Minggu, 21 Juni 2009

UNILA TERAKREDITASI "C"

Awan Menggelayut di Kampus Hijau

Januari 2009 Universitas Lampung (Unila) mendapat akreditasi C dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Padahal, Kampus Hijau ini memasang target 10 besar universitas terbaik di Indonesia pada 2025.

--------------

Lima bulan setelah status akreditasi Unila terbit, Juni 2009, anugerah itu terpublikasi dan mendapat tanggapan luas dan terus meluas. Banyak pihak berkomentar beragam. Ada yang menyayangkan mengapa perguruan tinggi negeri terbesar di Lampung ini tidak mampu mempertahankan reputasinya. Ada yang memaknai penilaian itu sebagai introspeksi diri. Bahkan, ada yang mengusulkan agar Unila melakukan terobosan dengan cara apa pun agar di mata masyarakat nama Unila tidak jatuh.

Kesan yang muncul saat akreditasi C Unila terpublikasi memang miris. Perguruan tinggi swasta yang baru berdiri dengan fasilitas seadanya pun biasanya dapat langsung menyandang akreditasi di bawah rata-rata itu. Bahkan, dengan predikat baru itu, Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Lampung Ismet Inonu dengan diplomatis menyatakan perguruan tinggi swasta di Lampung siap berkompetisi dengan Unila.

Kesiapan PTS bersaing dengan Unila karena kini biaya kuliah di PTN semakin tinggi dan hampir setara dengan PTS. Hal itu dampak dari Undang-Undang Badan Hukum Peguruan Tinggi (BHPT) yang mengurangi subsidi untuk PTN. Dengan pengurangan itu, kami siap bersaing. Sebab, tradisi swasta adalah efektif, efisien, dan mengutamakan layanan.

Publikasi akreditasi C Unila membuat Rektor Sugeng P. Harianto merasa perlu untuk menyampaikan pesan kepada khalayak. Ia mengatakan akreditasi Unila tidak turun, karena baru kali ini mengajukan akreditasi kelembagaan. Artinya, secara kelembagaan, Unila belum pernah mendapat akreditasi. "Untuk menerima pegawai, suatu instansi hanya melihat akreditasi program studi, bukan akreditasi lembaga. Kalau program studi, rata-rata di Unila terakreditasi B dan banyak sekali yang A," kata dia, pekan lalu.

Fakta itu memang membuktikan bahwa PTN kebanggan Lampung yang sudah berusia 43 tahun itu masih jauh dari harapan. Terlebih dengan target Unila dalam Renstra 2005--2025 adalah sebagai top ten university.

Tampaknya, universitas dengan tujuh fakultas, 70 program studi, yang terdiri dari: 16 Program Diploma (D-2 dan D-3); 46 Program Sarjana (S-1); 8 Program Pascasarjana (S2); dan 1 Program Profesi Akuntansi (PPA) ini mengalami obesitas (overweigt). Lebih dari 25 ribu pemuda-pemudi mengejar ilmu di kampusnya yang berada di Gedongmeneng, Rajabasa, Bandar Lampung ini. Sementara, layanan yang diberikan menjadi tidak maksimal karena ditengarai banyak dosen yang mroyek.

Pernyataan Dirjen Pendidikan Tinggi (Dirjen) Dikti Prof. Fasli Jalal tentang dosen Unila yang sibuk mroyek itu membuat berbagai kalangan mulai melirik dengan sinis. Anggota Komisi D DPRD Provinsi Lampung, Ahmad Jajuli, misalnya, sampai merasa perlu mengucapkan rasa syukur atas terungkapnya akreditasi Unila yang jeblok itu. Itu indikasi bahwa Unila secara kelembagaan selama ini tidak tersentuh kritik karena posisinya yang seakan sebagai lembaga dengan nilai moral dan tingkat kepecayaan yang tinggi.

Sebab, mereka bergerak pada ranah intelektual yang cenderung melangit. Para dosen aktivis berjuluk pakar, pengamat, pemerhati, terus melabrak dan mengomentari setiap kebijakan pemerintah, terutama kelakuan DPRD yang tidak becus bekerja. Sementara, ke dalam, mereka tunduk dan patuh kepada telunjuk rektor tanpa kritik.

Unila hingga kini "memelihara" lebih dari 1.200 dosen dan setiap tahun terus bertambah. Namun, keluhan mahasiswa soal ketidakhadiran dosen dan mobilitas para guru mahasiswa itu terlihat sangat tinggi di luar kampus. Banyak di antaranya menjadi staf ahli Pemprov, pemkab, dan dinas-dinasnya. Tak heran jika pekerjaan dosen pun di-outsoucing-kan ke pihak lain.

Soal akreditasi lembaga yang kurang menguntungkan, Rektor Unila mengaku dirugikan oleh kebijakan BAN-PT. Perubahan sistem penilaian yang dilakukan lembaga pusat itu tidak mengakomodasi akreditasi program studi secara komprehensif.

Oleh sebab itu, pihaknya berupaya mendongkrak akreditasi itu dengan cara mengamputasi beberapa program studi yang dianggap membuat keberatan beban. Yakni, program-program studi dari diploma 2 dan diploma 3. Juga akan "menyedot lemak" pada program studi yang dinilai kurang mampu berkompetisi. Itu juga salah satu rekomendasi Dirjen Dikti kepada Unila.

Kebijakan itu terasa kontraproduktif dan terkesan tidak ambil pusing. Sebab, ada risiko yang harus ditanggung oleh pihak-pihak lain. Juga mahasiswa.

Sugeng menambahkan pihaknya juga akan mendorong jumlah guru besar di Unila. Pihaknya akan mengupayakan dosen yang telah bergelar master untuk kuliah lagi dan mengambil gelar doktor.

Program lain yang terus digalakkan adalah lembaga penelitian Unila. Selama ini lembaga penelitian dipublikasikan hanya melalui website. Sayangnya, website Unila dengan alamat www.Unila.ac.id tampaknya didesain demikian rumit sejalan dengan ranah intelektual yang mereka geluti. Akibatnya, masyarakat awam kurang tertarik untuk mengakses.

"Dan mungkin website kita tidak begitu banyak orang tahu. Karya penelitian sudah bangak," kata Sugeng, yang mengaku mendapat bantuan dana Rp16 miliar dari APBN untuk penelitian.

Lalu, pertanyaan yang muncul adalah apakah rencana strategis yang dipasang sejak 2005 lalu sudah dijalankan dengan seksama. Sebab, pada Oktober 2007, Unila mempublish tahapan-tahapan itu dengan runtut. Yakni, mewujudkan good governance dan clean governance di kampus tersebut. Antara lain dengan melaporkan kekayaan pejabat Unila ke KPK.

Pembantu Rektor II Unila, saat itu Sulastri, mengatakan pihaknya sudah menggelar berbagai kegiatan untuk mewujudkan misi Unila sebagai 10 universitas terbaik tahun 2025.

Dia mengatakan untuk mencapai hal itu diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas. Maka, Unila menggelar workshop standard operational procedure (SOP) pengembangan sumber daya manusia yang membahas lima 5 SOP, yakni SOP analisis jabatan, SOP rekrutmen pegawai, SOP rekrutmen tenaga kontrak, SOP penyelenggaraan diklat, dan SOP pengiriman peserta pelatihan. n TIM/M-1



Terseoknya Profesionalitas Unila

BANDAR LAMPUNG--Akreditasi C pada Universitas Lampung (Unila) adalah cermin. Apakah kesiapan dalam meyongsong target sepuluh besar universitas terbaik di Indonesia 2025 sudah memulai tahapannya, baik itu sarana dan prasarana ataupun kualitas pengajarnya.

Dari pemantauan Lampung Post di lingkungan Unila, masih banyak ditemui kekurangan menyangkut sarana pendukung perkuliahan, seperti ruang kuliah, kenyamanan, ataupun laboratorium pendukung. Sayang, hampir semua narasumber dalam tulisan ini tidak berani disebut identitasnya. Seorang mahasiswa Fakultas Pertanian mengatakan ruang perkuliahan di fakultasnya tidak mencukupi dengan jumlah mahasiswanya.

"Terlalu sempit dan sedikit. Lalu, panas membuat tidak nyaman. Dosen-dosennya pun kebanyakan tidak up-date. Terlebih bagi kami yang kuliahnya lebih banyak praktek. Setidaknya dosen mengetahui isu-isu terbaru yang berkaitan dengan keilmuannya. Kalau cuma belajar dari buku saja sih kami bisa sendiri," kata dia, Kamis (18-6).

Sedangkan Perpustakaan Unila, terlihat masih jauh dari standar untuk bisa mengikuti target Unila menjadi sepuluh besar terbaik universitas di Indonesia. "Koleksi buku-bukunya kurang, jarang ada yang baru. Seandainya ada yang baru pun tidak terlalu banyak, sehingga kami tidak kebagian," ujar salah seorang mahasiswi yang sedang meminjam buku.

Di ruang perpustakaan, masih ditemui buku-buku edisi lama (1960-an-- 1980-an) dan beberapa buku yang kondisinya rusak, seperti sobek atau tidak terawat. "Tetapi pelayanannya sudah cukup bagus, cepat. Dan, ada komputer yang mempermudah pencarian buku," kata dia.

Seorang mahasiswa FISIP yang diterima melalui jalur ujian mandiri mengeluhkan bahwa dengan uang masuk yang mahal seharusnya ia mendapatkan timbal balik yang setimpal. "Ruang dan alat-alat praktikum belum lengkap. Dosen dan ruang perkuliahan kurang. Bahkan WC pun sepertinya tidak diperhatikan, tidak ada air dan bau."

Akreditasi C yang dikantongi Unila pun sempat membuat cemas salah seorang calon mahasiswa yang ditemui saat mengambil formulir SNMPTN di GSG. "Ya, khawatir. Takutnya susah dapat kerja kalau lulus nanti." Ia mengaku mengambil salah satu jurusan Unila sebagai pilihan pertamanya. Ia pun menilai untuk universitas negeri sekelas Unila, GSG itu sudah tidak layak, harus diperbaiki. "Masa sudah bobrok dan kotor begitu. Malu seharusnya," kata dia.

Lalu sarana pendukung lainnya seperti laboratorium bahasa. Sudah jadi rahasia umum, bahwa sertifikat TOEFL yang dikeluarkan Balai Bahasa Unila tidak berlaku keluar, hanya berlaku ke dalam, malah hanya sebagai syarat untuk wisuda saja. Hal tersebut sangat jauh dari kelayakan, karena sebagai instansi pendidikan negeri terbesar di Lampung, seharusnya Balai Bahasa Unila sudah bisa memenuhi standar TOEFL yang diakui oleh dunia internasional.

Untuk menggambarkan kondisi Balai Bahasa tersebut, seorang mahasiswa yang tidak mau disebutkan namanya bercerita; "Alat-alat pendukung tes masih jauh dari memadai. Tidak pakai headphone, malah pakai speaker yang suaranya sudah sember," kata dia. Menurut dia pula, soal-soal yang diujiankan sudah uzur. Masih stok-stok lama, tidak diperbaharui. "Jadi, kalau mau lulus dari tes TOEFL di Unila gampang. Tinggal cari joki yang sudah punya kunci jawaban saja, dijamin lulus, karena soalnya itu-itu saja," jelasnya.

Di sisi lain, kebiajakan Unila tentang sarana dan prasarana kampus tampaknya memang dikurangi. Sejak setahun terakhir, pintu masuk kampus dari Jalan Soekarno-Hatta ditutup. Jika malam, pintu gerbang universitas kebanggaan Lampung itu pun seperti batu nisan raksasa dalam gulita. Sungguh menyeramkan.

Beberapa fasilitas pendukung yang dimiliki juga tak terurus. Kolam renang Unila dengan ukuran olimpiade itu, misalnya, setiap dijejali pengunjung dengan tiket Rp4.000. Sayangnya, fasilitas itu hanya mengeruk devisa, tanpa memberi pelayanan. Kualitas airnya kotor, meskipun terlihat bening. Tempat duduk rusak, air untuk bilas tidak ada, kran rusak, kamar ganti bau pesing, lubang WC masih tertinggal tinja adalah hal biasa.

Unila mempunyai beberapa unit pelayanan teknis (UPT) yang didedikasikan juga untuk umum. Selain fasilitas olahraga, juga ada gedung serbaguna yang juga tidak terawat, percetakan, kebun, dan lain-lain. Apakah Unila siap menjadi profesional untuk menyambut kehadiran Badan Hukum Perguruan Tinggi (BHPT)? Kita tunggu. n MG13/M-1

1 komentar:

  1. Wah ... aduh .... bagaimana ini ... ?

    BalasHapus

Komentar diisi disini