Unggulan di ISI Denpasar tahun 2007.
“Patung Topeng dalam Perspektif Historis” disampaikan dalam “Workshop Seni Rupa” Proses
pembuatan patung topeng Tanggal 24 November 2008.
Mata kuliah yang diampu
1. Seni patung I dan VI
2. Pengetahuan HAKI
3. Tinjauan Seni Patung__

PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA BERBASIS KEARIFAN LOKAL UNTUK MENGHADAPI TANTANGAN GLOBAL

SEMINAR NASIONAL DIES NATALIS KE-46 UNY

8 April, 2010

Dalam rangka Dies Natalis ke-46 UNY, Lembaga Penelitian UNY akan menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema “ PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA BERBASIS KEARIFAN LOKAL UNTUK MENGHADAPI TANTANGAN GLOBAL ” pada Hari : Selasa, 11 Mei 2010, Jam : 07.30 s.d. 15.30 wib, bertempat di Auditorium UNY Jl. Colombo No. 1 Kampus Karangmalang Yogyakarta.
Sebagai pembicara utama dalam seminar tersebut :
1. Prof. Suyanto, Ph.D. (Dirjen Mandikdasmen Kementerian Pendidikan Nasional RI);
2. Prof. Suwarsih Madya, Ph.D. (Ka. Dinas Pendidikan dan Olahraga Prop. DIY)
3. KRMT Roy Suryo Notodiprojo (Anggota DPR RI)

Kontribusi Seminar :
1. Peserta: mahasiswa (D3 & S1) sebesar Rp. 75.000,-; Guru & Mahasiswa
pascasarjana sebesar Rp.100.000,-; Dosen & Masyarakat Umum sebesar Rp. 150.000,-.
2. Pemakalah: Peserta yang menjadi pemakalah pendamping/sesi paralel dikenai biaya
tambahan Rp. 100.000,-/judul. Jika mengirimkan lebih dari satu makalah dikenakan
biaya tambahan sebesar Rp. 75.000,-/judul.

Pendaftaran Peserta : Tanggal 29 Maret – 7 Mei 2010 ke Sekretariat Panitia: Lembaga Penelitian UNY Telp. (0274)550839, 555682/Fax. (0274)518617 atau Contact Person: Ibu Martutik, S.IP (08122746164) atau Ibu Tri Sumarni, SP (081578484595), pembayaran bisa melalui rekening Bank BNI Cab. UGM Yogyakarta No. Rek. 0184134852 a.n. Sri Sumardingsih. Bagi Pemakalah Pendamping : Pengiriman abstrak awal paling lambat 20 April 2010 dan makalah lengkap sesuai leaflet via e-mail : semnas.diesuny@gmail.com

Rabu, 20 Oktober 2010

TIM OLIMPIADE MATEMATIKA LAMPUNG LEMAH.

Pendidikan Lampost, Kamis, 21 Oktober 2010

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Tim Olimpiade Indonesia asal Lampung lemah pada pembinaan dan kemampuan bahasa Inggris. Akibatnya, Indonesia hanya menempati urutan ketiga pada International Mathematic Olympiade (IMSO) Ke-7 di Bali, 10-16 Oktober.

Salah satu pendamping asal Lampung, Nusyirwan Zakki, mengatakan kemampuan anak Indonesia, termasuk Lampung, tidak kalah dari negara lain. Namun, karena pembinaan dan persiapannya yang serbadadakan, tim Indonesia tidak bisa berbicara banyak dalam olimpiade internasional yang diikuti 13 negara tersebut.

"Negara-negara lain umumnya sudah mempersiapkan siswanya sejak mereka duduk di bangku kelas III. Pembinaan intensif juga dilakukan selama tiga bulan sebelum IMSO," kata dia di Bandar Lampung, Rabu (20-10).

Dia mencontohkan siswa asal Lampung, Novan Harikas Juon, yang berjuang hingga babak ketiga pada olimpiade tersebut, harus pulang dengan tangan hampa karena kemampuan bahasa Inggris yang minim. Padahal, jawaban dalam IMSO harus diberikan dalam bahasa Inggris.

"Karena kemampuan bahasa Inggris Novan terbatas, terpaksa dia menjawab dalam bahasa Indonesia terlebih dahulu kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris," kata dia.

Menurut dia, penerjemahan tersebut membuat Novan yang juga siswa SDN 2 Rawalaut tidak berhasil membawa pulang medali. Padahal awalnya Novan termasuk salah satu siswa yang diunggulkan untuk mendapatkan emas dalam olimpiade.

Dalam IMSO 2010, Lampung mengirim dua utusan: Cindy Anggrenia dari SD Fransiskus 2 Rawalaut untuk matematika dan Novan untuk mata pelajaran sains. Namun, hanya Cindy yang berhasil membawa pulang medali perak.

Menurut Nusyirwan, Novan sempat terguncang mengetahui hasil olimpiade tersebut. Siswa tersebut sempat tidak mau beranjak dari tempat selama beberapa jam karena kecewa dengan hasil yang dia peroleh.

"Ke depan, saya sudah berbicara dengan tim dari Depdiknas dan guru-guru agar mencari bibit unggul sejak anak-anak duduk di bangku kelas III," kata dia.

Selain itu, untuk pembinaan siswa, pihaknya berharap ada bantuan dari pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan tingkat kabupaten/kota. Sebab, tanpa bantuan pemerintah, kemampuan sekolah sangat terbatas.

"Jika pemerintah tidak memiliki cukup dana, sekolah bisa dihubungkan dengan pihak ketiga untuk mendapatkan bantuan. Sebab, perusahaan besar biasanya memiliki CSR (corporate social responsibility), dan dana itu bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan," kata dia.

Dalam IMSO Ke-7 yang diikuti 229 siswa tersebut, Indonesia hanya menempati posisi ke-3. Posisi pertama diraih Thailand dengan perolehan medali sebanyak 23 . Singapura pada posisi kedua dengan perolehan medali sebanyak 12, dan Indonesia mendapatkan 30 medali.

Menurut Nusyirwan, tim dari Thailand memang menyiapkan siswanya sejak dini. (UNI/S-1)

RSBI, ANTARA IDEALISME DAN REALITAS

Opini Lampost, Kamis, 21 Oktober 2010

RIJAL FIRDAOS
Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Intan, Mahasiswa S-3 UNJ

Koordinator RSBI SD Lampung Nusyirwan Zakki dan Koordinator RSBI SMA Lampung Sobirin menyatakan karena belum ada evaluasi menyeluruh, belum bisa disimpulkan apakah RSBI di Lampung berhasil atau gagal. "Kami heran saat Dewan Pendidikan menyatakan RSBI di Bandar Lampung gagal. Sebab, selama ini evaluasi RSBI hanya dilaksanakan Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah," kata Nusyirwan didampingi Sobirin di Bandar Lampung. (Lampost, 05-10)

Ya, tolok ukur tentang rencana revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) terkait dengan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) tetap saja mengundang dilema tersendiri. Setelah empat tahun berjalan, problematika yang kerap muncul terhadap pelaksanaan RSBI masih sering terjadi. Ternyata bukan saja di Lampung, di Pulau Jawa sendiri, khususnya Jabodetabek, yang notabene lebih dekat dengan Pemerintah Pusat, masih terdengar badai kritik yang belum kunjung reda.

Secara konsep, RSBI mungkin dianggap sebagai sekolah “bergengsi” yang telah berhasil mewakili beberapa pertanyaan akan tingginya kualitas pendidikan yang ada di negeri ini. Bayangkan saja, di samping harus menuntaskan kurikulum nasional, RSBI juga memiliki kewajiban dengan ditambahkannya kurikulum internasional. Seperti penggunaan fasilitas belajar berbasis teknologi informasi, kelengkapan sarana dan prasarana, seperti ruangan ber-AC, dan tentunya bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

Perlu diingat, seluruh fasilitas yang serbaplus-plus tentu saja harus ditebus dengan harga yang mahal. Untuk mengadopsi dan mengembangkan kurikulum Cambridge, misalnya, ada yang dinamakan commitmen fee. Sekolah harus membayar sekitar 24 juta rupiah per tahun dan selalu berubah sesuai dengan fluktuasi mata uang internasional. Atau, untuk mengikuti ujian mendapatkan sertifikat Cambridge, satu mata pelajaran dikenai biaya satu juta rupiah. Belum lagi terkait dengan kerja sama pembinaan dan pendampingan dalam rangka peningkatan kualitas manajemen sumber daya manusia.

Jika mengacu pada beberpa program yang mesti dilaksanakan oleh RSBI, tentu hal ini akan menjadi kastanisasi di jenjang pendidikan dasar (SD, SMP, SMA). Sebab, hanya orang-orang yang mampu saja yang akan mengenyam pendidikan di RSBI, padahal, sekolah tersebut merupakan sekolah negeri yang masih mendapatkan bantuan dari pemerintah. Seperti dana block grant yang besarnya beragam, tapi dipastikan tak kurang dari ratusan juta, bahkan hingga miliaran rupiah yang diberikan secara bertahap.

Block grant inilah yang kemudian menjadi pemanis bagi sekolah, untuk berlomba memenuhi persyaratan agar dapat menyandang lebel RSBI. Dan, jika jumlah RSBI semakin banyak, jumlah sekolah negeri yang biayanya terjangkau bagi kalangan masyarakat miskin semakin sedikit. Padahal, masyarakat dari kalangan bawah yang berkemampuan akademis tinggi pun sangat banyak jumlahnya.

Realitanya, kendati melimpahnya block grant yang diterima, lantas tidak juga meringankan biaya sekolah bagi orang tua siswa. Kasus yang terjadi di SMPN 1 Bogor, misalnya, bagi orang tua yang bermaksud menyekolahkan anaknya di sana, harus mempersiapkan dana masuk Rp10 juta. Luar biasa, hampir setara dengan biaya masuk salah satu universitas di Jakarta, atau kota besar lainnya. Tidak kalah menariknya dengan kasus yang terjadi di SMPN RSBI di Pamulang, Tangerang, pada tahun ajaran 2010. Di tengah semester pertama, secara mengejutkan sekolah mengeluarkan pengumuman, bahwa orang tua murid harus membayar uang Rp8 juta untuk biaya pendidikan. Kondisi tesebut tentu tidak bisa dihindari oleh pihak orang tua, karena anak-anak mereka sudah belajar di sekolah tersebut.

Alhasil, biaya penyelenggaraan RSBI yang terlalu mahal, justru akan membuka peluang baru bagi tumbuh suburnya benih-benih korupsi. Pasalnya, sejumlah sekolah tidak memiliki standar baku terkait dengan biaya sekolah.

Lantas, bagaimana kabar dengan orang tua murid di Lampung, yang menyekolahkan anak-anaknya di RSBI? Hal ini pulalah yang kemudian istilah RSBI dipelintir menjadi rintisan sekolah “bertarif” internasional.

Kendati begitu, kompleksnya persoalan yang muncul di tubuh RSBI, kita masih punya harapan untuk bisa bernapas lega. Asalkan pemerintah, khususnya Menteri Pendidikan Nasional, yang beberapa bulan lalu berjanji untuk mengeluarkan regulasi baru terkait dengan pembatasan pungutan di sekolah-sekolah RSBI, secara serius berniat untuk mengatasi kegelisahan yang ada. Memang awalanya Mendiknas berjanji akan mengeluarkan regulasi tersebut pada Agustus 2010. Namun, Agustus telah berlalu, dan janji tersebut belum terealisasi. Kemudian beliau berjanji lagi, bahwa regulasi itu baru akan terbit pada Oktober 2010. Benarkah? Kita tunggu saja.

Sepertinya tidak berhenti cukup dengan regulasi baru saja. Beberapa konsep yang dapat diberlakukan, di antaranya dengan cara memberi keringanan atau penghapusan biaya pendidikan bagi siswa kurang mampu yang bersekolah di RSBI. Dengan demikian, RSBI tidak hanya menjadi lebel pelengkap nama sekolah. Melainkan juga, adanya indikator yang harus dipenuhi sekolah untuk mencapai label RSBI.

Jika hal itu belum bisa terlaksana, sebaiknya pemerintah mengkaji ulang terhadap payung hukum RSBI, yang termaktub dalam Bab XIV Pasal 50 Ayat I(3) Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas.