Media Indonesia, 22 Juni 2015

Sekolah gratis bagi kaum tidak mampu disarankan untuk memiliki sumber dana mandiri agar dapat terus berkembang. Dengan demikian, operasional mereka tidak perlu lagi bergantung dari para donatur. Cendikiawan muslim Haidar Bagir pada pelatihan bagi pengajar di sekolah gratis, Jumat (19/6) mengatakan, jangan sampai pada setiap akhir bulan pengelola pusing mencari dana untuk para pengajar.

Dia menambahkan, sangat sulit bagi sekolah gratis untuk terus berkembang jika hanya mengandalkan pendanaan dari kemurahan hati donatur. Pasalnya, alokasi dana yang didapatkan tidak tetap. Hal itu sempat dirasakan sendiri oleh Haidar, yang memiliki sekolah gratis di bawah kepengurusan Yayasan Amal Khair Yasmin.

Berkaca dari pengalaman itu, yayasan yang dia pimpin pun membentuk badan usaha sendiri. Sebagian keuntungan badan usaha itu diperuntukkan bagi biaya operasional sekolah gratis. Salah satunya bergerak di bidang jual beli barang bekas berkualitas.

Selain itu, lantaran jumlah finansial yang terbatas, sekolah gratis harus selektif dalam memilih calon siswa yang akan masuk. Jangan sampai, siswa yang masuk ternyata berasal dari keluarga yang mampu. Terakhir, lanjut Haidar, agar dapat terus berkembang, kualitas pengajarnya juga harus terus ditingkatkan. Caranya, bisa mendaftarkan para pendidik tersebut ke tempat-tempat pelatihan, seminar, dan beasiswa. Dengan memiliki pendidik berkualitas, otomatis juga akan berdampak pada kualitas siswa yang diajar.

Pada kesempatan serupa, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menyatakan kementeriannya memiliki sarana dalam membantu sekolah gratis. Secara khusus, dirinya juga memberika apresiasi kepada penyelenggara sekolah gratis. Gerakan tersebut, sambung Anies, menunjukkan ada sebuah kepedulian masyarakat terhadap pendidikan di Indonesia.