Minggu, 17 Mei 2009

SERTIFIKASI GURU AKAN DITINJAU

Tinjau Ulang Sertifikasi Guru

JAKARTA (Ant/Lampost): Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) meminta Departemen Pendidikan Nasional untuk meninjau kembali sistem sertifikasi guru yang dinilai kurang layak.

"Sistem sertifikasi guru harusnya melalui uji profesi, bukan melalui lampiran dokumen portofolio, sehingga harus ditinjau kembali," kata Sekjen FGII Iwan Hermawan, di Jakarta, Rabu (13-5).

Menurut Iwan Hermawan, bila sertifikasi guru melalui lampiran dokumen portofolio, dengan mudah guru membuatnya dan bisa saja ada kecurangan untuk memperoleh sertifikat guru, salah satunya dalam mengikuti forum ilmiah.

"Agar mendapatkan sertifikat guru, para guru akan berbondong-bondong mengikuti seminar dan forum ilmiah lainnya. Ini sangat mudah dan bisa terjadi kecurangan," tuturnya.

Selain itu, dengan adanya portofolio ini, guru yang memiliki masa jabatan lebih lama bisa setara dengan guru yang pengalamannya kurang. Akibatnya, guru yang berpengalaman harus bersaing dengan guru yang masih baru untuk mendapatkan sertifikat.

Namun, kata dia, jika sertifikasi guru melalui uji profesi yang dilakukan oleh seorang penguji, akan diketahui sejauh mana tingkat kemampuan guru dalam mengajar. "Uji profesi ini dilihat dari cara guru mengajar, cara berinteraksi dengan anak didik dan wawasannya tentang bidang yang ditekuninya. Kalau ini diberlakukan, guru yang mendapatkan sertifikat adalah guru yang profesional," ujarnya.

Selain masalah dokumen portofolio, kata Iwan, jatah guru yang mendapatkan sertifikat yang berbeda-beda di masing-masing daerah mengandung unsur ketidakadilan.

"Guru yang berada di daerah terpencil, kuotanya lebih banyak daripada guru yang berada di kota besar. Ini akan menjadi kecemburuan bagi guru-guru yang lain," kata Iwan yang berprofesi sebagai guru di Kota Bandung.

Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI), Unifah Rosyidi, sehari sebelumnya juga mengatakan sertifikasi guru perlu dievaluasi karena masih diwarnai kecurangan dalam pelampiran dokumen portofolio. "Pemalsuan dokumen seperti sertifikat guru dalam forum ilmiah masih banyak dilakukan oleh guru," ujarnya.

Menurut dia, banyak guru menginginkan kelulusan dengan cara curang seperti memalsukan dokumen portofolio tersebut. Oleh karena itu, Depdiknas dan Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) yang ditunjuk perlu memperbaiki penilaian keaslian dokumen dan menindak tegas setiap pelanggaran, sosialisasi kepada guru juga perlu ditingkatkan.

Program sertifikasi guru diharapkan mampu mengutamakan peningkatan mutu guru dalam pembelajaran sehingga memberikan manfaat kepada anak didik.

Unifa Rosyidi yang juga ketua Tim Monitoring dan Evaluasi Independen Serifikasi Guru, mengatakan dari hasil evaluasi sertifikasi guru ditemukan penilaian portofolio yang sulit dipenuhi guru, yakni karya pengembangan profesi, partisipasi forum ilmiah dan penghargaan di bidang pendidikan.

Tim secara komprehensif memberikan rekomendasi kepada pemerintah untuk peningkatan pelaksanaan sertifikasi guru bagi sekitar 2,7 juta guru.

Sebelumnya, pengamat pendidikan, Utomo Dananjaya, menilai keharusan pemenuhan sertifikasi guru dalam upaya meningkatkan mutu pendidik dan tenaga pengajar baru sebatas pemenuhan kewajiban.

"Sebagian guru masih menganggap sertifikasi sekadar untuk memenuhi kewajiban saja, sedangkan masalah perbaikan mutu masih dalam proses dan butuh waktu," kata Utomo di Jakarta, Senin (11-5).

Dia berpendapat sertifikasi guru baru dimanfaatkan untuk mendapatkan tunjangan profesi, belum ke arah peningkatan mutu pendidikan. Utomo berharap program sertifikasi guru tidak hanya menjadi sekadar pemenuhan formalitas, tetapi diikuti juga program untuk peningkatan kualitas sistem pengajaran.

Menanggapi pandangan kenaikan kesejahteraan para guru belum bisa meningkatkan mutu pendidikan, pengamat Universitas Paramadina ini langsung menolak keras.

Sementara itu, bagi guru yang tidak lulus sertifikasi masih memiliki kesempatan dengan mengikuti pendidikan dan latihan profesi guru (PLPG) yang diselenggarakan perguruan tinggi untuk meningkatkan ilmunya, belajar teori tentang penguasaan teknis cara mengajar serta belajar berinteraksi. n S-1

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar diisi disini