INFO HIDUP SEHAT

Senin, 27 Juli 2009

CARA GURU MENGEMBANGKAN BAHAN AJAR

LARAS BAHASA

Oleh: A. Rochman
Pengawas Sekolah/Madrasah Dinas Pendidikan Provinsi Lampung.

BERANGKAT dari instrumen dan evaluasi rintisan sekolah berstandar5 nasional (SSN), salah satu tuntutannya adalah mewajibkannya guru mengembangkan bahan ajar sendiri. Bahan ajar tersebut, meliputi modul, buku mata pelajaran, diktat, dan LKS/worksheed serta buku terjemahan. Sehingga, mau tidak mau, suka tidak suka, seorang guru berkewajiban merencanakan/memprogram untuk mewujudkan bahan ajar tersebut.

Sebelum mengulas lebit lanjut, sedikit membicarakan perbedaan, di antaranya tersebut di atas. Temuan di lapangan masih ada beberapa guru yang ragu/samar-samar tentang perbedaannya.

Seperti halnya di Universitas Terbuka untuk kepentingan mahasiswanya tentu dipersiapkan modul. Sebab selama proses perkuliahannya tidak didampingi langsung oleh dosennya. Jadi modul yang sempurna pembuatannya hanya dengan membacanya saja, mahasiswa sudah langsung menyerap apa yang menjadi tujuan belajarnya.

Demikian pula untuk modul-modul materi pelajaran yang disusun pada jenjang SMA/MA ke bawah. Modul yang disajikan berupa uraian materi yang ditulis dan disusun sedemikian rupa diharapkan siswa yang mempelajarinya atau membacanya dapat menyerap sendiri materi tersebut tanpa didampingi gurunya.

Hal ini cocok untuk guru-guru pamong di SMP terbuka, khususnya atau untuk program Paket A, B dan C. sangat memerlukan pengembangan modul- modulnya, karena sangat jarang ada pertemuan tatap-muka dengan guru pamong.

Sedangkan untuk guru di sekolah-sekolah reguler lebih layak membuat buku mata pelajaran. Sebab lebih mudah, tidak sesistematik seperti modul, karena akan didampingi guru selama proses pembelajaran. Buku ini sifatnya wajib dipergunakan sebagai pegangan pembelajaran, baik sebagai pegangan pokok maupun pelengkap.

Tetapi, buku-buku ini sudah banyak beredar di sekolah-sekolah oleh berbagai penerbit. Jadi tinggal beli saja, karena saat-saat awal diberlakunya kurikulum baru terlalu sibuk seorang guru untuk menyusun sebuah buku ajar, perlu waktu relatif lama dalam prosesnya selain juga diperlukan kompetensi tertentu. kecuali memang ada jiwa sastrawan.

Selanjutnya perlukah membuat diktat pada tahab-tahap awal ini. Sebab fungsi diktat di antaranya untuk mempermudah/memperkaya materi pelajaran. Cakupan isi materinya sedikit atau berisi catatan-catatan guru saja, tidak perlu disusun harus satu semester penuh seperti buku mata-pelajaran.

Pada umumnya diktat hanya untuk keperluan di lingkungan terbatas. Tetapi, bila seorang guru berkeinginan untuk membuat buku mata-pelajaran seyogiyanya berangkat dari membuat diktat lebih dahulu. Sebab diktat merupakan calon buku mata pelajaran bila guru terus menyempurnakannya.

Diktat rasanya lebih cocok digunakan di kalangan perguruann tinggi, Sebab, para mahasiswanya harus berhadapan dengan buku-buku tebal dan banyak berbahasa asing. Sehingga, dosen memandang perlu membuat diktat, sekaligus menyadur bahasanya ke dalam bahasa Indonesia.

Dengan demikian peluang yang paling cocok dan nyaman proses pembuatannya adalah membuat worksheet atau lembar kerja, atau dihaluskan lagi menjadi lembar kegiatan siswa (LKS).

Batasannya kurang lebih adalah arahan tertulis yang dirancang oleh guru mata pelajaran untuk kegiatan observasi lapangan, eksperimen-siswa dan pengkajian yang langsung dihubungkan dengan buku teks. (Dart = direct activity to relate to the text books. Jadi LKS ini dibedakan menjadi tiga jenis. Jenis yang ketiga ini (dart) yang paling luwes dapat dipakai oleh semua mata pelajaran. Sedangkan jenis lembar observasi dan eksperimen-siswa umumnya banyak dipakai untuk keperluan mata pelajaran MIPA.

Pembuatannya relatif sederhana, dapat bersamaan/simultan saat melakukan persiapan penguasaan materi-pelajaran yang akan disajikan. Seorang guru mutlak harus menguasai materi-pelajaran terlebih dahulu, langkah sekundernya baru menentukan metodenya dan media pembelajarannya yang sekaligus dituangkan dalam RPP.

Seperti apa desain bentuk LKS ini dan apa manfaatnya untuk guru dan siswa? Bentuknya beragam, bermacam-macam bentuk. Bila dijumlah mencapai belasan bentuk. Seorang guru harus pandai-pandai memilih bentuk seperti apa yang sesuai dengan topik/pokok-bahasan yang akan disajikan. Sebab setiap topik punya pola tersendiri dalam suatu mata-pelajaran. Salah satu bentuk yang telah populer adalah teka-teki silang. Tetapi, hanya berisi dan disesuaikan dalam walayah materi yang akan disajikan saja.

Keuntungan bagi kelas, kegiatan pembelajaran dapat lebih terarah memfokus pada pokok permasalahan. Bagi guru selama kurang lebih 20 menit siswa berdiskusi, guru dapat sedikit beristirahat sambil mengontrol kegiatan siswa. Hal ini selain menghemat energi juga menghindari pembicaraan dari guru, yang terkadang secara tidak sadar dapat ngelantur keluar dari topik pembelajaran saat menjelaskan.

Untuk siswa nilai tambahnya berlatih melalui pembiasaan mengungkap berbagai buku-buku referensi. Pengalaman ini akan menjadi modal kelak di bangku perguruan tinggi. Sebab rata-rata dosen hanya membimbing mahasiswanya sebanyak 25% dibanding pada saat anak masih dibangku sekolah dasar.

Gambaran penyajian di kelas dapat dibayangkan. Sepasang siswa duduk sebangku tentunya, melakukan diskusi dengan perantara LKS berbentuk TTS tentang sejarah Indonesia dengan topik Kerajaan Majapahit. Desain LKS yang baik harus dapat melibatkan beberapa buku teks, bisa 2 atau 3 buku dari penerbit yang berbeda. Semuanya saling melengkapi.

Bukankah pembelajaran seperti ini untuk mendidik siswa menggali informasi dari berbagai sumber buku. Tidak jauh, guru pun saat menyusun skripsi dalam program S-1 tatkala masih di bangku kuliah harus mengkaji minimal 10 buku referensi sesuai jurusanya.

Berapa jumlah buku yang harus dikaji oleh mahasiswa untuk program S-2, karena sudah banyak para guru yang melajutkan sampai program tersebut. Lebih lanjut untuk program S-3, buku teks yang harus dikaji, ceritanya mencapai 200 buku untuk seorang mahasiswa.

Bentuk-bentuk LKS yang lain misal missing-word. Cara pembuatannya guru meringkas dahulu uraian materi suatu wacana pembelajaran, misal tentang sejarah Indonesia hingga menjadi lebih padat.

Selanjutnya kata-kata kunci (pelaku, tahun kejadian dan sebagainya) dihapus diberi titik-titik dan nomor jawaban. Kata-kata yang dihapus tersebut dikumpulkan tersendiri sebagai sumber jawaban.

Adapula bentuk gagasan siswa, umumnya dalam bentuk tabel. Kolom-kolomnya memuat suatu ulasan, setuju atau tidak dan beri alasannya. Masih banyak bentuk-bentuk yang lainnya.
Lampost 25 Juli 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar diisi disini