INFO HIDUP SEHAT

Minggu, 28 Juni 2009

UNILA AKREDITASI " C " APA KATA REKTOR


Menggalakkan Riset, Menguatkan Kelembagaan Unila

Sugeng P. Harianto
Rektor Universitas Lampung

Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) menetapkan Universitas Lampung (Unila) sebagai perguruan tinggi berakreditasi C sejak Januari 2009. Implikasi akreditasi C tersebut, Unila yang berdiri sejak 23 September 1965 dianggap sekelas dengan perguruan tinggi yang baru dibuka.

Sebenarnya, seperti dikatakan Rektor Unila Sugeng P. Harianto, tidak memengaruhi lulusan Unila. Sebab, sebagian besar program studi di universitas ini memiliki akreditasi B. Lebih dari 75 persen PS di Unila berakreditasi B, 14 persen berakreditasi A, dan hanya 9 persen yang berakreditasi C.

Namun, tidak urung masalah ini merebak ke mana-mana dan memunculkan spekulasi bermacam-macam, seperti manajemen universitas, mempertanyakan kualitas lulusan, sampai kepada kemungkinan kesulitan yang akan dialami lulusan universitas ini dalam mencari pekerjaan.

Rektor menjamin tidak akan ada persoalan dengan lulusan Unila yang hendak bekerja. "Kalau itu yang dimasalahkan, untuk Sumatera yang bisa mencari kerja cuma USU, Universitas Bengkulu, dan Unila saja yang dapat mencari kerja karena telah terakreditasi secara institusi. Sedangkan perguruan tinggi lain tidak akan bisa, karena mereka tidak terakreditasi secara institusi," kata Sugeng P. Harianto kepada Abdul Gofur, Tri Purnajaya, M. Reza, dan Zulkarnain Zubairi dari Lampung Post di ruang kerjanya, Kamis (25-6).

Berikut petikan wawancaranya.

Ada gonjang-ganjing ketika Unila dinyatakan bersertifikasi C beberapa waktu lalu. Sebenarnya bagaimana posisi Unila di antara perguruan tinggi negeri di Tanah Air saat ini?

Kita mulai dari posisi Unila dalam sertifikasi dosen. Perguruan tinggi negeri itu dibagi tiga universitas pembina, universitas sertifikasi mandiri, dan universitas yang dibina. Unila sudah masuk dalam kategori universitas sertifikasi mandiri. Di Sumatera, universitas pembina itu USU, Unand, dan UNP. Yang mandiri, Unila, Unsri, dan Unsyiah.

Ini ditetapkan melalui SK Menteri Pendidikan Nasional. Artinya, jika Universitas Lampung akan melakukan sertifikasi, dosen Unila dapat melakukannya secara mandiri. Khusus untuk sertifikasi, dosen kita menyertifikasi dosen dari Universitas Negeri Jakarta, Untirta, kemudian Universitas Bengkulu, sebagian dari Kopertis. Mereka melakukan sertifikasi dosennya di Unila.

Apa beda akreditasi dosen, akreditasi institusi, dan akreditasi program studi?

Soal akreditasi perguruan tinggi, pada 2006 mulai ada akreditasi institusi. Paling lambat untuk mengajukan akreditasi pada tahap awal adalah 2007. Desember 2007 seharusnya untuk akreditasi institusi harus sudah dilakukan. Waktu itu, karena persiapan dokumen Unila belum mantap, kami belum berani mengajukan akreditasi. Yang masuk pada waktu itu Bengkulu dan USU saja.

Akreditasi institusi berbeda jauh dengan akreditasi program studi. Akreditasi institusi itu berarti akreditasi lembaganya secara keseluruhan. Kemudian, pada 2008 setelah saya menjadi rektor, berkas dan dokumen kami lakukan perbaikan. Dokumen ini merupakan data kondisi Unila lima tahun sebelumnya (2003--2008), bukan data satu tahun (tahun 2008 saja, red).

Akreditasi institusi dilakukan empat tahun sekali dan hingga kini baru beberapa perguruan tinggi negeri saja yang telah melakukan akreditasi institusi. Jika akreditasi institusi dijadikan andalan syarat mencari kerja, lulusan perguruan tinggi swasta tidak dapat mencari kerja, karena mereka belum terakreditasi secara institusi.

Perguruan tinggi swasta pasti sulit melakukan akreditasi secara institusi karena memiliki syarat yang ketat. Pertama, dalam akreditasi institusi sebuah universitas yang dimasukkan ke penilaian adalah program studi yang nilainya A. Kedua, termasuk guru besar. Itu baru bisa dinilai jika guru besarnya sudah 20 persen dari jumlah dosennya. Kalau jumlah guru besar belum 20 persen, nilainya nol.

Pada 2007, penilaian akreditasi institusi mencakup program studi secara keseluruhan. Jika kita melakukan akreditasi, Unila bisa mendapatkan nilai B. Namun pada 2008, syarat penilaian berubah. Program studi yang terakreditasi B tidak dimasukkan penilaian. Makanya Unila mendapatkan akreditasi C.

Ketika Unila dinyatakan akreditasi C, apakah pihak Unila tidak mengajukan keberatan?

Awalnya kami sempat komplain dengan perubahan sistem penilaian tersebut ke BAN-PT dan menarik berkas penilaian. Namun, tim mengatakan bahwa hasilnya cuma dua, terakreditasi atau tidak terakreditasi sama sekali. Akhirnya kami putuskan tetap melakukan akreditasi, walaupun hasilnya C. Ini bukan persoalan bagi kami, karena secara institusi Unila telah terakreditasi.

Ini lebih baik dari perguruan tinggi yang tidak terakreditasi sama sekali secara institusi. Jadi akreditasi institusi Unila itu bukannya turun. Karena akreditasi institusi belum pernah kita lakukan sama sekali. Ini kan terjadi di awal saya menjabat. Jadi, ada kesempatan bagi saya untuk berjuang meningkatkan akreditasi Unila. Kami akan lihat di akhir jabatan saya, akreditasi institusi Unila akan naik apa tidak.

Tidak ada masalah dengan akreditasi program studi?

Untuk akreditasi program studi, Unila cukup baik. Program studi yang terakreditasi C jumlahnya sedikit sekali. Di Fakultas Pertanian hanya satu, Budi Daya Perairan, yang lainnya B dan A. Ekonomi A,A,B. Di Fakulktas Teknik hanya Teknik Kimia. FISIP B semua. Hukum A. FKIP hanya Bimbingan Konseling yang C.

Akreditasi institusi tidak akan menjadi persoalan dalam mencari kerja. Jika ini ditanyakan, untuk Sumatera yang bisa mencari kerja cuma USU, Universitas Bengkulu, dan Unila saja yang dapat mencari kerja karena telah terakreditasi secara institusi. Sedangkan perguruan tinggi lain tidak akan bisa, karena mereka tidak terakreditasi secara institusi. Apalagi peguruan tinggi swasta. Karena belum terakreditasi secara institusi.

Apa upaya meningkatkan kualitas lulusan dan nilai akreditasi Unila?

Saat ini tahapan yang dilakukan Unila masih jauh, karena jumlah guru besar di Unila masih 2%. Kini baru ada 32 guru besar. Tahun 2009 ini akan kami tambah 12 orang guru besar. Jadi jumlahnya bertambah menjadi 40 orang. Itu juga masih sekitar 5%, jadi masih jauh juga. Untuk mencapai 20 persen, paling tidak kami harus memiliki 20 guru besar lagi. Target saya 2011 Unila memiliki guru besar 10 persen. Kini sebagian guru besar Unila akan mencapai masa pensiun. Mereka pensiun di usia 65.

Guru besar kami sebagian besar di Fakultas Pertanian. Untuk Ilmu Sosial, guru besar masih sedikit. Makanya saya akan berupaya mencari jalan keluar supaya target terpenuhi. Sebab, memang kami terlambat sekali untuk memproses guru besar. Ekonomi cuma Pak Sahala, mudah- mudahan akan segera bertambah satu, Pak Satria Bangsawan. FISIP baru Pak Margono. FKIP sekarang ada Pak Sudjarwo dan Pak Bambang Setiadi. Paling banyak memang dari Fakultas Pertanian dan MIPA.

Kami terlambat memproses guru besar disebabakan dulu guru besar itu kan tidak mesti bergelar doktor. Waktu itu teman-teman yang sudah bergelar master tidak mengambil guru besar walaupun pangkatnya sudah 4c.4b. Setelah diubah harus doktor, sekarang mereka tidak bisa mencapai guru besar. Sekarang wajib bergelar doktor.

Kami sekarang akan merangsang mereka yang bergelar master S-2 untuk sekolah S-3. Untuk persentasi, doktor Unila mungkin sekitar 20 persen, dan 50 persen master. Walaupun sudah 20 persen bergelar doktor, rata- rata mereka masih muda-muda dan golongan baru. Sedangkan yang bergelar master itu sudah senior, umurnya 45 ke atas. Solusinya, kami akan bekerja sama dengan universitas-universitas besar, seperti UGM, Undip, agar mereka dapat sekolah lagi dan mencapai gelar doktor.

Bagaimana dengan mahasiswa?

Prestasi Unila di bidang kemahasiswaan cukup baik. Untuk perlombaan sain dan teknologi, kami urutan tiga secara nasional, dimenangkan dari MIPA, tahun 2009, setelah UI, dan Brawijaya. UKMBS di Indonesia urutan kelima. Untuk Mergometrix, kami pernah di posisi 17, kemudian turun di 22. Dan sekarang kami sudah naik lagi di posisi 15. Nanti akan diumumkan di web Mergometrix pada bulan Juli.

Unila sebagai universitas sangat memperhatikan aktivitas mahasiswa dalam dunia kegiatan kemahasiswaan. Dari SPP saja Unila mengalokasikan 8 persennya untuk kemahasiswaan. Bahkan untuk menjadi wisudawan terbaik Unila syaratnya 25 persen penilaian diambil dari aktivitas dia dalam dunia kemahasiswaan. Dalam pidato, saya selalu mengatakan walau kalian ber-IPK 4 sekalipun, itu akan nol artinya bagi saya jika kalian tidak aktif di dunia kemahasiswaan.

Pengalaman di dunia kemahasiswaanlah yang natinya diperlukan ketika terjun ke masyarakat. Kini akan percuma IP tinggi jika mahasiswa tidak punya pengalaman organisasi serta keahlian dan keterampilan. Kecuali kalau mereka memang cenderung bekerja di lab dan menjadi peneliti. Namun, memang aktivitas dunia kemahasiswaan di Unila sudah menurun jauh dibandingkan dulu, baik dari segi militansi dan kuantitas yang aktif.

Ada kecenderungan kuantitas penelitian dosen ilmu sosial lebih rendah dibanding dosen eksak?

Ini juga menjadi salah satu permasalahan yang saya perhatikan dan ke depan akan kami tingkatkan. Sebenarnya tidak ada perbedaan perlakuan terhadap program studi eksak maupun ilmu sosial. Cuma memang jika kami kaji lebih dalam, aktivitas dosen kami lupa melakukan penelitian. Jika kami lihat di lembaga penelitian, hampir tidak ada proposal penelitian dari dosen sosial. Yang banyak justru dari ilmu ilmu teknologi dan eksak, terutama dari Fakultas Pertanian dan MIPA.

Sedangkan untuk naik pangkat dan naik jabatan 25 persen itu penilaian dari riset. Kalau tidak ada riset, bagaimana mau cepat naik pangkat dan menjadi guru besar. Makanya ini yang akan kami pacu untuk segera menjadi doktor. Bisa dilihat dari dekan-dekan dari fakultas sosial rata-rata masih bergelar master. Makanya kami harapkan melalui kerja sama dengan universitas besar, mereka dapat segera menjadi doktor.

Ada kesan Unila menganaktirikan ilmu-ilmu sosial dan humaniora?

Ke depan, pada masa pengembangan mungkin Unila akan menambah program studi untuk ilmu sosial dan ilmu budaya. Namun, pada masa jabatan saya kini saya lebih memfokuskan kepada penguatan kelembagaan. Sebab masih banyak dosen yang belum bekerja secara maksimal. Kini sistem administrasi saya perbaiki. Dulu kami cuma ada dua biro, sekarang ada biro perencanaan. Tujuannya agar secara administrasi kelembagaan Unila semakin kuat.

Untuk pengembangan riset akan kembali kami galakkan. Saya kini berusaha agar para profesor kembali aktif untuk melakukan riset dan penelitian. Karena seharusnya dari merekalah hasil riset dan penelitian universitas dihasilkan. Untuk itu, saya sebagai rektor secara langsung melalui telepon mengajak para profesor di Unila untuk kembali melakukan riset dan penelitian. Termasuk mereka yang masih bergelar master itu saya telepon, saya rangsang agar mau bersekolah lagi menjadi doktor dan kemudian menjadi guru besar. Cita-cita seorang dosen itu bukanlah menjadi rektorm, melainkan menjadi guru besar.

BIODATA

Nama lengkap: Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Harianto, M.S.

Tempat tanggal lahir: Pringsewu, 23 September 1958

Anak pertama dari 9 bersaudara

Orang tua

Kumpul Haryanto dan Marwiyah

Keluarga

Istri: Dra. Megawati

Anak:

1. Irvan Yusandinandra Prayitno, S.E., bekerja di Bank Lampung.

2. Hardian Syilvanandra Prayitno, S.Pi., bekerja di Dinas Kehutanan dan Perikanan Provinsi Lampung.

3. Radinal Yusivanandra Prayitno, mahasiswa Fakultas Kedokteran Unila

Jabatan:

Guru Besar Fakultas Pertanian Unila sejak 1 Desember 2003

Rektor Unila sejak 2007

Pendidikan:

1. SDN 1 Pringsewu (1969)

2. SMP Xaverius Pringsewu (1972)

3. SMAN Pringsewu (1975)

4. Sarjana Manajemen Hutan IPB (1981)

5. Magister Ilmu Perkayuan dan Pengelolaan Hutan IPB (1987)

6. Doktor dari University of the Philippines at Los Banos (UPLB) Filipina (1994)

7 komentar:

  1. Untuk perusahaan bonavit, akreditas universitas itu diperhitungkan lho Pak, rata-rata mereka meminta lulusan PTN dengan akreditas universitas "B". Dan, akhirnya saya gagal untuk mendaftar perusahaan tersebut.

    BalasHapus
  2. wah, baru tahu ternyata rektor Unila angkatan 18 IPB..

    BalasHapus
  3. Akreditas unila apa skrng, pak....

    BalasHapus
  4. -------------------------------------------------------------------------------------
    Akreditasi institusi dilakukan empat tahun sekali dan hingga kini baru beberapa perguruan tinggi negeri saja yang telah melakukan akreditasi institusi. Jika akreditasi institusi dijadikan andalan syarat mencari kerja,#lulusan perguruan tinggi swasta tidak dapat mencari kerja, karena mereka belum terakreditasi secara institusi.#

    #Perguruan tinggi swasta pasti sulit melakukan akreditasi secara institusi karena memiliki syarat yang ketat. Pertama, dalam akreditasi institusi sebuah universitas yang dimasukkan ke penilaian adalah program studi yang nilainya A. Kedua, termasuk guru besar. Itu baru bisa dinilai jika guru besarnya sudah 20 persen dari jumlah dosennya. Kalau jumlah guru besar belum 20 persen, nilainya nol.#
    -------------------------------------------------



    Sungguh lucu dengan REKTOR yang satu ini, bagai katak dalam tempurung, tak tahu dunia luar tetapi men-judge begitu saja.....
    Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, universitas swasta bung, dan sukses meraih akreditasi "A" dan di capai di usia yang relatif muda di banding UNILA, kami baru berumur 32 tahun tapikami sudah membuktikan....So, lain kali jangan meremehkan Universitas Swasta, buat apa negeri jika kualitas buruk.....

    BalasHapus
  5. Kampus Indukan di Sumatera itu cuma 3 Bung; UNSRI yg adlh Indukan di Sumbagsel, USU untuk Sumbagut dn Unand untuk Sumbar. so itu 3 PTN cuma dapat Akred "B", manapula Unila B?? yg masih ingusan baik alumni dn research-nya, mikir donk..??. Terima keadaan dn improvisasi dirilah uniland, jangan marah marah di media, buat malu aje..wkwkwwkkw

    BalasHapus
  6. Serasa percuma kuliah di Unila selama bertahun2,,daftar kemana2 gak bisa. bisanya cuma daftar jadi buruh. Siapa yang salah??

    BalasHapus
  7. dan akhirnya Unila tidak terdaftar di BAN_PT

    BalasHapus

Komentar diisi disini