INFO HIDUP SEHAT

Selasa, 09 Februari 2010

BIMBINGAN PENULISAN KARYA ILMIAH GURU

KARYA ILMIAH: Guru Harus Mendapat Bimbingan

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Perlu kebijakan khusus untuk guru agar mereka mampu menulis karya ilmiah, mulai dari bimbingan, pendanaan hingga pengadaan jurnal ilmiah. Jika tidak, mereka akan sulit mengurus kenaikan pangkat atau golongan.

Sekretaris Lembaga Penelitian (LP) Universitas Lampung (Unila) Admi Syarif menyatakan hal itu di Sekretariat LP Unila, lantai V Gedung Rektorat Unila, Senin (8-2).

Admi dihubungi untuk dimintai tanggapannya atas fakta hampir 2.000 guru di Bandar Lampung sulit naik pangkat dari golongan IV/a ke IV/b akibat minimnya guru yang melakukan penelitian.

"Harus ada persiapan khusus dari pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan provinsi dan kabupaten/kota terhadap fakta ini. Jika dibiarkan, kasus di Riau bisa saja terjadi di Lampung," kata dia.

Sebanyak 1.820 guru di Riau diduga terlibat kasus manipulasi karya ilmiah dan pemalsuan tanda tangan pejabat dalam penetapan angka kredit (PAK) jabatan fungsional guru di lingkungan Pemprov Riau.

Kasi Dikdas Disdik Kota Bandar Lampung mengatakan kasus itu kemungkinan besar terjadi pada guru-guru yang ingin mengajukan kenaikan pangkat dari golongan IV/a ke IV/b.

Di Bandar Lampung, para guru enggan mengurus kenaikan golongan dari IV/a ke IV/b. Salah satu penyebabnya diduga karena masih rendahnya kemampuan serta kemauan guru dalam menyusun karya tulis ilmiah yang menjadi salah satu syarat kenaikan golongan.

"Apalagi saat ini pemerintah tengah menyiapkan kebijakan baru bagi guru, dalam setiap kenaikan pangkat mereka harus melakukan penelitian dan menulis karya ilmiah, jika demikian setiap guru akan selalu mentok untuk naik golongan," kata dia.

Artinya, menurut Admi, akan ada penyamaan proses kenaikan jabatan antara guru dan dosen. Selama ini kenaikan jabatan seorang dosen, 25 persen nilai kumulatif akademik dosen harus dari penelitian dan karya ilmiah.

Mengenai kebijakan khusus itu, Admi menjelaskan pembinaan guru selama ini baru sebatas bimbingan teknis (bimtek) semata, seperti yang pernah diakui Ngaliman. "Mereka hanya diberikan teori tanpa bimbingan penelitian hingga pencapaian hasil penelitian," kata Admi. n MG14/S-1

Sumber : Lampost 9 Februari 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar diisi disini