INFO HIDUP SEHAT

Minggu, 29 Maret 2015

TOT Ditunda Pak Elizar Kecewa.

Mendengar penudaan pelaksanaan TOT PKP SPM Dikdas untuk kesekian kalinya dari waktu semula yang diharapkan, Pak Elizar sebagai Koordinator Sekretariat PKP SPM Dikdas Kabupaten OKU Timur sangat menyesalkan, dan rasa kecewa yang sulit disembunyikannya.
Ada tiga program yang sebenarnya dananya sudah siap dan sudah ada di Kass Sekretariat untuk dilaksanakan pada triwulan pertama ini terpaksa ditunda dan baru akan dilaksanakan pada Triwulan 2 yang akan datang.

Kita tahu bahwa dengan ditundanya pelaksanaan program PKP SPM Dikdas itu bukan saja menunda Program PKP SPM Dikdas, tetapi jga berarti menunda program lainnya yang dikelola Pak Elizar. Penundaan tiga program ini sangat memberatkan karena keuangannya sudah disetujui, dan berarti akan terjadi perubahan jadual. Dan sudah dapat dipastikan program ini banyak tertuda. Memang Pak Elizar sebelumnya telah diwanti wanti agar segera melaksanakan Program PKP SPM Dikdas karena sesegera mungkin, agar tidak merepotkan ketika tahapan pelaporan dan permintaan penggantian dana.

Tetapi nampaknya setelah Pak Elizar mengikuti saran saran itu ternyata justeru penundaan datang dari Jakarta yaitu tertundanya TOT dari rencana awal, hingga beberapa kali. Dan ini bagi Pak Elizar adalah sesuatu yang akan sangat menyulitkan bagi Dinas untuk melaksanakan tahapan aktivitas seperti petunjuk yang selama ini pernah diterimanya. Maka wajar saja bila Pak Elizae  kecewa, sya kecewa dan bingung, kata Pak Eli biasa beliau disapa mengalkhiri percapak lewat celuler.

Sabtu, 28 Maret 2015

USAID Encourages Teachers to Aply Method Promting Students To Think



USAID Encourages Teachers to Apply Method Prompting Students to ThinkRepublika, page 5
United States Agency for International Development (USAID) Indonesia of education field held training and guidance to encourage primary school (SD) and junior high school (SMP) teachers in West Java (Jabar) and Banten to apply methods of learning that build students to think and be creative.
Professional Vision Coordinator of West Java-Banten Province Rifki Rosyad said the activity for teachers  would later prompt them to train students to think since early on and to be productive. The event involved 78 SD and SMP teachers throughout West Java and 53 teachers representing schools in Banten.
The event which took place for three days emphasized more on the system of literacy, reading, speaking, writing, and listening, then presenting.  So far, the method of lessons applied in a number of schools gives the impression that it does not provide challenges for students both to think in the search for new knowledge as well as for problem solving.
Teacher Training Institute Development Specialist of West Java-Banten Province expects this workshop could produce good teachers that could train students to think from early on. The event is expected to broaden perspective of educational methods for teachers, so they could apply productive training methods in their respective schools.

Jumat, 27 Maret 2015

Selesaikan Dillema Guru Olahraga



Rakor Peningkatan Kapasitas Penerapan (PKP)  Standar Pelayanan Minimal  (SPM)  Pendidikan Dasar (Dikdas)  Kabupaten Oku Timur beberapa waktu yang lalu menyisakan sebuah dillema bagi guru Olahraga, di mana dalamrangka memenuhi standar kualifikasi para guru  olahraga dan sekaligus guna meningkatkan ketercapaian SPM Dikdas maka para guru olahraga dan termasuk diantaranya guru olahraga SD dan SMP berusaha menempuh pendidikan yang lebih tinggi yaitu Strata 1. Apa lacur setelah study diselesaikan  gelar sarjanapun diraih tetapi mereka terganjal oleh suatu peraturan yang belum terpenuhi kreterianya, sehingga status sarjana  itu masih belum dapat memenuhi standar kualifikasi sebagaimana  kehendak regulasi yang ditetapkan, mereka secara administratif masih belum dianggap berijazah S1.

Kamis, 26 Maret 2015

Kekurangan Jam Mengajar Para Guru

Dalam acara sosilisasi SPM Dikdas justeru banyak guru memanfaatkannya untuk  mengeluhkan kekurangan jam mengajar ketika kurikulum 13 ditarik dan digantikan kembali dengan kurikulum KTSP, tidak tidak tanggung tangung kekutrangan jam mengajar ini akan mengancam keberlangsungan mengalirnya tunjangan profesi ke pundi pundi para guru itu. Hal tersebut jelas saja akan sangat mengusik ketentraman dan kenyamanan guru dalam melaksanakan tugasnya sehari hari itu.
Masalah melengkapi jam mengajar sebagai persyaratan pembayaran tunjangan profesi itu dahulu pernah disiasati dengan kelas kelas fiktif, kelas kelas belajar dipecah sedemikian rupa sehingga seolah olah para guru harus melakukan aktivitas pembelajaran di banyak kelas dan tidak harus mencari peluang honorarium di sekolah sekolah swasta. Pernah terjadi ada guru yang terpaksa mengajar di sekolah swasta demi untuk mencukupi jamnya dalam mengajar. Itu itu banak guru yang rela tidak dibayar oleh Yayasan, dan tidak sedikit juga yang terpaksa meninggalkan kegiatan ekstra di sekolah masing masing karena haruis mengajar di sekolah swasta lainnya, juga demi ketercukupan jam mengajar.
Tetapi kabar gembira menyebutkan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  akan mengeluarkan Permendibud  terkait kekurangan jam mengajar ini. Walaupun Permen itu hanya berlaku terbatas, hingga diberlakukannya kembali Kurikulum 2013 kembali, semoga Permen itu benar benar dapat menyelamatkan keberlangsungan hepeng tunjangan profesi ke pundi pundi.
KLIK ALAMAT INI : http://www.kuambil.com/2015/03/23/mendikbud-akan-mengeluarkan-permendikbud-khusus-guru-yang-kekurangan-jam-mengajar/

Selamat Datang Pakar Pendidikan Provinsi Sumsel.



Bila tidak ada aral yang melintang Insya Allah pada tanggal 06 April  yang akan datang akan diselenggarakan  Training  Of  Trainer (TOT) Peningkatan Kapasitas Penerapan (PKP) Standar Pelayanan Minimal (SPM) Pendidian Dasar (Dikdas) di AZZA Hotel Palembang. TOT ini rencananya akan diikuti oleh 16 Orang pakar pendidikan yang berada di daerah Sumsel, mereka terdiri dari Widyaiswara baik Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP} Sumsel  maupun Balai Pendidikan dan Pelatihan Keagamaan Kemenag Palembang serta sejumlah Pengawas Sekolah.
Kegiatan ini di awali dengan upaya penjaringan yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan dengan suratnya nomor 264/G/KP/2015 tanggal  22 Januari 2015. Yang dikirim ke 16 Dinas Pendidikan Provinsi serta sejumlah LPMP dan BDK Kemenag, alhasil sukses  menjaring peminat yang cukup membeludag Sehinga terpaksa banyak peminat yang  tak terakomodir motivasinya untuk mengikuti program ini. Tentu saja permohonan maaf patut disampaikan kepada

Rabu, 25 Maret 2015

Kurikulum 2013 Terus Digodok


Media Indonesia, 

Curriculum 2013 Continues to be DeliberatedPemerintah masih menerima masukan dari seluruh pelaku pada ekosistem pendidikan mulai siswa, guru, ahli, orangtua, dunia usaha, hingga asosiasi profesi untuk penyempurnaan kurikulum nasional ke depan.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Anies Baswedan mengharapkan, lahir kurikulum nasional yang menciptakan pengalaman belajar menyenangkan dan menantang untuk siswa.
Anies menginginkan kurikulum nasional yang lahir mampu mendorong percepatan mutu sekolah serta memberi keleluasaan pada guru untuk mengembangkan proses dan alat belajar bermutu dan beragam sesuai dengan potensi lokal.
Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud Ramon Mohandas, menambahkan, keterlibatan publik diharapkan dapat menghasilkan pemahaman bersama dan dokumen kurikulum yang solid. Harapannya pengembangan kurikulum nasional dapat diterapkan bertahap di lebih banyak sekolah rintisan mulai tahun ajaran 2016/2017.


Selasa, 24 Maret 2015

Banyak Guru Tak Sesuai Kompetensinya





Minimnya jumlah guru yang berada di daerah membuat setiap guru kerap mengajar tak sesuai dengan ilmu yang mereka miliki. Hal ini dilakukan agar setiap murid khususnya yang berada di sekolah dasar (SD) bisa merasakan semua pelajaran yang wajib mereka serap.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan (Sulsel) Salam Soba tidak memungkiri bahwa di Sulsel masih banyak guru SD mengajar berbagai pelajaran. Padahal, mereka tidak mempunyai kompetensi di bidang itu.
Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti mengatakan, FSGI juga menyoroti permasalahan belum meratanya penyebaran guru yang menyebabkan banyak guru mengajar bukan pada bidang asalnya.
Retno menambahkan, ada dua hal penyebab hal tersebut diatas yaitu, yang pertama, guru yang sesuai dengan bidangnya tidak memiliki jam pelajaran, seperti guru TIK dan guru bahasa Inggris. Yang kedua, kurangnya guru pada mata pelajaran tertentu sehingga membuat guru yang ada mengajar beberapa mata pelajaran. Pihaknya meminta pemerintah untuk melakukan pemetaan.
Sementara itu, Direktur Pembinaan Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Sumarna Surapranata mengatakan, guru bisa merangkap satu mata pelajaran asal satu rumpun yaitu satu bidang yang hampir sama, seperti matematika dengan fisika, kimia dan ekonomi. Dalam Permen No 62/2013 menyatakan bahwa guru tidak diperbolehkan mengajar mata pelajaran yang jauh berbeda dengan bidangnya.
Sumber : Harian Republika.