Monday, 15 August 2016

Ribuan Alumni Hadiri Pelantikan IKA ALUMNI IAIN Rd. Intan Bandar Lampung


Bandar Lampung: Ribuan alumni Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Intan Lampung padati Gedung Serba Guna (GSG) dalam agenda Reuni Akbar IAIN yang dibalut Pelantikan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) IAIN Raden Intan Lampung, Sabtu (13/8). Prof. Dr. H. Moh. Mukri, M.Ag secara resmi melantik IKA IAIN Raden Intan Lampung.
Dr. H. Abdurrahman, M.Ag disela-sela pembacaan undian mengatakan “Reuni Akbar alumni IAIN bersamaan dengan semangat hari Kemerdekaan RI ke-71, ini diharapkan menjadi tonggak awal kemajuan IAIN Raden Intan Lampung yang tidak akan lama lagi akan bertransformasi menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Kami pengurus IKA IAIN dan panitia sengaja mengemas dengan sangat menarik dengan banyak door prize mulai dari smart phon, TV kulkas sampai umroh dan lain-lain. Pokoknya reuni akbar alumni IAIN tahun pertama ini akan tampil beda dan memiliki kesan yang sangat positif.”
Prof. Dr. H. Moh. Mukri, M.Ag dalam sambutannya mengatakan “Saya sangat mengapresiasi kerja keras panitia yang telah membuat acara pada hari ini begitu meriah, saya melihat kanan kiri belakang saya sebagian besar pada selfie dan ngobrol masing-masing bersama sahabat lama, dan saya tidak melarangnya, karena mungkin sudah berpuluh-puluh tahun tidak bertemu rasanya tidak sempurna bila tidak selfie dan menceritakan perjuangan pasca kuliah.”


Wednesday, 10 August 2016

SERAHKAN SESUATU ITU KEPADA AHLINYA

JIKA TIDAK MAKA TUNGGULAH KEHANCURANNYA


Demikian sibuk dan gencarnya mendiang Presiden Soekarno menjelaskan dan mempertahan keyakinannya akan kebenaran teorinya bahwa konsep Nasakom (Nasional, Agama dan Komunis) bisa dipersatukan dan dapat berperan sebagai jembatan emas menuju kesejahteraan bangsa, dan pemikiran itu selalu dituangkan dalam pidatu pidato diberbagai kesempatan, dan salah satu pidato itu kita kenal berjudul "Nawacita". Segencar itu kampanye diselenggarakan dalam rangka membentuk karakter building, dilain pihak penghianatan demi penghianatan PKI melakukan kecurangan dan bahkan pemberontakan seolah sebagai antitesa dari pidato bagus yang disampaikan Presiden, walaupun PKI sendiri sebenarnmya memiliki dalih filosofi yang tentu saja diwarnai oleh pemikran Refolusi mental ala komunis Karl Marx.

Jumlah penduduk yang masih ada 99%-an yang buta huruf adalah kesulitan tersendiri bagi masyarakat banyak itu tentang makna mendalam dari pidato piodato Presdien yang sarat makna itu, dan seringan itu pula ulah PKI seolah mengatakan bahwa satu satunya jalan menuju kesejahteran adalah dengan paham Komunis, bukan Nasakom. Masyarakat yang relatif kurang pendidikan itu tentu saja banyak terumbang ambing karena ulah PKI.

Pesan Rasul dalam sebuah haditsnya yang ternyata tak pernah usang itu mengatakan: Sesuatu itu serahkan kepada ahlinya, jika tidak maka tunggulah lehancurannya". Maka itu barangkali yang ingin saya tuliskan dalam tul;isan sederhana ini, terkait gagasan Presiden Jokowi bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita yang baru, yaitu Bapak Muhajir Efendi yang tiga hari terakhir ini menjadi sasaran bulan bulanan masyarakat, diberbagai media, dan tak terhingga lagi di dunia media sosial.

Langkah Menteri Muhajir Effendi dalam rangka melaksanakan Nawacita yang tentu juga Revolusi mental seperti yang pernah diucapkan oleh Presiden Jokowi itu seyogyanya dilakukan secara konsepsional, jangan dadakan dan seolah memaksakan, seperti halnya beberapa langkah Presiden yang ujung ujungnya dinilai tidak sesuai dengan aturan yang ada. Belajar dari kritik saran masyarakat, hendaknya itu pula yang dipetik sebagai pelajaran oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Efendi.

Saturday, 6 August 2016

Perlunya Pendidikan Live Skill

Munculnya fenomena Ahok dalam kancah politik dan dalam waktu bersamaan membanjirnya investor China serta berdatangannya tenaga kerja dari China secara tak terkontrol, saran dan masukan telah disampaikan orang melalui media massa namun sejauh ini nampaknya tak ada reaksi dari Presiden Jokowi, bahkan nampaknya Indonesia sedang membuka kran selebar lebarnya kepada Cina. Maka tak salahnya bila kita terpaksa harus belajar banak kepada Tibet, yang dalam waktu puluhan tahun China datang bak Sinterclas memberikan bantuan demi kemajuan Tibet, tetapi setelah pembangunan itu dianggap telah memiliki hasil yang memadai Tibet dikejutkan ternyata tenaga kerja yang banyak bertebaran di Tibet adalah anggota Angkatan Bersenjata China sehingga bukan hanya uang yang disodorkan, tetapi dalam waktu yang bersamaan mereka juga menodongkan senjatanya, alhasil Tibet dikuasai sepenuhnya.

Tak apalah kita berbicara pahit dengan pihak China, agar mereka mengurungkan niatna bila memang terprogram secara tersembuni rencana besar dibalik Ahok, modal besar dan tenaga kerja China di Indonesia. Masyarakat China sudah ratusan tahun berada di Indonesia, tetapi mereka berhasil menjaga ketertutupan mereka selama berabad abad dan asimilasipun tidak berjalan mulus.

Secara politis, para politisi kita benar benar lali, mereka tak sadar telah memberikan jalan lebar bagi meningkatnya peran China, bukan hanya dalam bidang perniagaan semata, tetapi juga dalam bidang pendidikan dan bahkan Pemerinmtahan. Bila kita ingin jujur minimal kepoada diri sendiri maka kita harus mengakui bahwa dalam Pilpres, Pilkada Provinsi dan Pilkada Kab/ Kota maka modal asing banyak berseliweran, yang membuat ketergiuran para calon, tidak kita sadari dan bahkan kita kira hanya masalah kecil belaka, ternyata para pemilik modal itu kini telah menguasai sebagain besar lahan perkebunan, serta seenaknya menurunkan harga hasil perkebunan, tampa memberikan kesempatan kepada Pemerintah untuk mengantisipasi segala sesuatunya. Secara politik kita haya nol besar, maka satu satunya kekuatan terakhir kita adalah melalui dunia pendidikan.

Mengenal Fungsi Pengawas Sekolah



Keberadaan pengawas sekolah, seperti silent actor, meski tidak pernah terlihat namun mereka memiliki peran yang besar melakukan pengawasan pada sekolah-sekolah. Pengawas sekolah berlaku sebagai pengelola pendidikan dan sekaligus pemimpin pedagogis atau ‘pemimpin pembelajaran’. Mereka bertugas untuk memastikan bahwa standar pendidikan dilaksanakan, dengan cara melakukan inspeksi dan evaluasi, memberikan nasihat, bimbingan, dan dukungan bagi guru dan kepala sekolah.
Pengetahuan semacam itu akan penting untuk mendukung guru dalam mencapai perubahan paradigma seperti yang diusulkan oleh Kurikulum 2013, yang ditandai oleh pembelajaran yang interaktif dan penilaian berbasis kelas yang efektif (classroom based assessment). Sayangnya, sebuah kajian oleh Australia-Indonesia Basic Education Project menemukan, bahwa pengawas memiliki sejumlah kekurangan dalam pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk meningkatkan proses pendidikan, salah satu yang utama adalah pembelajaran murid.
Dalam survei yang dilakukan Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP) Indonesia menemukan bahwa pada umumnya pengawas dinilai tinggi untuk kompetensi “Sosial” dan “Kepribadian” dan rendah untuk “Penelitian” dan “Pengawasan Akademik”, dengan cukup banyak variasi antar daerah. Hal ini berarti, bahwa pengawas ditemukan kurang memiliki kompetensi seperti memberikan saran kepada guru tentang pembelajaran yang efektif, termasuk menganalisa dan menggunakan data kinerja untuk meningkatkan mutu dan hasil pendidikan.
Menurut Garti Sri Utami, Direktur Pembinaan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar dan Menegah Kemendikbud, tugas pengawas juga berperan sebagai pembelajar bagi kepala sekolah maupun guru. Karena itu, pengawas juga harus mengikuti uji kompetensi guru (UKG) karena kompetensi yang dimiliki guru juga harus melekat pada pengawas. Ia menambahkan, pengawas mengikuti UKG juga untuk menjaga kompetensi akademiknya. Supaya dia bisa melakukan supervisi terhadap guru. Kemampuannya juga terjaga sesuai dengan sertifikat pendidik yang dimilikinya.

Aktivis Menyarankan Agar Budaya Lokal Diajarkan Di Sekolah

Jakarta Post  5 Agustus 2016

Seorang aktivis hak masyarakat adat mengatakan, kearifan dan budaya lokal perlu diajarkan di sekolah guna meningkatkan kesadaran siswa tentang budaya yang ada di sekitar mereka.
Wakil Sekretaris Jendral Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Rukka Sombolinggi mengatakan, memperkenalkan kepada siswa tentang kearifan dan budaya lokal sangat penting dalam mendidik masyarakat Indonesia mengenal budaya yang mereka miliki dan masyarakat adat yang ada di sekitar mereka.
Dia mengatakan para siswa akan lebih mengenal keragaman yang ada di lingkungan sekitar mereka, terutama jika terdapat siswa yang merupakan penduduk asli di sekolah mereka, para siswa tersebut dapat belajar secara langsung belajar mengenai adat istiadat dan tradisi penduduk asli disana.
Direktur Pembinaan Kepercayaan terhadap Tuhan YME Kemendikbud, Sri Hartini mengatakan, sejak empat tahun lalu pihaknya telah mendesak para guru di berbagai daerah untuk memberikan pelajaran pengenalan budaya lokal kepada siswa mereka sebagai bagian dari pelajaran muatan lokal di sekolah. Lebih lanjut ia mengatakan, para guru pelajaran muatan lokal untuk tingkat SD, SMP, dan SMA di beberapa provinsi telah berupaya untuk berbagi informasi satu sama lainnya mengenai budaya lokal mereka, diantaranya adalah para guru yang ada di Jawa Timur, Sumatera Barat, dan Kalimantan.
Lebih lanjut lagi Sri menjelaskan, bahwa pihaknya pada tahun ini akan memberikan pelajaran pengenalan budaya lokal untuk para guru di daerah Jawa Barat dan Sulawesi Tengah. AMAN memperkirakan bahwa terdapat lebih dari 70 juta penduduk asli di seluruh Indonesia